NUKILAN.ID | Banda Aceh — Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menyatakan bahwa aktivitas gerakan tanah dan longsor di Kecamatan Ketol serta sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah masih berpotensi terjadi. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama di lokasi bekas longsoran yang hingga kini masih menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan tanah.
Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik ST, MSi, menyampaikan hal tersebut setelah tim geologi ESDM Aceh melakukan peninjauan dan pemantauan lapangan di beberapa titik rawan gerakan tanah pada pekan lalu. Kegiatan ini bertujuan memastikan kondisi terkini sekaligus mengevaluasi potensi bahaya lanjutan, khususnya pada musim hujan.
“Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, kami menemukan bahwa di beberapa lokasi longsor lama masih dijumpai rekahan tanah yang cukup berkembang pada bagian mahkota longsoran. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa tanah tersebut belum stabil sepenuhnya dan masih berpotensi bergerak kembali, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas menengah-tinggi,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Gampong Pondok Balek, Kecamatan Ketol. Kawasan tersebut telah lama diidentifikasi sebagai zona gerakan tanah aktif. Dinas ESDM Aceh sebelumnya juga melakukan kajian teknis melalui survei ortofoto, pengukuran geolistrik, serta metode ADMT/AGR untuk mengetahui karakteristik bawah permukaan tanah.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pergerakan tanah di kawasan tersebut berlangsung secara lambat namun terus berkembang. Wilayah Pondok Balek tersusun oleh material vulkanik lapuk dari Formasi Satuan Lampahan (Qvl) yang bersifat permeabel pada kedalaman tertentu dan mudah jenuh air. Kondisi ini membuat tanah rentan mengalami pergerakan, terutama saat curah hujan meningkat.
Data ortofoto bahkan memperlihatkan adanya pergeseran tanah hingga beberapa meter ke arah tenggara, sejalan dengan arah potensi longsoran yang teridentifikasi dari hasil pengukuran bawah permukaan.
“Kondisi geologi seperti ini menyebabkan kawasan Pondok Balek dan sekitarnya sangat rentan terhadap gerakan tanah berulang, sehingga memerlukan perhatian serius dan penanganan yang terencana,” jelasnya.
Selain Kecamatan Ketol, tim ESDM Aceh juga mencatat kejadian longsor tersebar di sejumlah wilayah Aceh Tengah, terutama pada kawasan lereng curam. Banyaknya rekahan di bagian mahkota longsor menjadi indikasi bahwa pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan dan berpotensi memicu longsor susulan.
Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain ruas Jalan Bireuen–Takengon, kawasan permukiman dan lereng di Desa Mendale dan Desa Payareje (Kecamatan Kebayakan), Desa Hakim Bale Bujang (Kecamatan Lut Tawar), wilayah Kecamatan Bintang, serta desa-desa lain dengan kondisi geologi serupa. Daerah-daerah tersebut umumnya tersusun oleh material vulkanik lepas seperti tufa dan pasir dengan kemiringan lereng yang curam, sehingga rentan longsor, terutama saat hujan berintensitas menengah hingga tinggi maupun ketika terjadi gempa bumi.
Berdasarkan hasil peninjauan, sejumlah lokasi masih menyisakan bekas longsoran lama yang memiliki rekahan dan blok tanah belum stabil. Karena itu, masyarakat dan pengguna jalan diimbau meningkatkan kewaspadaan, menghindari area tebing rawan longsor, serta memperhatikan rambu peringatan yang telah dipasang.
Pemerintah daerah juga didorong untuk melakukan pemantauan rutin, sosialisasi kebencanaan, serta kajian geologi teknik dan tata lingkungan sebelum pembangunan infrastruktur maupun relokasi permukiman sebagai langkah mitigasi risiko bencana.
Rekomendasi Teknis dan Imbauan
Sebagai upaya pencegahan, Dinas ESDM Aceh meminta pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan pengawasan di wilayah rawan gerakan tanah, khususnya pada area bekas longsoran yang masih menunjukkan rekahan aktif.
Taufik menekankan pentingnya pengendalian air permukaan dan sistem drainase karena air hujan menjadi faktor utama yang meningkatkan tekanan air pori dan melemahkan kestabilan lereng. Pada lokasi berisiko tinggi terhadap infrastruktur strategis, relokasi trase jalan dinilai perlu dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang.
Selain itu, pemantauan berkala melalui pengamatan lapangan dan pengukuran teknis lanjutan perlu terus dilakukan, terutama selama musim hujan. Pemasangan rambu peringatan serta pembatasan aktivitas di sekitar zona rawan longsor juga dinilai penting guna mengurangi risiko bagi masyarakat dan pengguna jalan.
Kepala Dinas ESDM Aceh turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat mempercepat gerakan tanah, seperti membuka lereng tanpa kaidah teknis. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya rekahan, pohon atau tiang yang mulai miring, maupun perubahan aliran air.
“Upaya mitigasi gerakan tanah membutuhkan kerja sama semua pihak. Kewaspadaan dini dan penanganan yang tepat akan sangat membantu mengurangi risiko dan dampak bencana di kemudian hari,” tutupnya.







