Video SPPG Dibakar Gegara 352 Siswa Keracunan MBG di Lombok Ternyata Hoaks

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Video yang memperlihatkan sebuah gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbakar beredar luas di media sosial. Video tersebut diklaim terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah 352 siswa mengalami keracunan makanan bergizi gratis (MBG).

Namun, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Kepolisian memastikan tidak terjadi pembakaran SPPG di Desa Lendang Tampel, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.

Video tersebut salah satunya diunggah akun Facebook @Syabrina_Asyiffa. Dalam keterangannya, akun tersebut menyebut pembakaran dilakukan warga yang kecewa terhadap pengelola dapur SPPG setelah 352 siswa mengalami keracunan pada Jumat (11/9/2026).

“Dapur SPPG di NTB yang menyebabkan anak SD k3racun4n dibakar warga yang sudah geram karena tidak tanggung jawab,” tulis @Syabrina_Asyiffa yang dikutip detikBali, Minggu (13/9/2026).

Unggahan itu kemudian menyebar luas. Hingga saat ini, video tersebut telah ditonton lebih dari 364 ribu kali, mendapat 19 ribu lebih tanda suka, 6.676 komentar, dan dibagikan sebanyak 2.168 kali.

Polisi Pastikan Tidak Ada Pembakaran

Kepolisian kemudian melakukan pengecekan terhadap SPPG yang disebut dalam unggahan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada peristiwa pembakaran di wilayah Lombok Tengah.

Kasi Humas Polresta Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi, mengatakan petugas telah mendatangi lokasi SPPG di Desa Lendang Tampel. Kondisi dapur MBG tersebut dipastikan aman.

“Nggak ada kejadian di wilayah Lombok Tengah. Postingan itu di mana mungkin kejadiannya,” kata Kasi Humas Polresta Lombok Tengah, Iptu Lalu Brata Kusnadi kepada detikBali.

Brata juga menyampaikan bahwa petugas telah melihat langsung kondisi SPPG yang disebut dalam video viral tersebut. Dari pengecekan di lapangan, tidak ditemukan adanya kejadian seperti yang diklaim dalam unggahan media sosial.

“Niki kondisi dapur MBG yang di beber sampai saat ini,” ujarnya.

Polisi Ingatkan Warga Tak Sebarkan Informasi Belum Terverifikasi

Polisi mengimbau masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial, terutama konten yang belum diketahui sumber dan lokasi kejadiannya.

Brata meminta masyarakat melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum membagikan informasi agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Bijak bermedia sosial. Jangan mudah percaya atau menyebarkan berita yang belum terverifikasi kebenarannya. Hindari penyebaran hoaks yang dapat menimbulkan keresahan dan gangguan kamtibmas,” pungkasnya. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News