NUKILAN.ID | JAKARTA — Kosakata bahasa Indonesia kembali bertambah dengan hadirnya kata palum sebagai lawan kata dari haus. Meski masih terdengar asing di telinga sebagian masyarakat, kata palum kini telah resmi tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Dikutip Nukilan.id dari KBBI, haus berarti “berasa kering kerongkongan dan ingin minum.” Sementara itu, palum didefinisikan sebagai “sudah puas minum; hilang rasa haus.” Dengan begitu, palum menjadi pasangan semantik yang sepadan untuk kata haus, sebagaimana kenyang menjadi lawan kata dari lapar.
Kehadiran kata palum ini diumumkan oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui unggahan di akun media sosial resmi mereka pada 25 Juni 2025.
“Kata haus sudah ada lawan katanya, lo! Palum. Kata ini diambil dari bahasa Batak Pakpak,” tulis Badan Bahasa Kemendikbud sebagai takarir unggahan tersebut.
Kata palum berasal dari bahasa Dairi Pakpak, salah satu bahasa daerah di Sumatera Utara. Berdasarkan Kamus Bahasa Dairi Pakpak, palum memiliki sejumlah makna, antara lain “sembuh, sembuh dahaga (RW); empalum atena, senang hatinya, tidak takut, terhibur; pepalum ate, apa yang menyenangkan hati pada pembalasan, marah, keinginan.”
Penetapan palum sebagai entri dalam KBBI bukan proses yang singkat. Menurut laporan detikcom, kata ini diusulkan sejak tahun 2024, mengacu pada Kamus Pakpak–Indonesia karya Tindi Radja Manik yang diterbitkan Bina Media, Medan, pada 2002. Setelah melalui proses verifikasi dan kajian, palum resmi diakui dan masuk dalam edisi terbaru KBBI pada tahun 2025.
KBBI juga mencantumkan contoh penggunaan kata tersebut dalam kalimat, seperti: “kondisi palum membuat anak lebih tenang.”
Masuknya palum memperkuat peran penting bahasa daerah dalam memperkaya khazanah kosakata nasional. Sebelumnya, beberapa kata dari bahasa Batak juga telah lebih dulu masuk ke dalam KBBI, seperti parmitu (orang yang gemar minum minuman keras) dan ucok (anak laki-laki, berunding dengan damai).
Langkah ini sejalan dengan upaya KBBI dan Badan Bahasa untuk terus menyerap kata-kata dari berbagai bahasa daerah di Indonesia. Tak hanya memperkaya, integrasi ini juga menjadi bentuk pengakuan atas keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Tanah Air. (XRQ)
Reporter: Akil