NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menegaskan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 26 November 2025 dilakukan secara hati-hati, dengan mengutamakan kualitas dan kelayakan huni jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, saat menghadiri kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan seminar nasional di Hotel Ayani Banda Aceh, Kamis (16/4). Kegiatan itu diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh (Diskominsa) bekerja sama dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta (LUKW UMJ).
“Hunian tetap itu bukan solusi sementara, tapi jangka panjang. Jadi tidak boleh terburu-buru. Kita harus memastikan semua fasilitas dasar terpenuhi, mulai dari air bersih, listrik, hingga infrastruktur pendukung lainnya,” ujar Dek Fadh.
Ia menjelaskan, huntap dirancang sebagai tempat tinggal permanen bagi masyarakat terdampak, sehingga pemerintah berupaya memastikan setiap unit benar-benar layak huni dan mampu mendukung kehidupan warga dalam jangka panjang.
Menurutnya, proses pembangunan dilakukan secara bertahap dan terstruktur, dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecepatan penanganan dan kualitas hasil.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mendapatkan hunian yang layak dan pemulihan yang menyeluruh, bukan sekadar cepat selesai,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Aceh juga menanggapi laporan kerusakan hunian sementara (huntara) di sejumlah wilayah, seperti Aceh Tengah dan Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Dek Fadh mengakui bahwa huntara memiliki keterbatasan karena bersifat darurat dan hanya diperuntukkan untuk jangka pendek.
“Huntara itu memang bangunan temporer. Jadi dalam kondisi tertentu, seperti cuaca ekstrem, bisa saja terjadi kerusakan. Namun begitu, setiap laporan tetap akan kita tindak lanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan,” ujarnya.
Sebelumnya, hunian sementara yang ditempati 18 kepala keluarga penyintas banjir di Gampong Alue Krak Kayee, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dilaporkan kembali terendam banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Senin (6/4/2026) sore. Warga yang baru menempati huntara dua hari sebelum Idulfitri itu kembali menghadapi kondisi darurat, dengan sejumlah barang rusak dan atap hunian mengalami kerusakan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Aceh memastikan akan melakukan evaluasi dan penanganan lanjutan agar kebutuhan dasar para penyintas tetap terpenuhi selama masa transisi menuju hunian tetap.
“Penanganan bencana ini kita lakukan bertahap. Yang penting masyarakat tetap terlindungi dan hak-haknya terpenuhi, sambil kita kejar pembangunan huntap secara maksimal,” tutup Dek Fadh. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News






