Nilam Aceh Bangkit dari Masa Surut, Integrasi Petani hingga Digitalisasi Dorong Ekspor

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Di ujung barat Indonesia, sebuah komoditas yang sejak lama dikenal dunia perlahan kembali menemukan momentumnya. Tanaman nilam—atau patchouli dalam perdagangan global—kini kembali menjadi harapan baru bagi petani di Aceh setelah sempat mengalami masa keterpurukan akibat fluktuasi harga yang tajam.

Sejak era kolonial, nilam telah menjadi salah satu komoditas unggulan Aceh. Tanaman ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun dalam dua dekade terakhir, ketidakstabilan harga membuat banyak petani meninggalkan komoditas tersebut.

Ketua Kelompok Tani Seulawah Agam, Jakfar Siddiq, mengenang masa ketika nilam menjadi primadona di Desa Teuladan, Aceh Besar. Sejak 1998, hampir seluruh kebun warga ditanami nilam karena harga minyaknya pernah menembus Rp1 juta per kilogram.

Situasi berubah drastis ketika harga jatuh hingga Rp85 ribu per kilogram, memaksa petani beralih ke komoditas lain.

“Di tahun 2024 ini baru muncul lagi nilam. Ini nampaknya kalau enggak bertahan harga, anjlok lagi, ini yang jadi permasalahan nilam dan akan beralih ke jagung,” ujarnya saat ditemui di lahannya di Aceh Besar, dikutip Minggu (1/3/2026).

Kini, sekitar 20 hektare lahan kembali ditanami nilam. Tantangan budidaya masih dihadapi petani, terutama pertumbuhan gulma yang cepat pada tanah subur sehingga pembersihan rumput harus dilakukan dua hingga empat kali dalam satu musim tanam. Meski demikian, hama dan penyakit relatif lebih terkendali berkat penggunaan cairan khusus.

Dalam proses produksi, kualitas menjadi faktor utama. Dari sekitar 50 kilogram daun nilam, rata-rata hanya menghasilkan 1,3 kilogram minyak nilam, sehingga ketelitian saat panen dan pengolahan sangat menentukan nilai jual.

Tata Kelola Jadi Persoalan Utama

Di sektor hilir, Direktur Razma Agro Jayana, Razuan, menilai persoalan utama industri nilam bukan terletak pada permintaan pasar global. Justru, menurutnya, kebutuhan dunia terhadap minyak nilam masih jauh lebih besar dibanding pasokan yang tersedia.

Kebutuhan global diperkirakan mencapai 2.000–2.500 ton per tahun, sementara produksi baru berkisar 1.000–1.200 ton.

“Sekarang pembeli luar negeri tidak hanya tanya harga. Mereka tanya siapa petaninya, kapan tanamnya, bagaimana prosesnya. Semua harus jelas,” ujarnya.

Menurut Razuan, masalah klasik berada pada tata kelola rantai pasok serta ketidakpastian harga di tingkat petani. Untuk mengatasinya, perusahaan menerapkan sistem contract farming, di mana petani memperoleh jaminan pembeli, harga minimal, serta akses pembiayaan.

Biaya penanaman nilam per hektare berkisar Rp50 juta hingga Rp70 juta. Dengan produktivitas rata-rata 200–300 kilogram per tahun, potensi pendapatan bersih petani dapat mencapai sekitar Rp10 juta per bulan, bergantung pada harga pasar.

“Kalau satu hektare itu, meskipun hanya menghasilkan 150 kilogram per tahun, pendapatannya sudah setara upah minimum,” katanya.

Hingga 2026, Razma Agro Jayana telah mengintegrasikan sekitar 500 petani dengan total luas lahan 592 hektare di delapan kabupaten/kota melalui sistem Razma Digitalize Nilam Ecosystem yang memungkinkan penelusuran produksi dari kebun hingga proses ekspor.

Harga Global Masih Berpengaruh

Di tingkat eksportir, Direktur PT U Green Aromatic International, Faisal Alfarisi, menjelaskan bahwa harga minyak nilam tetap sangat bergantung pada dinamika pasar internasional.

Saat ini harga minyak nilam berada di kisaran Rp680 ribu hingga Rp700 ribu per kilogram. Nilai tersebut lebih rendah dibanding akhir 2024 yang sempat mencapai Rp1,35 juta bahkan Rp2 juta di sejumlah wilayah.

“HPP minyak nilam berada di kisaran Rp500 ribu sampai Rp550 ribu per kilogram. Jadi secara hitungan masih ada keuntungan,” ujarnya.

Perusahaan mengekspor minyak nilam ke Prancis dan Amerika Serikat. Namun harga pembelian tetap mengikuti permintaan pembeli luar negeri.

“Kalau buyer kita beli turun, kita juga harus beli dari petani turun. Tapi kalau naik, kita juga naikkan,” katanya.

Tantangan Literasi Digital Petani

Dari kalangan akademisi, Dosen Agribisnis Universitas Syiah Kuala, Ade Surya Mandira, melihat transformasi industri nilam kini mulai bergerak melalui platform digital Mynila yang terhubung dengan Integrated Reporting Platform (IRP). Sistem ini mencatat data petani, lahan, produksi, hingga transaksi secara terintegrasi.

“Bukan karena petaninya tidak mau, tetapi memang keterbatasan literasi digital dan jaringan,” ujarnya.

Ia menilai digitalisasi rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan transparansi sekaligus membangun kepercayaan pembeli global. Selain itu, sistem pencatatan digital juga membuka peluang akses pembiayaan perbankan bagi petani.

Setelah sempat terpuruk, nilam Aceh kini perlahan kembali menunjukkan kebangkitannya. Melalui integrasi petani, kepastian kontrak, serta pemanfaatan teknologi digital, komoditas yang pernah disebut sebagai “emas hijau” itu kembali menembus pasar ekspor dan membuka harapan baru bagi sektor pertanian Aceh.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News