Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”: Potret Sulitnya Mencari Kerja di Indonesia

Share

NUKILAN.ID | JAKARTA – Film Indonesia berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti tengah menjadi perbincangan di media sosial. Film ini mengangkat realitas pahit tentang sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia melalui tokoh utama bernama Arga.

Dalam cerita, Arga digambarkan sebagai pemuda yang berjuang keras demi mengubah nasib keluarganya. Ia merasa tertekan oleh kondisi ekonomi yang rendah serta perlakuan tidak menyenangkan dalam lingkungan keluarga besarnya. Tekadnya sederhana, ingin sukses dan mengangkat derajat orang tuanya.

Namun, perjuangan Arga bukanlah kisah fiksi semata. Fenomena yang ia alami mencerminkan realitas yang dihadapi banyak masyarakat Indonesia saat ini, terutama generasi muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Tingginya angka pengangguran di Indonesia dipicu oleh ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Kondisi ini membuat generasi Z menyumbang hingga 67 persen dari total pengangguran terbuka.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, mengungkapkan bahwa pembukaan lapangan kerja setiap tahun hanya berkisar antara 2 juta hingga 4,5 juta orang. Sementara jumlah pengangguran terbuka mencapai sekitar 9 juta orang.

“Kondisi ini membuktikan pencarian lapangan kerja saat ini semakin sulit. Sebab, rasio lapangan kerja dan pencari kerja telah naik dari 1:3 menjadi 1:16 saat ini,” kata Shinta pada November lalu seperti dikutip dari Katadata.

Menurutnya, banyak pengangguran akhirnya beralih ke sektor informal seperti berdagang, menjadi pengemudi ojek, atau pekerja lepas. Akibatnya, kontribusi sektor informal terhadap penyerapan tenaga kerja meningkat hingga 60 persen pada 2025.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh definisi “bekerja” yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS), di mana seseorang yang bekerja minimal satu jam per minggu sudah masuk kategori bekerja. Hal ini membuat angka pengangguran terselubung menjadi lebih besar dari data resmi.

Dilansir Nukilan.id, pengangguran terselubung merujuk pada kondisi seseorang yang secara administratif bekerja, tetapi memiliki produktivitas rendah atau tidak optimal. Kondisi ini sering terjadi karena pekerjaan tidak sesuai keahlian atau minimnya beban kerja.

Selain itu, banyak lulusan sarjana di Indonesia yang terpaksa “turun kelas” dengan bekerja di sektor informal. Data BPS menunjukkan bahwa dari 144,64 juta penduduk bekerja pada Agustus 2024, sebanyak 57,95 persen atau sekitar 83,83 juta orang bekerja di sektor informal.

Minimnya lapangan kerja formal juga terlihat dari data periode 2019–2024 yang hanya menciptakan 2,01 juta pekerjaan baru, jauh menurun dibandingkan periode 2014–2019 yang mencapai 8,55 juta pekerjaan.

Akibatnya, banyak sarjana harus bekerja di luar bidang keahliannya demi bertahan hidup. Fenomena ini tergambar dari kisah Heru Kurniawan, lulusan teknik mesin yang kini bekerja sebagai sopir.

“Keluarga tidak masalah saya jadi sopir, tapi saya pribadi merasa sayang, karena perjuangan menempuh pendidikan sarjana susah, menghabiskan waktu dan biaya,” tuturnya seperti dilansir BBC.

Hal serupa dialami Ihlazul Amal, lulusan manajemen yang bekerja sebagai pramukantor.

“Karena sudah kebutuhan dan sekarang ini cari pekerjaan sulit, jadi mau enggak mau ya harus disyukuri,” ujarnya.

Ada pula Reza Fahlevi, sarjana ilmu komputer yang kini bekerja sebagai satpam sambil terus mengirim lamaran pekerjaan sebagai software engineer, namun belum membuahkan hasil.

Di tengah kondisi tersebut, peluang untuk meraih kesuksesan ternyata tidak merata. Lembaga riset SMERU Research Institute menemukan bahwa anak yang tumbuh dalam keluarga miskin cenderung memiliki pendapatan 87 persen lebih rendah saat dewasa dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga lebih mampu.

“Keluar dari jerat kemiskinan tidaklah semudah yang banyak orang kira,” kata Rendy A. Diningrat.

Ia menjelaskan bahwa keterbatasan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan menjadi faktor utama yang menghambat mobilitas ekonomi.

Studi lain dari American Educational Research Association juga menunjukkan bahwa akses terhadap berbagai kesempatan sejak kecil sangat menentukan masa depan seseorang.

Penelitian tersebut menemukan bahwa anak dari keluarga berpenghasilan tinggi umumnya memiliki lebih banyak akses terhadap peluang pendidikan dan pengembangan diri dibandingkan anak dari keluarga berpenghasilan rendah.

“Saya tidak terlalu terkejut bahwa anak-anak dari keluarga terkaya memiliki tujuh, delapan, sembilan, 10 kesempatan, tetapi [terkejut] anak-anak miskin hanya mendapatkan satu atau bahkan tidak mendapatkan kesempatan sama sekali,” kata Eric Dearing.

Peneliti lain, Henrik D. Zachrisson, menambahkan bahwa setiap tambahan kesempatan memiliki dampak besar bagi perkembangan anak, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi di masa depan.

Sementara itu, peneliti INOVASI, Senza Arsendy, menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif untuk mengurangi kesenjangan sosial.

“Pendidikan, yang selama ini justru memisahkan siswa berdasarkan capaian akademis yang cenderung bias kelas, harus menjadi tempat yang inklusif yang memungkinkan anak dari berbagai latar belakang untuk dapat berinteraksi,” kata Senza.

Ia menilai interaksi lintas latar belakang sosial penting untuk menumbuhkan empati dan kesadaran akan ketimpangan yang ada di masyarakat.

Film ini pada akhirnya menjadi cermin realitas sosial bahwa perjuangan untuk meraih kesuksesan di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh akses terhadap peluang yang tidak merata. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News