NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Situasi demonstrasi penolakan Pergub Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) jilid III di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (13/5/2026), berlangsung ricuh hingga berujung pada penangkapan sejumlah massa aksi. Salah seorang demonstran, Zaki, menceritakan kronologi ketegangan yang terjadi sejak sore hingga malam hari.
Menurut Zaki, massa aksi awalnya mulai mencoba masuk ke area Kantor Gubernur Aceh sekitar pukul 16.00 WIB atau usai salat Asar. Namun upaya pertama itu gagal setelah aparat kepolisian menahan massa di pintu gerbang.
“Pertama kali kami mendesak untuk masuk sekitar jam empat sore. Tapi enggak dikasih masuk,” ujar Zaki kepada Nukilan di lokasi aksi, Rabu (13/5/2026) malam.
Setelah upaya pertama gagal, massa kembali berkumpul dan mendapat tambahan dukungan dari sejumlah aliansi mahasiswa dan kelompok massa lainnya. Sekitar setengah jam kemudian, demonstran kembali mencoba menerobos masuk ke halaman kantor gubernur.
Dalam upaya kedua tersebut, massa sempat mendekati pintu utama kantor gubernur. Namun aparat kepolisian yang menggunakan tameng mendorong balik demonstran sehingga massa memilih mundur untuk menghindari korban luka.
“Kami hampir masuk ke pintu gubernur, tapi polisi yang pakai tameng itu dorong balik. Kami takut ada yang luka atau dipukul, jadi mundur lagi,” ujarnya.
Meski sempat terpukul mundur, koordinator lapangan aksi kembali meminta massa maju ke depan teras kantor gubernur. Massa kemudian berkumpul sambil menunggu demonstran lain yang sempat terpencar.
Pada percobaan berikutnya, demonstran disebut sempat berhasil memasuki area teras kantor gubernur. Namun situasi kembali memanas ketika aparat kepolisian bergerak maju membubarkan massa.
“Yang pakai tameng itu masuk lagi ke dalam, terus keluar lagi maksa mundur kami,” kata Zaki.
Kericuhan semakin pecah ketika polisi mulai mengerahkan kendaraan water cannon untuk membubarkan massa. Semprotan air menyebabkan demonstran terpencar di sejumlah titik di depan kantor gubernur.
“Water cannon sudah siap dari awal. Massa jadi pecah setelah diserang water cannon,” ujarnya.
Zaki menuturkan situasi paling kacau terjadi menjelang waktu Magrib. Saat itu, aparat kepolisian meminta massa membubarkan diri dengan alasan waktu aksi telah melewati batas.
Menurutnya, aparat kemudian memukul mundur demonstran menggunakan barisan tameng, water cannon, hingga gas air mata.
“Puncak chaos itu dari pihak kepolisian sendiri. Polisi maju, water cannon ditambah, terus ada gas air mata juga,” katanya.
Dalam situasi ricuh tersebut, sejumlah demonstran diamankan aparat. Zaki mengaku melihat langsung sedikitnya empat orang ditangkap saat kericuhan berlangsung.
“Saya lihat ada empat orang ditangkap. Mereka sudah dipegang tangan sama polisi,” tuturnya.
Hingga malam hari, massa aksi mengaku belum memperoleh kepastian terkait identitas maupun lokasi para demonstran yang diamankan. Konsolidasi antar massa aksi disebut masih berlangsung untuk mencari informasi terkait penangkapan tersebut.
Amatan Nukilan, hingga malam hari petugas kepolisian masih melakukan penyisiran di sejumlah titik sekitar kantor gubernur untuk mencari massa aksi. []
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News
Reporter: Sammy

