NUKILAN.ID | IDI – Tiga bulan setelah banjir besar menerjang Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur pada November lalu, aktivitas belajar mengajar di SDN Rantau Panjang memang sudah kembali berjalan. Namun, sekolah itu belum benar-benar pulih. Yang tersisa dari bencana tersebut bukan hanya lumpur yang sempat menutup ruang kelas setinggi lutut, tetapi juga hilangnya hampir seluruh fasilitas belajar yang selama ini menopang proses pendidikan.
Bangunan sekolah masih berdiri, tetapi ruang-ruang kelas kosong dari meja, kursi, lemari, dan buku pelajaran. Kegiatan belajar untuk sementara dipindahkan ke tenda bantuan dari posko. Di situlah 63 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pelajaran setiap hari, duduk di lantai dengan posisi seadanya.
Sekolah baru bisa dibuka kembali pada 10 Januari setelah proses pembersihan lumpur selama hampir 20 hari yang melibatkan personel TNI. Meski lantai sudah bersih, perabot sekolah tidak dapat diselamatkan. Kondisi itu memaksa guru dan siswa memulai kembali kegiatan belajar dari situasi yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Guru wali kelas 1, Siti Nur Asiah, yang telah mengajar sejak 2004, mengatakan banjir membuat seluruh fasilitas belajar hilang. Ia mengingat bagaimana sebelumnya kegiatan belajar berjalan tertib dengan buku dan meja di setiap kelas. Kini, semua itu tidak ada lagi.
“Kondisi sekolah kami sesudah banjir, semua fasilitas sudah tidak bisa dipakai lagi. Mobiler, meja-meja sudah enggak ada,” ujar Siti kepada Nukilan, Sabtu (14/2/2026).
Ketiadaan meja dan kursi menjadi kendala paling terasa dalam kegiatan belajar sehari-hari. Anak-anak belajar di lantai tenda, dengan posisi yang tidak teratur. Bagi siswa kelas rendah yang masih membutuhkan banyak aktivitas bermain, situasi ini membuat proses belajar jauh lebih sulit dikendalikan.
Ia menuturkan bahwa sebelumnya meja menjadi batas yang membantu anak-anak tetap berada di tempat dan fokus pada pelajaran. Sekarang, tanpa batas ruang yang jelas, anak-anak mudah berpindah tempat, bermain, atau sekadar rebahan saat pelajaran berlangsung. Waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk memahami materi justru banyak tersita untuk mengatur posisi duduk dan perhatian siswa.
“Anak-anak belajar di lantai. Ada yang tengkurap, ada yang bolak-balik ke sana ke sini. Namanya juga di lantai, nggak bisa kita atur lagi seperti biasa,” kata Siti.
Kendala lain yang tidak kalah berat adalah hilangnya seluruh buku pelajaran. Guru tidak memiliki pegangan materi, sementara siswa tidak memiliki bahan bacaan. Siti kini harus mengunduh materi dari telepon genggam, kemudian menuliskannya ulang di papan tulis kecil agar bisa disalin oleh murid.
Ia menjelaskan bahwa metode ini membuat pembelajaran menjadi monoton. Setiap hari siswa hanya menyalin tulisan tanpa variasi kegiatan belajar seperti membaca, berdiskusi, atau mengerjakan latihan di buku. Akibatnya, anak-anak lebih cepat bosan dan sulit mempertahankan konsentrasi.
“Buku pelajaran satu pun sudah enggak ada lagi. Kami download dari HP lalu kami tulis di papan. Anak-anak jadi cepat bosan karena begitu-begitu saja,” ujarnya.
Situasi serupa dirasakan oleh guru Pendidikan Agama Islam, Aniska, yang melihat dampak banjir tidak hanya pada kerusakan fasilitas fisik, tetapi juga pada terputusnya proses belajar dalam waktu yang cukup lama. Saat sekolah kembali dibuka, ia mendapati banyak siswa yang sudah tidak mengingat materi yang sebelumnya pernah dipelajari.
Ia mengatakan bahwa waktu belajar yang ada lebih banyak digunakan untuk mengulang pelajaran lama daripada menyampaikan materi baru. Hal itu membuat ketertinggalan siswa semakin terasa.
“Banyak kendalanya, terutama belajarnya. Karena suasana banjir, anak-anak banyak yang sudah lupa pelajaran. Kadang kita ulang, mereka juga masih lupa karena sudah lama enggak belajar,” ujar Aniska, Sabtu (14/2/2026).
Belajar di tenda tanpa meja dan kursi juga membuat siswa tidak memiliki posisi menulis yang layak. Mereka sering menulis sambil tengkurap atau berbaring di lantai. Menurut Aniska, kondisi tersebut membuat siswa cepat lelah, tidak fokus, dan hasil tulisan menjadi tidak rapi.
“Kami dikasih tenda dari posko. Jadi duduknya kadang masih tidur-tiduran karena enggak ada kursi, enggak ada meja,” katanya.
Keterbatasan papan tulis menjadi hambatan teknis lain yang terus berulang setiap hari. Sekolah hanya memiliki tiga papan tulis kecil bantuan relawan yang harus digunakan secara bergantian oleh seluruh kelas. Guru harus menunggu giliran untuk menggunakan papan tulis, sehingga waktu belajar menjadi tidak efektif.
Pada masa awal sekolah dibuka kembali, kendala juga datang dari sisi perlengkapan siswa. Banyak anak datang tanpa seragam, sepatu, dan tas karena hanyut terbawa banjir. Mereka menggunakan pakaian seadanya dan sandal untuk pergi ke sekolah.
“Awal-awal masuk masih pakai sendal, baju biasa, karena baju sekolah, sepatu, peralatan banyak yang enggak ada,” kata Aniska.
Menurutnya, kondisi tersebut memengaruhi semangat dan rasa percaya diri siswa. Suasana sekolah yang sebelumnya rapi dan seragam kini berubah menjadi ruang belajar darurat dengan penampilan yang beragam.
Meski sebagian bantuan seragam sudah diterima, perlengkapan belum sepenuhnya lengkap. Seragam Pramuka masih belum tersedia. Di sisi lain, sebagian guru juga kehilangan pakaian kerja mereka akibat banjir.
Dengan jumlah 63 siswa dan 10 tenaga pengajar, keterbatasan fasilitas membuat seluruh proses belajar harus menyesuaikan kondisi. Jadwal sekolah tetap dipertahankan seperti sebelum banjir sebagai upaya menjaga rutinitas dan kedisiplinan siswa. Namun para guru mengakui efektivitas pembelajaran menurun karena banyak waktu habis untuk mengatasi kendala teknis.
Dalam situasi tersebut, kebutuhan paling mendesak bagi sekolah adalah buku pelajaran, meja, kursi, dan papan tulis. Tanpa itu, proses belajar hanya bisa dilakukan dengan metode paling sederhana.
Siti mengatakan, setiap hari ia berusaha menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa kondisi sekolah mereka belum normal dan meminta mereka bersabar. Ia juga menanamkan harapan bahwa suatu saat mereka akan kembali belajar di ruang kelas seperti sebelumnya.
“Kami ceritakan ke anak-anak keadaan kita seperti ini. Mudah-mudahan sesudah Lebaran sudah kembali normal seperti biasa,” katanya.
Bagi para guru di SDN Rantau Panjang, membuka sekolah setiap pagi bukan sekadar menjalankan kewajiban mengajar. Di tengah ruang belajar darurat dan fasilitas yang nyaris tidak ada, kegiatan itu menjadi cara untuk menjaga agar anak-anak tetap terhubung dengan pendidikan dan tidak semakin tertinggal akibat bencana. []
Reporter: Sammy












