NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Potensi sektor wisata Aceh sangat besar, terbentang mulai dari pulau-pulau kecil, panorama pantai yang menawan, terumbu karang yang indah, hingga keanekaragaman hayati laut.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Akmal Fajar menuturkan, Aceh memiliki banyak potensi wisata bahari yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.
Namun, ia mengungkapkan terdapat sejumlah daerah yang sangat cocok untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari, seperti Aceh Besar, Pulau Banyak di Aceh Singkil, serta Simeulue.
Menurutnya, Sabang dikenal sebagai salah satu lokasi destinasi wisata bahari, terutama untuk diving, snorkeling, dan wisata kepulauan. Aceh Besar memiliki kelebihan karena berdekatan secara geografis dengan Banda Aceh serta memiliki banyak kawasan pesisir yang dapat dikembangkan secara terpadu.
“Sementara itu, Pulau Banyak, Aceh Singkil memiliki karakteristik geografis berupa kepulauan yang cocok untuk dikembangkan sebagai destinasi island hopping, snorkeling, diving, dan ekowisata. Sedangkan Simeulue memiliki potensi besar sebagai lokasi surfing, wisata pantai, serta wisata berbasis kehidupan masyarakat kepulauan,” katanya dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Senin (21/9/2026).
Ia melanjutkan, potensi ekonomi wisata bahari dapat memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat pesisir, terutama mereka yang terlibat dalam jaringan pariwisata.
Misalnya, para nelayan dapat bekerja sebagai operator boat, anak muda dapat menjadi pemandu atau instruktur aktivitas bahari, sementara masyarakat dapat membuka usaha homestay, makanan dan minuman, serta produk UMKM lokal yang dapat dijual kepada wisatawan.
“Pengembangan wisata bahari masih mempuyai sejumlah tantangan mulai dari aksesibilitas dan konektivitas menuju lokasi destinasi kepulauan, infrastruktur, amenitas, kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) serta konsistensi promosi,’’ ungkap Akmal.
Selain persoalan pengembangan yang masih menghadapi sejumlah tantangan, terdapat aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam pengembangan sektor wisata bahari, salah satunya menjaga ekosistem biota laut agar tetap lestari dan tidak rusak akibat aktivitas pariwisata.
“Kita terus mendorong supaya potensi pariwisata bahari Aceh memiliki produk yang memiliki keunggulan utama yang jelas untuk dipasarkan kepada wisatawan. Pemasaran pariwisata juga diperkuat dengan promosi secara digital, komunitas, bekerja sama dengan influenser serta pengusaha industri pariwisata. Pengembangan SDM menjadi keharusan untuk mewujudkan siklus wisata yang baik,” ujar Akmal.
Lebih lanjut, Akmal menjelaskan, untuk program jangka panjang, wilayah Sabang diharapkan dapat menjadi ikon wisata bahari Aceh.
Aceh Besar dapat berkembang menjadi zona terkonektivitas dengan Banda Aceh, Pulau Banyak menjadi destinasi kepulauan dan ekowisata, sementara Simeulue dapat dijadikan wilayah destinasi surfing dan wisata bahari.
“Kerangka pembangunan pariwisata Aceh mengaju pada Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Aceh (RIPKA) 2022-2037. Akan tetapi pada penerapannya harus diterjemahkan dalam bentuk program, produk dan strategi pemasaran yang kongret. Wisata bahari Aceh tidak hanya berfokus pada keindahan alam, tetapi juga memastikan kelestarian laut, memberikan pengalaman berkualitas bagi wisatawan, dan yang paling penting, masyarakat dapat menikmati manfaat ekonominya,” pungkasnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

