Tuesday, April 23, 2024

Mude Kala, Ulama dan Seniman yang Terjemahkan Tafsir Al-Qur’an ke Bahasa Gayo

ABDURRAHIM Daudy atau dikenal dengan sebutan Mude Kala adalah seniman, ulama, birokrat dan pendidik. Namanya kerap disebut sebagai Hamzah Fansuri tanah Gayo lantaran karya-karyanya terus hidup dan menjadi perhatian banyak kalangan. Dialah satu-satunya putra Gayo yang menulis tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Gayo yang kemudian diterbitkan di Mesir pada tahun 1938.

Sejarawan alumnus Universitas Gajah Mada Jogyakarta dan putra kandung ulama Gayo moderat asal kenawat Lut, Tengku Ibrahim Mantik, Mukhtaruddin Mango menyebutkan Nama Tengku Mude Kala dikenal setelah dalam sejumlah karyanya tercantum nama tersebut, sehingga nama asli Tengku Abdurrahim Daudy tidak popular. Tengku Mude Kala lahir tahun 1910 di Kampung Kebayakan, Aceh Tengah yang sekarang menjadi nama Kecamatan Kebayakan. Dia adalah anak tertua dari pasangan Tengku Daud dan Jemi’ah. Salah seorang kepenokan Tengku Mude Kala, Syukran Daudy yang akrap disapa U’an ketika dikonfirmasi menyebutkan, pamannya itu mempunyai empat orang saudara diantaranya Samiala Inen Cut, Banta Cut Dailany, Bantara Syam dan Sulaiman Daudy.

Tengku Mude Kala menempuh pendidikan sekitar tahun 1926 dan berhasil menyelesaikan gubernemen kelas II di Takengon. Sementara pendidikan agama diperolehnya dari pesantren pada tahun 1928, Mude Kala juga pengajar di Volkschool Kebayakan. Selanjutnya, tahun 1932 ia menjadi guru Muhammadiyah Jacobshool di Teritit, Kabupaten Bener Meriah.

Sekitar tahun 1936-1939 Tengku Muda Kala tercatat sebagai tenaga pendidik Alma Danis dan Baitul Maal di Takengon. Jadirnya Jepang ke nusantara, termasuk Takengon, Tengku . Mude Kala pun bergabung bersama Son Ku Hoin asal Jepang untuk wilayah Syah Utama, Toweren, Aceh Tengah.

Sebagai ulama, Tengku Mude Kala kerap melakukan dakwah dan syiar agama. Dalam syiarnya itu, selain ceramah atau interaksi sosial, Mude Kala juga mendendangkan syair-syair yang dia ciptakan. Syair-syair itu dia dendangkan setiap kali ada kesempatan, baik di rumah-rumah penduduk maupun di mersah (mushalla) dan masjid.

Dari sejumlah literatur ditemukan, syair-syair (Gayo-Saer) Mude Kala berisi tentang ajaran agama Islam yang bersumber dari tafsir Al-Qur’an dan hadis nabi. Tema yang diangkatpun sangat beragam, mulai dari masalah ibadah wajib, tentang dunia akherat sampai kepada pergaulan muda-mudi hingga hubungan suami istri. Tema-tema tersebut ia tulis dan dendangkan dengan bahasa yang lugas dengan pola persajakan aa-aa. Sebuah genre persajakan yang mengikuti persajakan 4-6 baris perbait seperti layaknya syair-syair Didong.

Mude Kala bersama kerabat. (Foto: Dok. Salman Yoga)

Syair-syair syiar yang ditulis Tengku Mude Kala itu seperti petikan Saer berjudul “Haram Ku Kaum Ibu” berikut dengan terjemahannya:

Keta haram ku kaum ibu
Nisé mudemu bau ni serge
Patut ipikiri ku kaum istri
Cerakni nabi oyale mulo

(Haram kepada kaum ibu
Baginya mendapat baunya surga
Pantas dijadikan pikiran bagi kaum istri
Perkataan nabi itulah dulu)

Kati beta cerakni nabi
Nge ara terjadi ara nge conto
Séba tebi’et ni jema banan
Nisé percerakan gere bertaso

(Mengapa demikian kata nabi
Sudah ada terjadi sebagai contoh
Sebagian tabiat kaum perempuan
Perkataan tidak tidak ada rahasia)

Syairnya itu sangat kental dengan nilai-nilai yang ditransfer kedalam bentuk Saer sehingga masyarakat sangat menyukainya, walaupun diantara isi dan muatannya sangat bersinggungan langsung dengan kehidupan ril masyarakat kala itu. Konsistensi Tengku Mude Kala dalam berkarya sekaligus berdakwah terus berlanjut hingga ia mempunyai ruang interaksi yang lebih luas. Baik dikalangan birokrasi maupun strata sosial, hingga antara tahun 1936-1938 salah seorang tokoh muda yang kemudian menjadi Bupati pertama Aceh Tengah Abdul Wahab, bersedia membiayai penerbitan buku tafsir pertamanya dalam bahasa Gayo.

Sebelum Tengku Mude Kala wafat pada tahun 1961, menurut catatan Mukhtaruddin Mango Tengku Mude Kala pernah bekerja menjadi Mukim Kampung dalam kurun waktu 1946-1955 dan menjadi anggota Mahkamah Syara’iyah Kewedanan Takengon antara tahun 1948-1955, terakhir ia bekerja sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bukit serta menjadi anggota Ksatriya Pesindo Devisi Rencong pada masa kemerdekaan tahun 1945-1949. Dari pekerjaannya yang terakhir ini, Tengku Mude Kala tercatat sebagai anggota Legium Veteran Repubrik Indonesia. (Salman Yoga S / Atjeh Times)

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img