Kapolda Aceh Dorong Media Sajikan Informasi Menyejukkan dan Bangun Optimisme Publik

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh, Marzuki Ali Basyah, menegaskan pentingnya peran media dalam menjaga stabilitas informasi serta membangun ketenangan di tengah masyarakat, terutama di tengah isu keamanan, ekonomi, hingga kebencanaan di Aceh.

Hal tersebut disampaikan Marzuki saat menjadi narasumber dalam seminar pada kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar selama tiga hari, Rabu hingga Jumat, 15–17 April 2026, di Ayani Hotel, Banda Aceh.

Dalam paparannya, Kapolda menyoroti fenomena pemberitaan yang kerap membesar-besarkan suatu peristiwa hingga memicu persepsi negatif di tengah publik.

“Di Aceh ini sebenarnya aman-aman saja. Tapi kadang hal kecil bisa menjadi besar karena narasi yang terus diulang. Ini yang harus kita jaga bersama,” ujar Marzuki, Rabu (15/4/2026).

Ia mencontohkan, insiden kecelakaan tunggal yang terjadi pada malam hari dapat berkembang menjadi isu besar, seolah mencerminkan kondisi keamanan yang tidak kondusif.

“Kadang orang jatuh dari motor saja bisa jadi heboh satu kampung. Ini menunjukkan bagaimana persepsi publik bisa terbentuk dari informasi yang tidak utuh,” katanya.

Kapolda juga mengingatkan munculnya fenomena yang ia sebut sebagai “kebenaran baru”, yakni ketika informasi yang belum tentu benar terus diulang hingga dianggap sebagai fakta.

“Kalau sesuatu terus di-expose tanpa data yang kuat, lama-lama dianggap benar. Ini yang berbahaya. Media harus menjadi penyeimbang, bukan justru memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Menurutnya, media memiliki tanggung jawab besar dalam membangun optimisme masyarakat, termasuk dalam menghadapi tantangan ekonomi seperti inflasi. Ia mencontohkan tingginya mobilitas masyarakat saat Lebaran sebagai indikator daya beli yang masih kuat.

“Tahun ini, kendaraan yang keluar dari Banda Aceh mencapai sekitar 85 ribu. Artinya masyarakat masih punya kemampuan. Jadi jangan semua narasi dibuat seolah-olah kondisi ekonomi sangat buruk,” ujarnya.

Selain itu, Marzuki juga menyinggung fenomena laporan kejahatan yang tidak sepenuhnya sesuai fakta, seperti klaim pembegalan yang ternyata merupakan kecelakaan biasa.

“Ada yang mengaku jadi korban begal, padahal jatuh sendiri. Ini bisa mempengaruhi data dan persepsi keamanan. Kita harus hati-hati,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kondisi keamanan di Aceh secara umum masih terkendali dan relatif lebih baik dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga memaparkan pengalaman jajarannya dalam menangani bencana, termasuk banjir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Aceh. Menurutnya, tantangan utama pada masa awal bencana adalah keterbatasan data akibat terputusnya akses komunikasi dan distribusi logistik.

“Di hari pertama sampai ketiga, biasanya kita belum punya data lengkap. Karena itu, strategi awal adalah langsung kirim bantuan logistik dasar untuk bertahan hidup,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa saat ini pihaknya telah menyusun sistem mitigasi yang lebih terstruktur, termasuk pengelompokan bantuan berdasarkan kategori korban seperti bayi, anak-anak, hingga lansia.

“Kita tidak bisa lagi kirim bantuan secara umum. Harus spesifik. Bayi butuh makanan khusus, lansia juga berbeda. Ini yang sekarang kita siapkan,” ujarnya.

Kapolda juga menekankan pentingnya distribusi logistik yang tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah, seperti menghindari pembelian bahan pokok secara besar-besaran di satu wilayah.

“Kita harus pintar. Kalau semua dibeli di Banda Aceh, harga bisa melonjak. Maka kita distribusikan dari luar daerah agar ekonomi tetap stabil,” katanya.

Dalam situasi bencana, ia kembali menegaskan peran strategis media sebagai penyambung informasi antara pemerintah dan masyarakat, dengan tetap mengedepankan akurasi agar tidak menimbulkan kepanikan.

“Media itu menyatukan, membangun, dan memberi harapan. Jangan sampai justru menimbulkan ketakutan,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa keterbatasan akses di lapangan kerap menghambat arus informasi, sehingga diperlukan kolaborasi yang kuat antara aparat, pemerintah, dan insan pers.

“Kalau komunikasi putus, informasi juga terhambat. Di situ peran media sangat penting, tapi tetap harus berbasis data,” tambahnya.

Kapolda berharap peserta UKW dapat menjadi jurnalis yang profesional, berintegritas, serta mampu menyajikan informasi yang menyejukkan dan solutif bagi masyarakat.

“Kita ingin media di Aceh ini kuat, profesional, dan mampu membangun daerah. Jangan hanya mengejar sensasi, tapi hadirkan solusi,” tutup Marzuki. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News