Taman Putroe Phang: Ruang Sunyi, Cinta, dan Kejayaan

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Di jantung Banda Aceh, waktu seakan berjalan lebih lambat ketika senja mulai merayap turun di Taman Putroe Phang. Angin berembus lembut, menyapu dedaunan rindang yang menaungi taman, sementara cahaya keemasan menyelinap di antara pepohonan, menciptakan suasana yang menenangkan sekaligus romantis.

Taman itu tampak hidup, tetapi tidak riuh. Sebuah kolam berada di tengah, dikelilingi pepohonan yang menjulang dan jalur pejalan kaki yang tertata rapi. Di atas permukaan air, bayangan langit senja berpendar pelan.

Di sanalah orang-orang datang, bukan sekadar untuk duduk, melainkan untuk menemukan jeda dari hiruk-pikuk kota.

Namun, Taman Putroe Phang bukan sekadar ruang hijau biasa. Ia menyimpan kisah lama tentang cinta dan kekuasaan.

Dari literatur yang penulis baca, taman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17 untuk permaisurinya, Putri Kamaliah, yang berasal dari Kerajaan Pahang, Malaysia. Di masa itu, taman ini menjadi ruang pribadi, tempat sang putri mengusir sepi ketika sultan sibuk mengurus kerajaan.

Jejak sejarah itu masih dapat dilihat hingga kini. Di tengah taman berdiri bangunan putih yang mencolok, sementara di salah satu sisinya terdapat Pinto Khop, gerbang kecil berkubah yang dahulu menjadi penghubung taman dengan kompleks istana.

Konon, di sinilah Putroe Phang beristirahat setelah berenang, ditemani dayang-dayang istana. Air yang mengisi kolam taman pun berasal dari Krueng Daroy, menambah nuansa alami yang masih terjaga.

Pada Sabtu sore, 11 April 2026, suasana taman terasa seperti apa yang dibaca oleh penulis dari literatur tersebut. Tapi kali ini tampak lebih hangat oleh tawa anak-anak. Zayid (7) dan Althaf (10) berlari riang di antara pepohonan, sesekali berhenti untuk melihat air kolam atau sekadar mengejar bayangan mereka sendiri. Di kejauhan, sang ibu, Liana, mengawasi dengan senyum tenang.

Saat berbincang dengan Liana, ia mengungkapkan bahwa baginya taman ini bukan sekadar tempat rekreasi keluarga. Ia menjadikannya ruang belajar yang hidup bagi anak-anaknya.

“Di sini mereka bukan hanya bermain, tapi juga belajar tentang sejarah Aceh,” ujarnya.

Tak lama kemudian, kedua anak itu menghampiri ibunya dengan napas tersengal. Liana lalu menunjuk ke arah Pinto Khop, menceritakan bagaimana tempat itu dahulu digunakan oleh Putroe Phang. Di tengah penjelasan sederhana itu, sejarah terasa dekat—tidak lagi kaku dalam buku pelajaran, melainkan hadir di ruang terbuka yang bisa disentuh dan dirasakan.

Kini, fungsi taman telah berkembang. Selain menjadi simbol sejarah, Taman Putroe Phang juga menjadi ruang publik yang akrab bagi warga kota. Setiap pagi dan sore, orang-orang datang untuk berolahraga, berjalan santai, atau sekadar menikmati udara yang lebih bersih.

Ridwan, warga Peuniti, mengaku rutin datang untuk berjogging.

“Tempatnya sejuk, nyaman untuk olahraga,” katanya singkat.

Di sisi lain, taman ini juga menjadi magnet bagi para pecinta fotografi. Lanskapnya yang estetis membuatnya kerap dipilih sebagai lokasi berburu foto, bahkan sesi prewedding. Bagi sebagian anak muda, taman ini juga menjadi ruang alternatif untuk belajar dan berdiskusi.

Aisyah, seorang mahasiswi, mengaku betah berlama-lama di taman ini.

“Pohon-pohonnya rimbun, tidak panas. Enak untuk santai setelah kuliah,” katanya, duduk di bangku yang menghadap kolam.

Terletak di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, taman ini menjadi bagian dari jejak panjang kejayaan Kesultanan Aceh yang dahulu membentang di sepanjang Krueng Daroy. Kini, jejak itu tetap hidup, menyatu dengan aktivitas masyarakat modern.

Meski tidak dipungut biaya, fasilitas yang tersedia cukup lengkap. Mulai dari area bermain anak, jalur pejalan kaki, hingga mushalla dan panggung terbuka. Semua itu menjadikan taman ini ramah bagi siapa saja—dari anak-anak hingga orang tua.

Taman ini dibuka setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Namun bagi sebagian orang, waktu terbaik untuk datang adalah saat senja, ketika cahaya perlahan meredup dan angin menjadi lebih sejuk.

Di saat itulah, Taman Putroe Phang menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan. Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini—tempat di mana sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dirasakan.

Dan di tengah langkah-langkah ringan para pengunjung yang datang dan pergi, taman ini seolah berbisik pelan: bahwa cinta, seperti yang pernah dititipkan Sultan Iskandar Muda kepada Putri Kamaliah, tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berubah wujud, menjadi kenangan yang terus hidup di antara rindangnya pepohonan. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img

Read more

Local News