Manuskrip Abdurrauf Buka Jejak Hubungan Syekh Yusuf dengan Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar simposium untuk mengkaji kembali perjalanan intelektual dan keagamaan Syekh Yusuf al-Makassari serta keterkaitannya dengan Aceh dalam jaringan Islam di kawasan Samudra Hindia.

“Posisi Aceh dalam jaringan tersebut penting dikaji karena wilayah ini menjadi salah satu simpul peredaran pengetahuan dan perkembangan jaringan Islam lintas kawasan,” kata Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman di Banda Aceh, Senin.

Simposium tersebut digelar di kawasan Darussalam sebagai bagian dari peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf al-Makassari yang lahir pada 1626.

Mujiburrahman mengatakan forum tersebut menjadi kesempatan untuk menelusuri kembali peran Syekh Yusuf dalam jaringan keilmuan dan keagamaan yang menghubungkan Aceh dengan berbagai wilayah di Samudra Hindia.

Syekh Yusuf al-Makassari lahir di Makassar pada 8 Syawal 1036 Hijriah atau 3 Juli 1626 Masehi. Dalam perjalanan keilmuannya, ia berguru kepada sejumlah ulama di berbagai wilayah.

Ia juga tercatat sebagai murid Syekh Ibrahim al-Kurani, ulama terkemuka di Madinah yang juga menjadi guru Syekh Abdur Rauf as-Singkili. Syekh Yusuf menghabiskan sekitar dua dekade di kawasan Arab untuk memperdalam pengetahuan keislaman.

Salah satu agenda penting dalam simposium tersebut adalah pemaparan temuan manuskrip oleh Masykur Syafruddin dari Pedir Museum.

Manuskrip itu memuat komentar Syekh Abdurrauf as-Singkili terhadap salah satu karya Syekh Yusuf al-Makassari. Temuan tersebut dinilai dapat menjadi sumber penting untuk memperkuat kajian mengenai hubungan intelektual antara ulama Aceh dan Makassar.

Mujiburrahman berharap manuskrip tersebut dapat dipublikasikan sehingga bisa dimanfaatkan untuk memperkaya penelitian mengenai hubungan kedua tradisi keilmuan tersebut.

Ketua panitia, Reza Idria MA PhD, yang juga Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, mengatakan simposium itu merupakan bagian dari program nasional Kementerian Agama yang digelar oleh perguruan tinggi keagamaan Islam di sejumlah daerah.

Sekitar 120 peserta hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut. Sebagian besar merupakan mahasiswa UIN Ar-Raniry, sedangkan peserta dari daerah lain mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.

Lima akademisi dan peneliti menjadi narasumber dalam simposium tersebut, yakni Prof. R. Michael Feener dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Dr Husnul Fahimah dari BRIN, Masykur Syafruddin dari Pedir Museum, Dr Hermansyah dari UIN Ar-Raniry, serta Dr Sehat Ihsan Sadiqin dari UIN Ar-Raniry.

Michael Feener membawakan materi mengenai Aceh and the Making of Islam in the Maritime Southeast Asian World. Husnul Fahimah membahas jaringan sufi serta hubungan intelektual Syekh Yusuf dengan Aceh.

Sementara Hermansyah mengkaji manuskrip, memori, dan imajinasi sejarah Aceh. Adapun Sehat Ihsan Sadiqin membahas mobilitas, Islam, dan jaringan keagamaan yang menghubungkan Aceh dengan kawasan Samudra Hindia.

Rangkaian kegiatan juga diisi Musyawarah Wilayah Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Aceh yang diagendakan untuk memilih kepengurusan baru.

Reza berharap kegiatan tersebut dapat membuka ruang penelitian yang lebih luas mengenai hubungan Syekh Yusuf al-Makassari dengan Aceh serta posisi kedua wilayah dalam jaringan Islam Samudra Hindia.

“Kajian mengenai hubungan tersebut masih membutuhkan temuan dan perspektif akademik baru,” ujar Reza.

Hubungan sejarah antara Makassar dan Aceh menjadi salah satu bagian penting yang mengemuka dalam forum tersebut, terutama dalam melihat mobilitas ulama, pertukaran pengetahuan, dan perkembangan jaringan keislaman lintas kawasan.

Read more

Local News