Sosok Ratnalia Indriasari: Perempuan Penggerak Data dan Narasi di Aceh

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Di sudut Ballroom Hotel Ayani, Banda Aceh, Kamis siang itu, suasana uji kompetensi wartawan berlangsung serius namun hangat. Di antara para peserta, seorang perempuan berkacamata mencuri perhatian bukan karena suara lantangnya, melainkan karena ketenangan yang menyertai setiap kalimat yang ia ucapkan.

Ia tidak tergesa, tetapi setiap jawaban yang keluar terasa runtut, terukur, dan penuh keyakinan.

Dalam forum yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia Aceh bersama LUKW Universitas Muhammadiyah Jakarta tersebut, ia tampil sebagai sosok yang menunjukkan bahwa ketajaman berpikir kerap lahir dari proses panjang, bukan sekadar pengalaman singkat di ruang redaksi atau ruang akademik.

Gesturnya sederhana. Namun dari cara ia menyusun argumen dan merangkai kalimat, terlihat jelas jejak perjalanan intelektual yang membentuknya hingga titik ini.

Di sela-sela kegiatan, Nukilan.id mencoba menghampirinya untuk menggali sosok dirinya lebih dalam. Perempuan itu adalah Ratnalia Indriasari, usia 44 tahun, Direktur Jaringan Survei Inisiatif sekaligus pendiri media siber dialeksis.com.

Dalam perbincangan, ia mengungkapkan bahwa dirinya bukanlah sosok yang sejak awal diproyeksikan menjadi peneliti maupun jurnalis. Jalan hidupnya justru mengalir perlahan, tumbuh dari pengalaman yang barangkali bagi sebagian orang tampak biasa.

“Kalau bicara flashback dari kecil, saya ini sebenarnya biasa-biasa saja,” kenangnya.

Ratnalia lahir di Jakarta, lalu besar di Depok. Masa kecilnya tidak diwarnai ambisi besar atau mimpi spesifik tentang masa depan. Namun, titik penting mulai terbentuk ketika ia menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Di sanalah ia mulai menemukan dunia yang kelak membentuk cara pandangnya.

Aktivisme kampus menjadi pintu masuk. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari bakti sosial hingga organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa. Dari ruang-ruang diskusi dan penyusunan proposal kegiatan, kemampuannya dalam menulis dan berpikir kritis mulai terasah.

Tidak hanya itu, ia juga ikut dalam berbagai penelitian bersama dosen, turun langsung sebagai enumerator hingga supervisor lapangan.

“Dari situ saya mulai mengenal dunia riset,” katanya.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi yang diam-diam mengarahkan langkahnya. Dunia riset yang awalnya hanya bagian dari aktivitas kampus perlahan menjelma menjadi pilihan hidup. Ketika banyak orang mengejar karier dengan peta yang jelas sejak awal, Ratnalia justru menemukan jalannya melalui proses yang tidak selalu linier.

Pilihan itu kemudian membawanya ke Aceh. Ia bercerita bahwa pertama kali datang ke Aceh karena bergabung dengan salah satu NGO pasca tsunami Aceh. Pengalaman tersebut membuka pandangannya tentang Aceh sebagai daerah yang menyimpan dinamika sosial dan politik yang kompleks, hingga akhirnya ia menetap dan membangun keluarga di Serambi Mekkah.

Pasca konflik panjang dan bencana tsunami, ruang politik di Aceh mengalami perubahan besar. Bagi Ratnalia, situasi tersebut bukan sekadar fase transisi, melainkan sebuah peluang untuk membaca arah baru perkembangan masyarakat.

“Setelah 30 tahun konflik, lalu hadirnya tsunami yang juga membuka ruang politik menjadi lebih dinamis,” ujarnya.

Di tengah perubahan itu, ia melihat satu kekosongan. Dunia riset, khususnya survei politik, masih didominasi lembaga dari luar daerah, terutama Jakarta. Perspektif lokal belum sepenuhnya mendapat ruang. Dari kegelisahan itu, lahirlah Jaringan Survei Inisiatif.

Bersama sejumlah kolega, ia membangun JSI bukan sekadar sebagai lembaga survei, tetapi sebagai upaya menghadirkan suara lokal dalam membaca realitas Aceh. Visi yang ia bawa sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Ia ingin riset tidak selalu berbicara dengan sudut pandang luar.

“Kami ingin survei itu tidak selalu berbahasa Jakarta,” ungkapnya.

Baginya, akademisi di Aceh memiliki kapasitas yang tidak kalah. Yang dibutuhkan hanyalah ruang dan keberanian untuk tampil. JSI kemudian menjadi wadah yang tidak hanya mengerjakan survei politik, tetapi juga berbagai kajian lain, mulai dari kepuasan masyarakat hingga riset transportasi.

Namun, membangun lembaga riset bukan tanpa tantangan. Salah satu yang paling terasa adalah soal metodologi. Perbedaan pendekatan, terutama dalam penentuan sampling, kerap memunculkan perdebatan dengan lembaga lain. Bagi Ratnalia, perbandingan itu justru menjadi ruang belajar.

“Di situ kita jadi tahu di mana kekurangan kita dan apa yang harus diperbaiki,” katanya.

Di saat yang sama, ia juga membaca perubahan besar dalam dunia media. Arus digital yang semakin deras menuntut cara baru dalam menyampaikan informasi. Dari situlah dialeksis.com lahir pada akhir 2018.

Media ini tidak ia rancang sebagai portal berita biasa. Dengan latar belakang riset yang kuat, Ratnalia ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dalam. Ia tidak ingin medianya hanya berisi laporan peristiwa, tetapi juga analisis yang memberi konteks dan makna.

“Kami tidak ingin hanya straight news. Kami ingin ada analisis, ada dialektika,” ujarnya.

Pendekatan tersebut memang tidak mudah. Tulisan mendalam membutuhkan waktu, tenaga, dan ketelitian lebih. Namun, bagi Ratnalia, itulah yang membedakan jurnalisme yang sekadar cepat dengan jurnalisme yang memberi pemahaman.

Tantangan lain datang dari dalam. Mengelola tim redaksi dengan latar belakang dan karakter yang beragam bukan perkara sederhana. Ia harus berdiri di tengah, menjaga keseimbangan agar visi tetap berjalan tanpa konflik yang merusak.

“Membangun tim itu tidak mudah. Kita harus bisa menjaga agar tetap seimbang,” katanya.

Seiring waktu, cara pandangnya terhadap pekerjaan juga berubah. Jika dulu ia cenderung idealis, kini ia mengaku lebih realistis. Kehidupan keluarga membuatnya melihat pekerjaan tidak hanya sebagai ruang aktualisasi, tetapi juga sebagai sumber kesejahteraan.

“Sekarang tentu berpikir bagaimana pekerjaan ini juga bisa menyejahterakan,” sebutnya.

Namun, kesejahteraan itu, baginya, tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ia menekankan pentingnya berbagi dengan tim.

“Kalau saya sejahtera, tim saya juga harus sejahtera,” tegasnya.

Di tengah kesibukan, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Anak-anaknya tumbuh dengan memahami ritme pekerjaannya. Bahkan, sejak kecil, mereka kerap ikut dalam aktivitasnya.

“Kadang mereka ikut saya bekerja. Jadi mereka lebih paham,” katanya.

Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang capaian profesional, tetapi juga tentang kemampuan menjaga harmoni antara pekerjaan dan keluarga. Hal-hal sederhana seperti mengantar anak menjadi bagian dari keseimbangan yang ia jaga.

Di sisi lain, Ratnalia melihat tantangan besar dalam dunia jurnalistik ke depan. Ia menilai, di tengah derasnya informasi, jurnalisme tidak bisa lagi berdiri di atas opini semata. Data harus menjadi fondasi utama.

“Kalau tidak setuju, balaslah dengan data. Jangan hanya berargumen kosong,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa data tidak boleh dipelintir untuk kepentingan tertentu. Bagi Ratnalia, integritas adalah kunci. Tanpa itu, jurnalisme kehilangan maknanya.

Pandangan tersebut ia tujukan pula kepada generasi muda, terutama perempuan. Ia melihat peluang terbuka lebar, tetapi tidak semua orang harus memilih jalan yang sama. Yang terpenting adalah kesiapan menjalani proses.

“Kalau memang ingin, jalani prosesnya. Jangan mudah mengeluh,” pungkasnya.

Ia percaya, lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk seseorang. Berada di sekitar orang-orang yang tepat dapat mempercepat proses belajar dan berkembang.

“Dekatlah dengan orang-orang sukses. Lingkungan itu akan membentuk kita,” tutupnya.

Dari seorang perempuan yang mengaku “biasa-biasa saja”, Ratnalia Indriasari menunjukkan bahwa jalan hidup tidak selalu harus dimulai dari rencana besar. Kadang, ia tumbuh dari keberanian untuk terlibat, belajar, dan bertahan dalam proses.

Di tengah dunia yang terus berubah, ia berdiri di persimpangan dua arus besar, riset dan jurnalistik, dengan satu keyakinan yang sama bahwa kebenaran harus diperjuangkan melalui data, dan pengetahuan harus disampaikan dengan cara yang bermakna serta mudah dipahami publik.

Setelah percakapan panjang itu usai, suasana ruangan masih tetap hidup. Sejumlah peserta masih terlihat berdiskusi, sebagian lain menyimak percakapan lanjutan yang mengalir di antara keramaian kecil itu.

Di tengah aktivitas yang belum benar-benar reda, Ratnalia Indriasari perlahan kembali ke ruang kerjanya. Ia membuka laptopnya lagi, seolah menyambung kembali alur pikir yang sempat terputus, merangkai data dan gagasan di tengah riuh yang masih mengisi ruangan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News