NUKILAN.ID | BANDUNG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang masih berlangsung. Peningkatan kewaspadaan tersebut disampaikan melalui surat bernomor 1995/PB.01.03.02/SEKRE tertanggal 6 September 2026 tentang Peningkatan Kewaspadaan Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau.
Surat tersebut merupakan tindak lanjut atas keterangan resmi Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta potensi dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik.
Dilansir Nukilan dari surat tersebut, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, status yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Aktivitas erupsi juga disebut berlangsung secara menerus dan disertai sejumlah gejala, antara lain lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman.
Aktivitas erupsi yang cukup tinggi terpantau pada 5 September 2026. Badan Geologi dalam laporan khususnya menyebut erupsi menerus terjadi sejak pukul 23.07 WIB dan disertai suara gemuruh. Fenomena erupsi tersebut secara visual menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
Kewaspadaan BPBD Jawa Barat juga berkaitan dengan sebaran abu vulkanik. Pada Minggu (6/9/2026), BMKG menyatakan hasil analisis citra satelit menunjukkan adanya dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Di Jawa Barat, dampak sebaran abu bahkan telah dilaporkan di sejumlah daerah. BPBD Kabupaten Cianjur menyebut abu vulkanik mencapai sebagian besar wilayah Cianjur dengan endapan terlihat di halaman, teras rumah dan kendaraan warga.
Masyarakat juga diminta menutup rapat ventilasi, pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya partikel abu ke dalam ruangan. Pembersihan endapan abu di halaman maupun atap rumah dianjurkan dilakukan secara perlahan agar partikel halus tidak kembali beterbangan ke udara.
Meski aktivitas erupsi meningkat, Badan Geologi menyatakan kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 dinilai masih relatif kecil.
Namun, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari pemerintah. PVMBG juga mengimbau masyarakat, pengunjung dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dengan perkembangan tersebut, peningkatan kewaspadaan di Jawa Barat tidak hanya bersifat antisipatif. Sebaran abu vulkanik telah terdeteksi memasuki wilayah provinsi tersebut, sementara arah dan cakupan sebarannya dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan angin.
BMKG menyatakan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda terus dilakukan selama 24 jam. []
Reporter: Sammy

