NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dewan Dakwah Aceh mendorong para dai untuk meningkatkan wawasan keilmuan sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan dakwah.
Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh, Muhammad AR, mengatakan perkembangan internet telah membuat aktivitas dakwah dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah dengan biaya yang relatif murah. Menurutnya, media digital memberikan ruang yang besar bagi para dai untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat luas.
Ia mencontohkan Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad sebagai dai yang berhasil memanfaatkan media digital untuk menyebarluaskan dakwah.
“Konten dakwah digital lebih mudah dipahami masyarakat jika disampaikan secara langsung, ringkas, padat, subtansial tanpa bertele-tele. Durasi dakwah yang efektif dengan kisaran waktu 10-15 menit, karena masyarakat cenderung mengambil intisari dakwah yang disampaikan,” kata Muhammad dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Jumat (11/9/2026).
Waspadai Konten Buatan AI
Muhammad juga mengingatkan para dai agar memastikan materi yang disampaikan di ruang digital berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal tersebut dinilai semakin penting di tengah perkembangan akal imitasi atau AI yang mampu menghasilkan berbagai jenis konten.
Menurutnya, perkembangan AI berpotensi membuat masyarakat kesulitan membedakan informasi asli dengan konten yang dibuat menggunakan teknologi tersebut. Karena itu, referensi yang kredibel menjadi bagian penting dalam penyampaian dakwah digital.
Dewan Dakwah Aceh, kata Muhammad, juga berupaya mengembangkan dakwah melalui format siniar. Namun, rencana tersebut masih menghadapi kendala keterbatasan sumber daya manusia.
Ia menilai peningkatan kualitas dakwah digital di Aceh perlu menjadi perhatian, khususnya terkait materi yang diproduksi dan disebarkan para dai muda melalui media sosial.
Dakwah Jangan Hanya Mengandalkan Humor
Muhammad menilai konten dakwah yang beredar di media sosial Aceh saat ini masih banyak mengedepankan unsur hiburan dan humor. Kondisi tersebut menurutnya berkaitan dengan minimnya sarana hiburan di Aceh.
“Konten dakwah di Aceh yang disebarkan melalui platform media sosial masih berfokus pada unsur hiburan dan cerita lucu dibandingkan dengan ceramah. Hal ini tidak terlepas minimnya sarana hiburan yang ada di Aceh. Dulu, Aceh memiliki banyak sekali tempat hiburan seperti bioskop, namun sekarang tidak ada lagi, sehingga dakwah menjadi sarana alternatif humoris untuk melepas berbagai hiruk pikuk dinamika kehidupan,” ujar Muhammad.
Ia menjelaskan penggunaan humor dalam dakwah bukan sesuatu yang sepenuhnya dilarang. Namun, unsur hiburan tersebut tetap harus diimbangi dengan penyampaian substansi keagamaan agar pesan dakwah memiliki arah dan kesimpulan yang jelas.
Selain persoalan materi dakwah, Muhammad turut menyoroti kecenderungan sebagian dai muda di Aceh yang mudah menyalahkan kelompok atau individu lain. Menurutnya, sikap tersebut salah satunya dipengaruhi keterbatasan wawasan keagamaan.
“Para dai Aceh hendaknya untuk belajar agama tidak hanya pada satu guru, tetapi harus pada banyak guru supaya tidak mudah mengklaim orang lain sesat,” katanya.
Ia mencontohkan perdebatan mengenai zakat atas penghasilan sebagai salah satu persoalan yang kerap menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
“Bayangkan seorang developer yang gajinya berkisar Rp100 juta, ada akun Youtube dan Tiktok yang pendapatan Rp200-300 juta tidak dikenai zakat sedangkan para petani diwajibkan membayar zakat,” kata Muhammad.
Pendidikan Jadi Fondasi Peningkatan Kualitas Dai
Untuk meningkatkan kualitas dai di Aceh, Muhammad menilai pendidikan formal perlu diperkuat. Ia mendorong para dai untuk menempuh pendidikan hingga jenjang S1, S2, bahkan S3 sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, tetapi juga dapat membuka perspektif baru dalam melihat berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Di Amerika saja, butuh waktu sekitaran 230 tahun supaya kulit hitam dapat menjadi presiden Amerika Serikat. Hal itu tidak terlepas dari pendidikan, jadi supaya Aceh berubah, ke depan anak-anak Aceh harus diberikan pendidikan untuk mengubah paradigma,” pungkasnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

