NUKILAN.ID | OPINI – BENCANA banjir dan longsor pada tanggal 26 November 2025 lalu telah mengakibatkan areal persawahan yang terdampak sekitar 57.364 ha dengan rincian kategori rusak ringan 27.437 ha, rusak sedang 13.651 ha dan rusak berat 16.276 ha. Sumber Distanbun Aceh menyatakan bahwa rusak ringan dan rusak sedang ditangani oleh Kementan bekerja sama dengan provinsi dan kabupaten/kota. Sedangkan untuk rusak berat belum tahu bagaimana penanganan pastinya.Sawah rusak berat seluas 16.276 ha, bila rata-rata 1 kepala keluarga memiliki lahan sawah 0,25 ha, dan rata-rata 1 KK memiliki 4 orang yang menjadi tanggungan, maka ada sekitar 260.416 jiwa bergantung hidup dari sawah tersebut. Suatu jumlah yang sangat besar, seperti jumlah jiwa dalam satu kabupaten/kota di Aceh ini. Tentu hal ini harus dicari jalan keluar tidak hanya dengan cara pikir standar dan linier, kita harus berani keluar dari hal yang biasa.
Salah satu alternatif solusi adalah dengan menjadikan lumpur tersebut menjadi bahan timbunan untuk berbagai proyek pemerintah maupun bagi siapapun yang membutuhkan sesuai aturan yang berlaku. Apakah itu dijadikan salah satu galian C dengan menerapkan pungutan retribusi sedangkan manfaat terbesar tetap harus dimiliki oleh petani pemilik lahan.
Bila ini dilakukan, paling tidak tekanan psikologis petani bisa berkurang dan sawah bisa lebih cepat untuk dimanfaatkan kembali. Selain petani mendapatkan manfaat ekonomi dari penerimaan pembelian material tanah, percepatan penanganan, psikologis yang lebih tenang dan bagi pemerintah bisa mendapatkan tambahan pemasukan melalui retribusi, mengamankan alih fungsi dan LBS (luas baku sawah) tetap terjaga.
Alternatif lain, lumpur-lumpur tersebut dapat dijadikan bahan baku batu bata atau bata ringan setelah melalui uji laboratorium dan uji lapangan. Forum Zakat telah menginisiasi hal ini dengan mengajak BRIN, USK dan Nurul Hayat sebagai bagian dalam tim bersama untuk melakukan penelitian pembuatan batu bata atau bata ringan dengan material lumpur. Profesor Dr. Ir. Abdullah, M.Eng., Guru Besar Fakultas Teknik USK yang juga seorang ahli bata ringan, menjelaskan bahwa secara teknis, komposisi lumpur kering pascabanjir sangat ideal. Lumpur ini umumnya berasal dari longsoran tanah bukit dan sedimen sungai, yang secara alami sudah merupakan campuran antara tanah liat dan pasir, dua komponen utama pembuatan batu bata (Serambi, 23 Desember 2025).
Luas sawah rusak berat sekitar 16.276 ha, contoh kita ambil saja 10 persen nya maka ada sekitar 1.627 ha. Bila ketebalan lumpur hanya 1 meter, maka akan didapat sekitar 1.627 ha x 1 m = 16.270.000 m⊃3;. Konversi ke bata, setiap 1 m⊃3; tanah rata-rata dapat menghasilkan sekitar 400-500 bata merah berukuran standar, maka akan didapat potensi produksi: 16.270.000 juta m⊃3; x 450 bata = 7.321.500.000 buah bata (7,3 miliar bata). Suatu potensi yang sangat besar dan akan mampu menyuplai untuk kebutuhan perumahan tetap dan pembangunan lainnya pasca bencana. Baik untuk bangunan fasilitas umum, bangunan pemerintah maupun bangunan lainnya.
Alternatif pilihan
Dengan kondisi tersebut, sebenarnya kita ada 3 pilihan utama. Pertama, menjadi bahan timbunan untuk berbagai proyek, kedua menjadi bahan baku batu bata atau bata ringan, dan ketiga dengan mengambil lumpur tetapi tantangan belum tahu mau dipindahkan kemana kalau dalam skala besar.
Pilihan kedua sedang dilakukan pendalaman dan diskusi intens dengan para peneliti yang dikoordinir oleh Forum Zakat. Hasil uji lab akan dilanjutkan dengan uji lapangan yang nanti hasilnya akan langsung dibuat rumah contoh. Untuk membuat rumah contoh akan disepakati bersama dan tergantung hasil uji lapangan. Sedangkan untuk pilihan ketiga masih menjadi pekerjaan rumah Kemen PU dan Kementan serta tentunya juga pemerintah daerah. Bukan hal mustahil bila kita mengambil pilihan kedua sebagai salah satu alternatif. Dengan luasnya lahan rusak berat, kita sebenarnya bisa mengambil semua pilihan menjadi aktivitas yang bisa dilaksanakan sesuai kondisi lapangan dan keinginan masyarakat dengan pendampingan pemerintah daerah.
Ada beberapa langkah kerja yang dilakukan. Pertama, pengambilan sampel. Sampel dari lokasi kemudian dianalisis di laboratorium untuk menentukan komposisinya: kadar empung, pasir, bahan organik, dan kandungan garam. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi variasi dan merumuskan formula campuran yang optimal. Lumpur murni seringkali membutuhkan bahan tambah untuk memperbaiki sifat plastisitas dan mengurangi penyusutan saat dikeringkan. Tim peneliti sudah mengambil sampel di Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang dan saat ini sedang dilakukan analisis dari hasil uji laboratorium.
Kedua, pengolahan dan pencampuran lumpur. Lumpur kemudian disaring dari kotoran besar kemudian dikeringkan, digiling, dan diayak untuk mendapatkan butiran yang homogen. Ketiga, pembentukan dan pengeringan adonan. Bahan yang sudah homogen kemudian dicetak menggunakan mesin pres manual atau hidrolik untuk bata padat, atau dituang ke dalam cetakan untuk bata ringan. Keempat, pembakaran (untuk bata merah konvensional). Bata yang telah kering kemudian dibakar dalam tungku.
Inovasi utama di sini adalah penggunaan bahan bakar campuran. Mengurangi ketergantungan pada kayu murni, digunakan campuran kayu limbah dengan cangkang sawit dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Aceh. Dan, kelima pengawetan (untuk bata ringan).
Beberapa manfaat yang didapat dari proses ini di antanya: Pertama, riset dan pendidikan. Ini bisa menjadi laboratorium hidup untuk inovasi keteknikan dan pengelolaan bencana secara berkelanjutan. Hal penting kita harus berani bergerak dan terkadang kita harus berpikir gila supaya normal, kalau berpikir normal terkadang kita bisa gila. Inovasi tidak bisa dihambat, dia harus terus dikembangkan, ini bisa menjadi salah satu hikmah dibalik bencana yang maha dahsyat.
Kedua secara ekonomi, bisa menciptakan peluang baru bagi masyarakat. Menciptakan rantai nilai baru dari pengumpul lumpur, pengolah, hingga perajin bata. Menyediakan bahan bangunan lokal yang lebih murah, mengurangi biaya rekonstruksi pasca-bencana. Ketiga secara lingkungan, bisa mengurangi timbunan limbah bencana, membersihkan lahan, dan mendorong daur ulang material. Penggunaan cangkang sawit mengurangi tekanan pada hutan untuk bahan bakar kayu.
Keempat keuntungan secara sosial, memberikan lapangan kerja alternatif, mengurangi dampak psikologis, memberikan harapan baru, menjaga stabilitas sosial, serta memberikan nuansa baru pasca bencana. Material lokal membangkitkan rasa memiliki dan ketahanan komunitas yang kuat pasca bencana. Semoga hal ini bisa segera terlaksana dengan kolaborasi yang mantap, wallahualam.
Penulis: Dr. Ir. Azanuddin Kurnia SP MP IPU ASEAN Eng
(Plt. Kadis Pertanian dan Perkebunan Aceh dan Ketua PISPI Aceh)






