Beranda blog Halaman 2216

Danrem 011/LW Beserta Seluruh Prajurit Laksanakan Sholat Ghaib untuk 53 Patriot TNI KRI Nanggala 402

0

Nukilan.id – Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro bersama seluruh prajurit TNI beserta keluarga besar Korem 011/Lilawangsa melaksanakan sholat ghaib untuk 53 prajurit TNI KRI Nanggala 402 yang gugur di Laut Bali.

Sholat ghaib dilaksanakan di Masjid masing-masing Kodim jajaran Korem 011/Lilawangsa. Kegiatan sholat dan doa bersama tersebut berlangsung serentak usai sholat Dzuhur berjamaah, Selasa (27/4/2021) dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Baca juga: Mahasiswa Biologi USK Lepas 156 Tukik di Pasi Jalang Aceh Besar

Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro menyampaikan turut belasungkawa
“Dari hati yang paling dalam, saya dan keluarga besar Korem 011/Lilawangsa turut mendoakan 53 prajurit TNI terbaik yang sedang melaksanakan tugas di KRI Nanggala 402. Semoga Allah SWT menempatkan mereka di tempat yang paling indah bersama orang-orang beriman, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dalam menerima cobaan ini,” kata Danrem Baskoro.

Baca juga: Aceh Perketat Wilayah Perairan Antisipasi Eksodus Warga India Masuk

“Mari kita melaksanakan sholat ghaib dan mendoakan untuk para pejuang bangsa yang gugur sebagai Syuhada, 53 prajurit TNI AL sebagai Patriot Bangsa, semoga almarhum semua mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Danrem Baskoro mengawali sholat ghaib.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melaporkan bahwa seluruh awak KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan Bali resmi dinyatakan gugur kemarin (25/4/2021). Seluruh awak kapal nantinya akan diberi kenaikan pangkat secara berjenjang.

Baca juga: Bardan Sahidi Apresiasi Pemkab Aceh Besar Gagas Bangun Lapas Narkoba di Pulo Aceh

Diketahui dari 53 awak kapal kru kapal selam KRI Nanggala 402, salah satunya adalah putra terbaik Aceh yaitu Letkol Laut (E) Irfan Suri, yang juga adik dari Kepala Staf Korem (Kasrem) 011/LW Letkol Czi M Ridha Has. Keduanya adalah putra dari M Hasan Yakob, mantan Kepala SMAN 1 dan SMAN 3 Banda Aceh di era 80-an serta terakhir menjadi Kepala SMAN Modal Bangsa, Aceh Besar, yang kini menetap di Banda Aceh.[]

Hari Otonomi Daerah ke-25, Mendagri Minta Penangan Pandemi Paralel dan Simultan

0

Nukilan.id – Peringatan Hari Otonomi Daerah (Otda) ke-25 menjadi ajang pemersatu pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dalam menghadapi tantangan bersama, yakni pandemi Covid-19. Karena itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta kebijakan dalam penanganan pandemi, paralel dan dilakukan secara simultan.

“Tantangan otonomi daerah adalah bagaimana kebijakan pusat dan daerah ketika menghadapi masalah nasional, seperti Covid-19. Maka perlu harmonisasi dan simultanisasi kebijakan yang paralel antar pusat dan daerah,” kata Tito dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/4/2021).

Tito menjelaskan bahwa, pandemi Covid-19 yang merupakan masalah nasional, bahkan global, menempatkan penganut asas demokrasi sistem desentralisasi melalui otonomi daerah, seperti Indonesia, pada posisi penetapan formulasi dan pelaksanaan kebijakan yang harmonis antara pemerintah pusat dan daerah.

Bahkan, kata Tito, keseriusan pemerintah pusat dalam mengendalikkan pandemi harus didukung pula oleh pemerintah daerah di semua tingkatan.

Baca juga: Kemendagri Gelar Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-25

“Kita melihat pemerintah pusat saja bergerak dengan kecepatan penuh, dengan gas penuh, untuk menangani pandemi Covid-19, tidak akan pernah bisa sukses karena 50% mesin lain pemerintah ini ada pada pemerintah daerah provinsi kabupaten/kota,” tuturnya.

Dengan kata lain, dibutuhkan keseriusan dan kesungguhan semua pihak, dalam menuntaskan persoalan bersama, dalam penanganan Covid-19. 

“Kalau pemerintah provinsi, kabupaten/kota tidak serius, (tidak) bersungguh-sungguh, dalam penanganan Covid-19, maka masalah nasional ini tidak akan pernah bisa kita atasi dan kita tuntaskan. Di sini tantangannya,” ujarnya.

Tantangan yang dihadapi, lanjut Tito, pemerintah daerah di seluruh tingkatan, harus satu frekuensi dalam memahami kebijakan yang diambil. Tujuannya, agar pada tataran implementasi, kebijakan pemerintah pusat dijabarkan dengan baik di tingkat daerah.

“Oleh karena itu saya minta, dalam konteks menghadapi pandemi Covid-19, kebijakan pusat dapat benar-benar dijabarkan dan disamakan oleh daerah sesuai dengan karakter daerah masing-masing, itulah menjadi tantangan kita,” tambahnya lagi.[Puspen Kemendagri]

PEMA Ditunjuk Jadi Kontraktor Definitif Kelola Migas Blok B Aceh Utara

0
Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto

Nukilan.id – Setelah menunggu lama, akhirnya Pengelolaan potensi minyak dan gas bumi Blok B Aceh Utara telah mendapat mandat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Surat Keputusan nomor 76.K/HK.02/MEM.M/2021 tentang persetujuan pengelolaan dan penetapan bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok kontrak kerja sama pada wilayah Blok B.

Atas keputusan mentir tersebut memastikan PT. Pembangunan Aceh (PEMA) yang menjadi kontraktor definitif Blok B.

“Pengelolaan ini sesuai dengan keputusan yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nomor 76.K/HK.02/MEM.M/2021 tentang persetujuan pengelolaan dan penetapan bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok kontrak kerjasama wilayah Blok B,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh Muhammad Iswanto di Banda Aceh, Senin (26/4/2021).

Dijelaskan Menteri ESDM memberikan persetujuan pengelolaan kontrak kerja sama wilayah blok B pasca 17 Mei 2021 kepada kontraktor sebagaimana tercantum dalam lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari keputusan menteri itu.

SK tersebut juga menyebutkan bentuk dan ketentuan pokok kontrak kerja sama pada wilayah kerja Blok B. Ketentuan itu yakni kontrak bagi hasil cost recovery, dimana PT PEMA Global Energi sebagai kontraktor dengan jangka waktu kontrak selama 20 tahun.

“Dengan terbitnya keputusan menteri tersebut, Pemerintah Pusat telah merespon amanat Undang-undang 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh dan PP 23 Tahun 2015 tentang pengelolaan bersama sumber daya alam migas Aceh,” demikian Iswanto.[red]

Mahasiswa Biologi USK Lepas 156 Tukik di Pasi Jalang Aceh Besar

0
Ilustrasi pelepasan Tukik. (Foto: ANTARA/Rahmat Fajri)

Nukilan.id – Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh melepaskan 156 tukik jenis lekang di Pantai Pasi Jalang, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

“156 tukik yang dilepaskan ini merupakan hasil penetasan dari penangkaran di wilayah ini, jenisnya lekang atau bahasa latinnya Lepidochelys olivacea,” kata Ketua Jurusan Biologi USK Dr Dahlan di Aceh Besar, Senin.

Dia mengatakan penyu jenis lekang itu telurnya ditetaskan secara alami dengan peralatan dari telur-telur yang diperoleh di kawasan tersebut.

Kemudian, kata dia, dalam hal ini Yayasan Seulanga Aceh yang memang konsentrasi terhadap tukik mengumpulkannya dan membuat alat penetasan.

“Karena kalau ditetas sendiri oleh penyu, itu persentase berhasilnya kecil sehingga kalau ada campur tangan manusia, alhamdulillah sampai 90 persen bisa hidup,” ujarnya.

Dia mengungkapkan kendala penetasan selama ini, selain karena dibiarkan secara alami, juga disebabkan faktor hama, dan binatang-binatang lainnya, termasuk oleh manusia sendiri.

“Tetapi kalau sudah dikumpulkan di satu tempat jadi relatif aman, kemudian setelah lebih kurang 10 hari dari menetas pertama, maka itu baru bisa dilepaskan,” kata Dahlan.

Anggota DPR Aceh Darwati A Gani yang ikut melepaskan tukik tersebut, mengaku bahagia menjadi bagian dari orang-orang yang ikut melestarikan keberlangsungan hidup penyu.

“Karena kita ketahui bersama bahwa penyu merupakan hewan langka yang harus dilindungi, apalagi dari tahun ke tahun telurnya terus diburu,” kata dia.

Dia mengatakan pelepasan tukik hari ini menjadi bagian dari kampanye pentingnya menjaga ekosistem alam, terutama penyu.

Dia mengemukakan pelepasan tukik juga menjadi pembelajaran bagi mahasiswa bahwa mereka harus ikut melindungi hewan langka di ekosistem alam tersebut.

“Jadi anak-anak bisa belajar juga sama mahasiswa Fakultas Biologi USK, jadi tentu ini kegiatan yang sangat penting dan menyenangkan,” demikian Darwati.[]

Kemendagri Gelar Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-25

0

Nukilan.id – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar peringatan Hari Otonomi Daerah ke-25, Senin (26/4/2021). Kegiatan yang digelar secara virtual ini diikuti oleh seluruh kepala daerah baik provinsi, kabupaten/kota, DPRD, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1996, yang ditandatangani pada 7 Februari, menyebutkan bahwa tanggal 25 April ditetapkan sebagai Hari Otonomi Daerah. Peringatan Hari Otonomi Daerah tahun ini mengusung tema “Bangun Semangat Kerja dan Tingkatkan Gotong Royong di Masa Pandemi Covid-19 untuk Masyarakat Sehat, Ekonomi Daerah Bangkit dan Indonesia Maju”. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Presiden Ma’ruf Amin memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi gelaran peringatan Hari Otonomi Daerah ke-25.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam pengantarnya menyebutkan, kehadiran Wakil Presiden menegaskan kembali betapa pentingnya otonomi daerah. Mendagri mengatakan, keberagaman yang dibalut dalam bingkai otonomi daerah, menjadi modal besar untuk menciptakan Indonesia  yang lebih maju dan lebih sejahtera.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Wakil Presiden. Ditengah kesibukan, Bapak telah berkenan untuk hadir dan akan memberikan pengarahan, serta sekaligus membuka secara resmi peringatan Hari Otonomi Daerah ke-25 Tahun 2021,” ujar Mendagri.

Pada gelaran tersebut, Mendagri yang didampingi Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Akmal Malik juga berkesempatan meresmikan tiga sistem aplikasi layanan yang dibangun Kemendagri. Sistem aplikasi tersebut di antaranya Sistem Informasi Mutasi Daerah (Simudah), Sistem Elektronik Peraturan Daerah (e-Perda), dan Sistem Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Si-LPPD).

Mendagri mengatakan, ketiga sistem tersebut merupakan terobosan dari Direktorat Jenderal Otonomi Daerah untuk mengakomodasi urusan pemerintah daerah. Mendagri menjelaskan, misalnya bagaimana aplikasi Simudah dapat membantu aparatur sipil negara (ASN) pemerintah daerah dalam mengurus mutasi. Mendagri mengatakan, dengan Simudah ASN yang bersangkutan cukup mengunggah berkas persyaratan ke dalam sistem, tanpa perlu datang ke kantor Kemendagri.[Puspen Kemendagri]

Bang Muslim Bahas Peran Pemuda dan Kemajuan Desa Bersama IPPAT

0

Nukilan.id – Ikatan Pemuda Pelajar Aceh Timur (IPPAT) Silaturrahmi dan Buka Puasa bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DRP-RI) Fraksi Partai Demokrat Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh II, Muslim. SHI. MM di Cafe Cocomix Lampineung, Banda Aceh, Minggu, (25/4/2021).

Acara Silaturrahmi tersebut membahas tentang Peran Pemuda dalam kemajuan dan kebangkitan sebuah Desa.

Muslim mengatakan, peran pemuda dan mahasiswa sangat dibutuhkan oleh masyarakat, agar kemajuan dalam satu negara, provinsi, kabupaten dan desa itu semua berada di tangan pemuda.

“Belajarlah melatih diri bagaimana menjadi orang yang iklas dalam berbuat, berfikir positif dan bagaimana menjadi orang yang lebih bermanfaat utuk orang lain,” kata Muslim.

Kalau itu bisa di lakukan, lanjutnya, biarpun kalian mau jadi Presiden, Gubernur dan BUPATI tetaplah istiqamah dalam memimpin. Semua jabatan dan apapun itu tenggantung Allah yang maha mengetahui dan maha benar.

“Apapun jabatan kita tidak boleh sombong, contoh seperti sekarang ini dengan menjadi anggota DPR-RI III Periode, Itu tidak ada apa-apa nya, kalau kita belum membantu dan berbuat ikhlas kepada orang lain,” terang muslim.

Tetapi, kata Muslim, jika bermanfaat bagi orang lain, itulah yang membuat kita nikmat hidup.

Oleh karena itu, Muslim sangat mendukung kegiatan para pemuda terutama IPPAT yang pada hari ini bisa mengumpulkan mahasiswa sebanyak mungkin dalam silaturahmi dan berdiskusi tentang peran pemuda.

“Sebagai dewan penasehat IPPAT harus mendukung penuh, sehingga bisa melahirkan kader-kader terbaik yang mewakili Aceh Timur untuk kedepan,” ungkapnya.

“Semua hal yang kita lakukan pada hari ini, sagat bermakna dan bermanfaat untuk masa yang akan datang. Kata bang muslim,” tambahnya.

Ketua umum IPPAT, Suriadi mengucapkan terima kasih kepada Bang Muslim yang sudah hadir menyempatkan waktu untuk bersilaturahim dan buka puasa bersama, kawan-kawan IPPAT.

Ia mengaku senang, karena Bang Muslim sebagai dewan penasehat selalu menyempatkan waktu dan berkontribusi penuh terhadap paguyuban IPPAT.

“Semoga dengan kegiatan ini, bisa menambah keakraban dan pengetahuan seluruh mahasiswa IPPAT dan kedepan bisa bermanfaat bagi masyarakat tentunya,” tutur Suriadi.[]

Reporter: Irfan

Disbudpar Mulai Gelar Festival Ramadhan 2021 di Taman Budaya Aceh

0
Kadisbudpar Aceh Jamaluddin

Nukilan.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Festival Ramadhan 2021 di Taman Seni dan Budaya, 26 April-2 Mei 2021.

Kegiatan tersebut dimulai setiap pukul 16.00 hingga 18.30, dan pukul 21.30 hingga 23.00 selepas terawih.
Mengusung tema Wonderful Ramadhan in Aceh bertujuan untuk menghidupkan kembali suasana Ramadhan melalui berbagai macam kegiatan positif berbasis syariah, selain juga menghadirkan Syiar Islam melalui kegiatan seni dan budaya yang menjadi Identity Culture di Aceh.

Disbudpar mentargetkan Festival Ramadhan 2021 dapat memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM dan Industri Kreatif dalam rangka meningkatkan Economic dan Financial Values ditengah pandemi COVID-19 ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin, SE., M.Si.,Ak., menyebutkan, kegiatan digelar untuk mempromosikan Aceh di mata dunia terutama di bulan Ramadhan bahwa di Aceh memiliki kekhasan dan keunikan dalam menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan sekaligus memberikan edukasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Inviroment Sustainable) penyelenggaran event di Era Pandemi Covid-19.

“Ditambah lagi, Aceh Festival Ramadhan 2021 diharapkan bisa menggerakkan dan membangkitkan kembali perekonomian masyarakat khususnya para pelaku UMKM di masa pandemi seperti ini,” ungkap Jamal.

Aceh Festival Ramadhan 2021 dikreasikan dengan sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, dimana content kegiatan kini berbasis Hybrid, yaitu memadukan antara offline dan juga online. Jadi, selain kegiatan yang berlangsung di lokasi, Aceh Festival Ramadhan 2021 juga akan disiarkan melalui kanal YouTube Disbudpar Aceh, serta akun Instagram @acehfestivalramadhan.

Sementara Kepala Bidang Pemasaran Teuku Hendra Faisal, SE, M.Si, menyampaikan untuk memeriahkan kegiatan ini ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan seperti Ramadhan Bazar, Creative Workshop, Kompetisi Da’I dan Hafiz Cilik serta beragam kegiatan religi lainnya. Tentunya kegiatan ini sangat menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19 yang ketat.

“Festival Ramadhan kali ini pengunjung hanya dibatasi sebanyak 250 orang yang akan diberikan bed khusus saat masuk ke arena Festival Ramadhan 2021 dan harus mematuhi protokol kesehatan COVID-19 yang ketat dan dalam pengawasan panitia serta petugas keamanan,” ungkap Hendra.

Para pengunjung nantinya akan disuguhkan berbagai pertunjukan seni dan budaya religi yang akan tampil, seperti musik gambus, komunitas drummer dan perkusi aceh, Dalail Khairat, tausyiah serta berbagai acara Islami lainnya. Harapannya dengan kegiatan ini mampu memotivasi masyarakat untuk membangkitkan kembali perekonomian di tengah pandemic Covid-19 melalui pola Adaptasi, Kolaborasi dan Inovasi.

Festival Ramadhan 2021 Disbudpar Aceh juga digelar dengan menjalankan prokes Covid-19. []

ji

Aceh Perketat Wilayah Perairan Antisipasi Eksodus Warga India Masuk

0

Nukilan.id – Cegah masuknya warga negara asing asal India melalui jalur laut, Kepolisian Resor Aceh Timur memperketat penjagaan wilayah dengan melakukan patroli di perairan Aceh Timur.

Tindakan itu dilakukan mengingat situasi dan kasus pandemik di negara tersebut melonjak tajam dengan varian baru COVID-19 yang bisa membuat penularan lebih cepat dalam beberapa hari terakhir.

Selain itu, dikabarkan bahwa banyak warga negara asal negara tersebut melakukan eksodus ke luar negeri, termasuk ke wilayah Indonesia.

“Informasi yang kami terima ada eksodus dari India menuju Indonesia,” kata Kepala Kepolisian Resor Aceh Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Widiantoro, pada Minggu (25/4/2021).

1. Mengerahkan personel untuk memantau dermaga maupun pelabuhan

Mengantisipasi masuknya warga negara asing asal India, Eko mengatakan telah memerintahkan Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Pol Airud), Satuan Sabhara dan kepolisian sektor (Polsek) yang memiliki wilayah perairan untuk melaksanakan patroli secara intensif baik siang maupun malam ke sejumlah dermaga maupun pelabuhan.

“Karena itu kami memerintahkan Sat Pol Airud, Sabhara dan polsek yang memiliki wilayah perairan untuk melakukan pemantauan secara ketat,” ujarnya.

2. Patroli juga memantau aktivitas kejahatan melalui jalur laut

Tidak hanya memantau keberadaan warga negara asing, patroli secara intensif ke dermaga maupun pelabuhan juga dilakukan sebagai antisipasi adanya tindak kejahatan lain berupa penyelundupan barang-barang terlarang.

Hal itu berkaca dari beberapa pengungkapan tindakpidana penyalahgunaan narkotika yang pernah ditindak pihak kepolisian, Badan Narkotika Nasional maupun bea cukai.

“Kebanyakan narkotika jenis sabu diselundupkan dari luar negeri melalui jalur laut,” ujar Eko.

3. Peran para nelayan juga dibutuhkan dalam mencegah masuknya warga negara asing

Demi memastikan warga negara asing asal India tidak masuk ke wilayah perairan di Aceh Timur, pihak kepolisian mengajak para nelayan untuk berperan ikut memantau keberadaan para eksodus.

“Bila menemukan di perairan wilayah hukum Polres Aceh Timur diminta untuk segera melapor kepada kami atau instansi terkait agar diambil langkah penanganan,” imbaunya.

“Kegiatan patroli ini akan terus kita lakukan sekaligus untuk memantau perkembangan situasi saat ini,” imbuh Eko.[idmtimes]

Ibadah di Masjid Tua Indrapuri, Peninggalan Peradaban Islam di Aceh

0
Masjid Tua Indrapuri Aceh Besar. ANTARA.

Nukilan.id – Di bekas bangunan candi, bangunan berkonstruksi kayu itu masih berdiri kokoh di kawasan Gampong Keude, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Masjid Tua Indrapuri, itulah bangunan berumur ratusan tahun yang menjadi bagian dari bukti dari peradaban Islam. Masjid yang saat ini masih berdiri kokoh tersebut, menjadi tempat ibadah bagi umat Islam, khususnya masyarakat sekitar dan Aceh pada umumnya.

Masjid Tua Indrapuri berbentuk piramida dengan atap bertingkat tiga ditopang oleh 36 tiang dan berdinding langsung dengan tembok bekas candi di masa era pra-Islam. Setiap sisi atas masih terlihat ukiran-ukiran kayu tempo dulu menjadi penghubung antara satu pilar ke pilar lainnya.

Masjid Tua Indrapuri tepatnya berdiri di atas fondasi tinggi di tengah-tengah pelantaran luas yang terbagi dalam tiga bagian, yakni bagian utama tangga dan kedua pelantaran luas yang memagari masjid serta terdapat kolam kecil yang menjadi tempat untuk mencuci kaki dan berwudu.

Pada sisi kanan masjid terdapat bangunan kayu berlantai dua yang dulunya menjadi tempat muazin untuk mengumandangkan azan saat Shalat Fardu tiba.

Di dalam masjid berlantai keramik tersebut terlihat beberapa umat melantunkan ayat suci Al Quran seraya menunggu waktu Shalat Fardu Zuhur tiba di masjid bersejarah yang saat ini masih kokoh berdiri di Indrapuri.

Baca juga: Inong Balee, Para Pejuang Perempuan Dalam Lintasan Sejarah Aceh

Selain membaca Al Quran dan bermunajat kepada Sang Khalik di bulan penuh mulia tersebut, juga terlihat ada beberapa anggota jamaah membaringkan badannya sejenak menunggu azan tiba di masjid berbatasan langsung dengan sungai dan ikut dikelilingi pepohonan tua dan muda yang ikut menambah kesejukan dalam masjid.

Menunggu waktu Shalat Fardu tiba khususnya, menjadi salah satu rutinitas yang dilakukan warga setempat dan masyarakat pendatang terutama pada Bulan Suci Ramadhan.

Menurut literatur, Masjid Tua Indrapuri dibangun pada masa pemerintah Sultan Iskandar Muda pada 1607-1636 Masehi di atas bangunan pra-Islam. Dari segi arsitektur Masjid Indrapuri masih terpengaruh dengan budaya Hindu yang terlihat dari atapnya yang bertingkat-tingkat.

Masjid Indrapuri juga menjadi tempat bersejarah di masa itu yakni pernah digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Muhammad Daud Syah pada 1878 Masehi sebagai Sultan Aceh. Muhammad Daud Syah merupakan Sultan Aceh terakhir atau sultan ke-35.

Wakil Imam Masjid Tua Indrapuri Naimullah juga menceritakan bahwa konon sebelum dibangun masjid, lokasi tersebut merupakan salah satu pura sekaligus benteng Kerajaan Lamuri.

“Kerajaan Lamuri merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang diyakini pernah berjaya di ujung Pulau Sumatera,” kata dia.

Naim menjelaskan selama Bulan Ramadhan, masyarakat selalu memenuhi saf-saf masjid untuk beribadah, seperti Shalat Fardu, Shalat Jumat, hingga Shalat Tarawih.

“Kalau di Bulan Puasa ini aktivitas ibadah tetap berjalan sebagaimana biasanya, seperti Shalat Fardu, Shalat Jumat, dan malamnya tetap ada Shalat Tarawih. Tapi aktivitas tadarus tidak ada, karena masyarakat di sini masing-masing melakukan tadarus di gampongnya. Masjid ini berada di bawah empat gampong,” katanya.

Selama pandemi hampir tidak ada wisatawan luar negeri khususnya dari Negeri Jiran yang datang ke masjid berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Banda Aceh itu. Mereka kerap melaksanakan ibadah seraya menyaksikan langsung peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh di “Bumi Iskandar Muda” tersebut.

“Pandemi membatasi para wisatawan muslim untuk berkunjung ke sini, padahal sebelum pandemi, banyak wisatawan asal Malaysia yang berkunjung untuk melihat lihat bangunan masjid dan shalat di sini,” katanya.

Budayawan Aceh Tarmizi A Hamid mengatakan bangunan Masjid Tua Indrapuri yang berada di Kabupaten Aceh Besar tersebut, bagian dari cara orang Aceh dahulu menjaga keberagaman sosial masyarakat dalam mempersatukan Aceh menjadi kuat.

“Artinya Masjid Tua Indrapuri itu tidak ada yang diubah, di bangun di bekas pura dan ini juga bagian dari menghargai kesepakatan dari kerajaan Hindu-Buddha dileburkan menjadi Kerajaan Islam Darussalam. Padahal banyak tanah kerajaan, namun, memilih lokasi tersebut untuk membangun masjid tanpa merusak dasar yang telah ada” kata dia.

Ia menjelaskan masjid peninggalan masa lalu tersebut dibangun dengan arsitek khas dengan tetap tidak bertentangan dengan syariat Islam yang berlaku di negeri tersebut.

Ia berharap, masjid yang telah berumur ratusan tahun dan merupakan peninggalan para leluhur tersebut dapat terus dijaga dan dipugar sehingga dapat menjadi warisan bagi generasi mendatang.

“Peninggalan ini harus terus dijaga karena bagian penghormatan kita kepada leluhur dan ini juga menjadi bukti bahwa orang Aceh tempo dulu telah memperlihatkan Aceh sangat damai. Aceh sangat damai dalam menjaga sosial keagamaan dan ini juga terus dilestarikan oleh masyarakat Aceh secara turun-temurun hingga kini,” katanya.

Selain bangunan Masjid Tua Indrapuri, Tarmizi menambahkan ada juga permainan rakyat yang dimainkan saat kerajaan Hindu-Buddha, juga ikut dimodifikasi dan disesuaikan dengan syariat Islam.

Semoga Masjid Tua Indrapuri yang menjadi situs cagar budaya peninggalan masa kesultanan tersebut terus terawat dan berdiri kokoh serta menjadi bukti tentang peradaban Islam yang memiliki nilai penting bagi generasi Aceh khususnya dan dunia di masa mendatang.[antara]

Bardan Sahidi Apresiasi Pemkab Aceh Besar Gagas Bangun Lapas Narkoba di Pulo Aceh

0
Bardan Sahidi

Nukilan.id – Anggota Komisi I DPRA dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bardan Sahidi, mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh Besar untuk membangun Lapas Narkoba Aceh di Pulo Aceh.

“Pemikiran dan gagasan yang cerdas memilih lokasi Pulo Aceh. Itu sangat strategis, ” Kata Bardan Sahidi ketia dihubungi melalui WhatApps Senin (26/4/2021).

Menurut Bardan, untuk izin membangun lapas tentu Bupati Aceh Besar, sementara bangunannya bisa berasal dari pemerintah Aceh,” ujar Bardan.

Untuk membina para napi–katanya–bisa lebih mudah dan berkelanjutan.

“Napi juga sangat sulit melarikan diri karena tidak mudah mendapatkan boat atau alat transportasi lainnya,” jelas Bardan.

Katanya, pembangunan lapas Narkoba di Pulo Aceh bisa menjadi program prioritas.[red]