Lonjakan Deforestasi Aceh Selama 2025 Tembus 39 Ribu Hektare, HAkA Soroti Risiko Banjir Meningkat

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mencatat peningkatan signifikan kehilangan tutupan hutan di Provinsi Aceh sepanjang 2025. Total deforestasi mencapai 39.687 hektare, angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir yang diduga turut memperparah bencana banjir besar pada November 2025.

Manager GIS Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, mengatakan tren kehilangan hutan sebenarnya sempat menunjukkan perbaikan sejak 2015 sebelum akhirnya melonjak tajam pada 2025.

“Terjadi lonjakan yang sangat tajam pada 2025. Angka kehilangan hutan melonjak menjadi 39.687 hektare berdasarkan data pemantauan kami,” kata di Lukmanul Hakim, Kamis (26/2/2026).

Ia menjelaskan, tingkat kehilangan tutupan hutan di Aceh sebelumnya terus menurun hingga mencapai titik terendah pada 2023, yakni 8.906 hektare. Namun, kondisi tersebut berubah drastis dua tahun kemudian.

Menurut data HAkA, tanda-tanda peningkatan kerusakan hutan sebenarnya telah terlihat sejak awal 2025. Dalam periode Januari hingga September 2025 saja, kehilangan tutupan hutan sudah mencapai 5.955 hektare, melampaui total kehilangan sepanjang 2024 yang tercatat sebesar 5.699 hektare.

Kerusakan paling luas terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser. Sepanjang 2025, kawasan ini mengalami kehilangan tutupan hutan hingga 28.012 hektare. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi karena kawasan tersebut berfungsi sebagai daerah tangkapan dan penyangga air utama.

Secara wilayah administratif, Kabupaten Aceh Timur mencatat kehilangan tutupan hutan terbesar dengan luas 8.535 hektare. Angka tersebut diikuti Aceh Tengah sebesar 6.910 hektare serta Gayo Lues mencapai 6.773 hektare.

Lukmanul menjelaskan, penyebab kehilangan hutan berasal dari kombinasi faktor alami dan aktivitas manusia. Faktor alami banyak ditemukan di Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Gayo Lues, yang berkaitan dengan longsor serta perubahan bentang alam akibat fenomena alam.

Sementara itu, faktor antropogenik atau aktivitas manusia mendominasi di Aceh Selatan dengan luas kehilangan hutan mencapai 2.195 hektare dan Nagan Raya sebesar 2.130 hektare. Di dua wilayah tersebut, hampir seluruh kerusakan hutan dipicu oleh aktivitas manusia.

Lukmanul juga menilai lonjakan deforestasi pada 2025 memiliki keterkaitan kuat dengan meningkatnya intensitas banjir di sejumlah daerah di Aceh.

Ia menegaskan kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan agar risiko bencana tidak semakin besar di masa mendatang.

“Tanpa langkah pengendalian, risiko bencana diperkirakan akan semakin meningkat pada masa mendatang,” pungkasnya. (XRQ)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News