NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut hampir seluruh pengungsi banjir di Aceh telah menempati hunian sementara (huntara) dibantah oleh Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tengku Raja Aulia Habibie.
Menurutnya, kondisi di lapangan masih jauh dari klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa masih banyak warga terdampak banjir yang bertahan di tenda pengungsian.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (19/3/2026), kata dia, masih terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Timur yang belum mendapatkan hunian layak.
“Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia. Ribuan warga hingga hari ini masih tinggal di tenda dan belum mendapatkan tempat tinggal yang layak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat yang masih menghadapi kesulitan, terutama di bulan Ramadan. Banyak warga, kata dia, mengalami keterbatasan kebutuhan dasar dan harus menjalani ibadah puasa dalam kondisi serba kekurangan di pengungsian.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Hari raya Idulfitri yang seharusnya menjadi momen kemenangan dan kebahagiaan justru dirasakan dengan penderitaan oleh masyarakat yang masih tinggal di tenda,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengkritik pemerintah yang dinilai belum maksimal dalam merealisasikan percepatan pemulihan pascabencana. Ia menilai upaya yang selama ini disampaikan belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Pemerintah hanya janji-janji. Percepatan pemulihan yang dikatakan selama ini berjalan lambat, Jangan hanya fokus pada pencitraan dan laporan yang belum tentu benar, sementara masyarakat masih menderita,” tegasnya lagi.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif tanpa melihat langsung kondisi di lapangan.
“Presiden jangan hanya melihat laporan palsu dan angka-angka di atas kertas. Jika pemerintah tidak bisa melihat dan tidak bisa menyampaikan fakta yang sebenarnya, maka biar kami yang akan menunjukkan fakta di lapangan,” ujarnya tegas.
Bahkan, ia menantang agar Presiden turun langsung tanpa protokoler untuk menyaksikan kondisi masyarakat terdampak banjir.
“Jika Presiden benar-benar ingin melihat fakta, datanglah tanpa pengawalan, tanpa embel-embel jabatan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Datanglah sebagai rakyat dan sebagai manusia, agar bisa melihat langsung bagaimana penderitaan masyarakat yang masih tinggal di tenda,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh pihak tidak boleh menutup mata terhadap kondisi tersebut dan mendesak pemerintah untuk lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, pemerataan distribusi bantuan, serta percepatan pembangunan hunian layak bagi korban banjir.
“Jangan menutup mata terhadap penderitaan masyarakat.” tutupnya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.












