Melihat Suasana Hangat Berbuka di Masjid Raya Baiturrahman 

Share

NUKILAN.id | Feature – Langit senja di Kota Banda Aceh perlahan berubah jingga ketika azan Magrib masih menunggu beberapa menit lagi. Di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, ratusan warga telah lebih dulu memadati area halaman. Sebagian duduk beralas sajadah, lainnya menggelar tikar sederhana, membentuk lingkaran-lingkaran kecil bersama keluarga.

Amatan Wartawan Nukilan di lokasi, sejak pukul 16.30 WIB, masyarakat mulai berdatangan. Ada yang datang menggandeng anak, membawa kerabat, hingga rombongan kecil yang sengaja janjian untuk berbuka bersama. Tawa kecil anak-anak berpadu dengan obrolan ringan orang dewasa, menciptakan suasana hangat di bawah payung raksasa masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu.

Di antara keramaian tersebut, Lisna Shella, seorang warga asal Ajun Jeumpet, Aceh Besar, tampak duduk bersama keluarga dan saudaranya. Ia mengaku sengaja memilih berbuka puasa di Masjid Raya Baiturrahman karena suasananya yang sarat kebersamaan dan religius.

“Di sini rasanya lebih berkesan. Suasananya penuh kebersamaan dan nuansa religi. Kalau buka di restoran atau tempat makan biasa, rasanya berbeda,” ujar Shella kepada Nukilan, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, momen berbuka di masjid tidak hanya soal menikmati hidangan, tetapi juga tentang merasakan kekhusyukan dan kebersamaan dalam ibadah. Apalagi, di lokasi yang sama juga digelar Aceh Ramadhan Festival 2026 yang semakin menambah semarak suasana.

Festival yang resmi dibuka pada Minggu (1/3/2026) sore itu berlangsung hingga 7 Maret 2026, mengusung tema “The Truly Spiritual Journey in Serambi Mekkah.” Beragam kegiatan dan stan kuliner tersaji di area sekitar masjid,memudahkan masyarakat mendapatkan takjil tanpa harus berjalan jauh.

“Kebetulan ada Ramadhan Festival, jadi beli takjil juga mudah. Tinggal ke depan masjid saja, tidak perlu jauh-jauh,” katanya.

Aneka makanan dan minuman berjajar rapi di stan-stan penjual. Mulai dari kue tradisional, es buah, hingga hidangan khas berbuka puasa, semuanya menggoda selera. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan wangi teh dan sirup, mengisi udara senja.

Fenomena berbuka puasa di pelataran Masjid Raya Baiturrahman bukanlah hal baru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah kembali menyelenggarakan berbagai agenda Ramadan untuk memeriahkan bulan suci. Tradisi ini seakan menjadi magnet tahunan yang selalu dinantikan warga.

Menjelang azan Magrib, suasana perlahan berubah lebih tenang. Obrolan mereda, sebagian menengadahkan tangan untuk berdoa, sementara lainnya menatap jam dengan harap. Ketika azan akhirnya berkumandang, ratusan tangan serempak meraih air dan kurma, memulai buka puasa dengan khidmat.

Di bawah langit yang mulai gelap dan lampu-lampu masjid yang menyala terang, kebersamaan itu terasa utuh. Ramadan di Banda Aceh bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga tentang perjumpaan, persaudaraan, dan perjalanan spiritual yang dirasakan bersama—tepat seperti tema yang diusung tahun ini.

Reproter: Rezi

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News