NUKILAN.ID | FEATURE — Malam di Kota Banda Aceh tidak pernah benar-benar sepi selama Ramadan. Ketika sebagian lampu rumah mulai dipadamkan, cahaya justru semakin terang dari sebuah bangunan megah di Jalan Moh. Daud Beureuh. Masjid Oman Al-Makmur menjadi salah satu pusat denyut spiritual yang tak pernah surut, bahkan hingga sepertiga malam terakhir.
Sejak awal Ramadan hingga menjelang hari kemenangan, masjid ini dipadati jamaah. Bukan hanya dari sekitar Banda Aceh, tetapi juga dari berbagai daerah di Aceh. Kendaraan berjejer panjang di sisi jalan, halaman masjid dipenuhi manusia yang datang dengan satu tujuan, meraih ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Amatan Nukilan.id, antusiasme jamaah hampir tak mengalami penurunan dari pekan pertama hingga pekan terakhir Ramadan. Setiap malam, salat Isya dan tarawih berlangsung dalam suasana yang khusyuk. Lantunan ayat suci Alquran dari imam yang bersuara merdu seolah menyentuh relung hati, membuat jamaah larut dalam keheningan yang menenangkan.
Tak hanya itu, ceramah singkat yang disampaikan usai salat Isya menjadi daya tarik tersendiri. Isi tausiah yang menyentuh, sederhana, namun penuh makna, membuat jamaah betah berlama-lama di dalam masjid. Banyak di antara mereka yang kemudian melanjutkan ibadah dengan beri’tikaf, membaca Alquran, atau sekadar berzikir menunggu waktu malam kian larut.
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan 2026, suasana di masjid ini semakin hidup. Pada malam pertama qiyamul lail, yang jatuh pada 10 Maret 2026, ribuan jamaah telah memadati masjid bahkan sejak pukul 00.00 WIB. Mereka datang lebih awal, berharap mendapatkan tempat terbaik untuk menjalani ibadah malam yang istimewa.
Malam itu terasa berbeda. Imam yang memimpin salat adalah seorang syeikh asal Mesir, Ahmad Sya’ban. Lantunan ayat yang dibacanya mengalun panjang, penuh penghayatan, membawa suasana masjid ke dalam keheningan yang mendalam. Banyak jamaah tampak menunduk, sebagian menitikkan air mata, larut dalam doa dan harapan.
Salat qiyamul lail dilaksanakan pada sepertiga malam, terdiri dari delapan rakaat yang ditutup dengan witir. Meski waktu pelaksanaannya larut, semangat jamaah tak surut. Justru, semakin malam, suasana semakin terasa sakral. Di antara saf-saf yang rapat, terhampar harapan yang sama, meraih malam Lailatul Qadar yang dijanjikan lebih baik dari seribu bulan.
Di antara ribuan jamaah itu, Rahmat, warga Banda Aceh, tampak duduk bersandar di salah satu tiang masjid usai witir. Ia mengaku sudah menjadikan qiyamul lail di masjid ini sebagai rutinitas setiap Ramadan.
“Saya hampir setiap tahun ikut qiyamul lail di sini. Selain karena dekat dari rumah, suasananya memang berbeda. Lebih tenang, lebih terasa ibadahnya,” ujar Rahmat kepada Nukilan.id.
Sementara itu, Aji, seorang jamaah asal Samahani, Aceh Besar, rela menempuh perjalanan cukup jauh demi merasakan suasana ibadah di masjid ini. Ia mengaku biasanya datang sejak waktu tarawih, lalu memilih bertahan hingga qiyamul lail dan Subuh berjamaah.
“Biasanya saya datang dari tarawih, tidak langsung pulang. Tunggu sampai qiyamul lail, sekalian sahur dan Subuh di sini,” kata Aji.
Baginya, ada alasan kuat mengapa ia terus kembali ke Masjid Oman Al-Makmur setiap Ramadan. “Suasananya nyaman, bacaan imamnya juga bagus. Itu yang bikin kita lebih khusyuk,” tambahnya.
Selepas salat witir, aktivitas belum berakhir. Para jamaah dengan tertib mengantre untuk mengambil paket sahur. Kupon yang telah dibagikan sebelumnya ditukarkan dengan makanan sederhana namun penuh makna. Paket sahur tersebut merupakan sumbangan dari para dermawan, menjadi bentuk nyata solidaritas dan kepedulian sosial yang tumbuh subur di bulan suci.
Di sudut-sudut masjid, sebagian jamaah memilih tetap duduk, menikmati santapan sahur bersama. Ada yang berbincang pelan, ada pula yang kembali membuka mushaf Alquran. Kebersamaan itu terasa hangat, menyatukan berbagai latar belakang dalam satu ikatan spiritual.
Menjelang fajar, jamaah kembali bersiap untuk menunaikan salat Subuh berjamaah. Wajah-wajah yang semula lelah justru tampak berseri. Setelah itu, mereka perlahan meninggalkan masjid, kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang lebih ringan.
Tradisi qiyamul lail di Masjid Oman Al-Makmur bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Sebuah kebiasaan yang menghidupkan malam, menguatkan iman, dan menumbuhkan harapan.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, momen seperti ini menjadi ruang jeda yang berharga. Ketika manusia kembali pada hakikatnya sebagai hamba, merendahkan diri, dan memohon ampunan.
Barangkali, di antara saf yang rapat itu, terselip doa-doa yang diam-diam dikabulkan. Dan mungkin pula, dari malam-malam panjang yang dihidupkan dengan ibadah ini, lahir pribadi-pribadi yang kelak menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan pulang. Dan di Masjid Oman Al-Makmur, perjalanan itu terasa begitu dekat. (XRQ)



