NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Meningkatnya berbagai bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dalam beberapa tahun terakhir mendorong media lokal Nukilan.id meluncurkan gerakan lingkungan bertajuk Nukilan Green pada Selasa (2/12/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pencegahan Polusi Sedunia (World Pollution Prevention Day).
Gerakan ini lahir dari kegelisahan tim redaksi Nukilan.id yang hampir setiap hari memberitakan berbagai persoalan lingkungan di Aceh. Mulai dari banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, hingga persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Sebagai media lokal yang dekat dengan berbagai dinamika masyarakat, Nukilan.id menilai berbagai bencana yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Selain faktor alam, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan juga dinilai turut memperbesar risiko terjadinya bencana.
Inisiator Nukilan Green, Akil Rahmatillah, mengatakan gagasan membentuk gerakan tersebut muncul setelah tim redaksi berulang kali menyaksikan dampak kerusakan lingkungan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami hampir setiap hari memberitakan banjir, abrasi, cuaca ekstrem, kerusakan lingkungan, hingga persoalan sampah. Dari situ muncul pertanyaan dalam diri kami, apakah cukup jika kami hanya menjadi saksi dan menuliskannya dalam berita tanpa ikut mengambil bagian dalam solusi?” kata Akil.
Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Aceh sesungguhnya saling berkaitan. Salah satu persoalan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat adalah masalah sampah.
Akil menjelaskan bahwa sampah bukan hanya persoalan kebersihan semata, melainkan juga menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan yang berdampak luas terhadap kualitas udara, air, dan tanah.
“Tumpukan sampah menghasilkan gas metana yang mempercepat pemanasan global. Sampah yang dibakar secara terbuka menghasilkan zat berbahaya yang mengganggu kesehatan. Plastik yang dibuang sembarangan mencemari sungai dan laut, bahkan berubah menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim Nukilan.id memutuskan untuk tidak hanya menyuarakan persoalan lingkungan melalui pemberitaan, tetapi juga membangun gerakan nyata yang dimulai dari lingkungan kerja mereka sendiri.
Pemilihan tanggal 2 Desember sebagai hari peluncuran Nukilan Green juga memiliki makna khusus. Momentum Hari Pencegahan Polusi Sedunia dipilih sebagai pengingat bahwa upaya mencegah polusi dan menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami sengaja meluncurkan Nukilan Green pada Hari Pencegahan Polusi Sedunia karena kami ingin menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Melalui Nukilan Green, tim Nukilan.id mulai menerapkan sejumlah langkah sederhana namun berdampak, seperti pemilahan sampah, pengumpulan minyak jelantah, pengurangan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, serta kampanye edukasi lingkungan melalui artikel dan pemberitaan.
Menurut Akil, pendekatan tersebut dipilih karena perubahan perilaku merupakan fondasi utama dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
“Kami percaya perubahan besar tidak selalu dimulai dari program besar. Perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Sebelum mengajak masyarakat, kami ingin terlebih dahulu membangun budaya itu di lingkungan kami sendiri,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa dalam enam bulan pertama, Nukilan Green menargetkan terbentuknya budaya pemilahan sampah dan pengumpulan minyak jelantah di lingkungan kerja. Selain itu, gerakan tersebut juga akan mendorong penerbitan berbagai artikel edukasi lingkungan serta pengelolaan sampah bernilai ekonomi yang hasilnya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan dan komunitas.
Setelah melewati fase awal selama enam bulan, gerakan ini ditargetkan akan diperluas melalui kolaborasi dengan masyarakat, sekolah, kampus, dan berbagai komunitas di Aceh.
Melalui tagline “Lingkungan Terjaga, Masyarakat Berdaya”, Nukilan Green berharap dapat menjadi model gerakan lingkungan berbasis perubahan perilaku yang mudah diterapkan dan direplikasi oleh berbagai kalangan.
“Kami ingin membuktikan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan. Setiap orang bisa mengambil peran. Jika perubahan kecil dilakukan secara bersama-sama, dampaknya akan jauh lebih besar bagi masa depan Aceh,” kata Akil.
Dengan semangat tersebut, Nukilan Green diharapkan tidak hanya menjadi gerakan internal sebuah media, tetapi juga mampu menginspirasi lahirnya lebih banyak inisiatif lingkungan berbasis masyarakat demi mewujudkan Aceh yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.




