NUKILAN.ID | KUTACANE – Kualitas udara di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berdasarkan data IQAir yang diperbarui pada Jumat (16/10/2026) pukul 10.00 WIB.
Pantauan Nukilan.id, indeks kualitas udara (AQI⁺ US) tercatat sebesar 108, dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai 38,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Data IQAir tersebut berasal dari model berbasis satelit (satellite-derived model). Angka ini menggambarkan kondisi pada waktu pembaruan dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.
PM2.5 merupakan partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Menurut keterangan IQAir, konsentrasi PM2.5 di Kutacane saat itu mencapai 7,7 kali nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Dalam rekomendasi kesehatannya, IQAir menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari masuknya udara tercemar, serta menggunakan alat pemurni udara di dalam ruangan.
Kelompok sensitif juga disarankan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Kelompok ini perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk karena paparan polusi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah terdeteksinya sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kabut asap yang menyelimuti Aceh berasal dari sebaran asap kebakaran hutan dan lahan yang terpantau melalui citra satelit Himawari-9.
Berdasarkan pemantauan pada Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Sebaran asap juga terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Meski demikian, data IQAir yang disajikan untuk Kutacane tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebaran asap karhutla menjadi penyebab langsung konsentrasi PM2.5 tersebut. Diperlukan data pemantauan dan analisis lebih lanjut untuk memastikan sumber polutan di wilayah itu.
Masyarakat diimbau memantau pembaruan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama apabila kondisi udara kembali memburuk. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





