NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh bersama tim peneliti STAIN Meulaboh menerbitkan Buku Katalog Jejak Sejarah Singkel Lama sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian sejarah sekaligus mendukung pemajuan kebudayaan di kawasan Pantai Barat dan Selatan Aceh.
Buku tersebut merupakan hasil penelitian mendalam mengenai kawasan Singkel Lama, yang pada masa lalu dikenal sebagai salah satu bandar pelabuhan penting dalam jalur perdagangan rempah di pesisir barat Aceh.
Penyusunan katalog dilakukan melalui kerja sama antara Disbudpar Aceh dan tim peneliti STAIN Meulaboh. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya dokumentasi sejarah serta memperkuat narasi mengenai kawasan Pantai Barat dan Selatan Aceh yang selama ini dinilai masih membutuhkan perhatian lebih dalam pengembangan kajian sejarah.
Sumber utama penyusunan katalog berasal dari ribuan artefak yang berhasil dihimpun oleh Admiller Oey, seorang kolektor yang selama bertahun-tahun berupaya menyelamatkan berbagai peninggalan sejarah Singkel Lama.
Sejak tahun 2000, Admiller mulai mengumpulkan benda-benda bersejarah setelah melihat banyak artefak yang terbengkalai, rusak, bahkan mulai berpindah tangan melalui perdagangan benda-benda kuno. Berbagai koleksi yang berhasil diselamatkan meliputi pecahan keramik, koin kuno, rempah-rempah, hingga beragam tinggalan lain yang berasal dari kawasan bekas bandar Singkel Lama.
Koleksi tersebut kemudian menjadi bahan penting bagi para peneliti untuk menelusuri kembali jejak perdagangan, aktivitas ekonomi, serta perkembangan sejarah kawasan pesisir Aceh pada masa lampau.
Untuk mendukung pendokumentasian secara ilmiah, Disbudpar Aceh melibatkan sejumlah peneliti dari STAIN Meulaboh, di antaranya Jovial Pally Taran, Muhajir Al-Fairusy yang juga merupakan tim ahli cagar budaya, serta beberapa peneliti sejarah lainnya dari wilayah Pantai Barat Aceh. Bersama-sama mereka menyusun kajian akademik sekaligus katalog yang mendokumentasikan berbagai temuan sejarah secara lebih sistematis.
Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku yang memuat beragam informasi mengenai jejak sejarah Singkel Lama beserta berbagai artefak yang menjadi bukti penting aktivitas perdagangan pada masa silam.
Kepala Seksi Sejarah Disbudpar Aceh, Bulman Sattar, mengatakan pendokumentasian sejarah memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan narasi sejarah daerah yang mulai terancam hilang. Menurutnya, penelitian mengenai kawasan Pantai Barat Aceh masih perlu terus diperkuat agar jejak perdagangan rempah yang pernah berkembang di wilayah tersebut dapat terungkap secara lebih utuh.
Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Disbudpar Aceh, Evi Mayasari, menegaskan pihaknya akan terus mendukung berbagai program pemajuan kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya dan warisan budaya Aceh.
Ia juga menilai keberhasilan pelestarian sejarah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah provinsi semata, melainkan membutuhkan dukungan aktif dari pemerintah kabupaten dan kota.
“Kerja bersama sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan dan memajukan kebudayaan Aceh, terutama melalui kajian dan pendokumentasian yang berkelanjutan. Aceh merupakan kawasan bersejarah yang sangat penting,” ujarnya.







