May Day di Banda Aceh: Tuntutan Lama Tak Kunjung Terjawab

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Banda Aceh berlangsung tertib dan meriah. Aksi yang dipusatkan di kawasan Masjid Raya Baiturrahman itu digelar oleh Aliansi Buruh Aceh (ABA) sejak pagi hingga siang, Jumat (1/5/2026).

Sekitar 200 peserta mengikuti kegiatan yang dipimpin koordinator lapangan Syukurullah. Massa mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan pembukaan, orasi, konvoi, hingga bakti sosial di Taman Sari Banda Aceh.

Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, Karoops Polda Aceh Brigjen Pol. Heri Heriyandi, Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol. Andi Kirana, Kadisnakertrans Aceh Akmil Husen, serta anggota DPRA Rijaluddin dan Tgk. Rasyidin. Hadir pula pengurus ABA, perwakilan serikat pekerja, dan awak media.

Dalam aksi tersebut, ABA kembali menyuarakan sejumlah tuntutan yang menjadi perhatian kalangan buruh, seperti pengesahan regulasi ketenagakerjaan, penghapusan sistem outsourcing, penolakan upah murah, penghentian ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perlindungan bagi pekerja rumah tangga.

Selain itu, massa juga mendesak ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 tentang penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, serta mendorong reformasi perpajakan yang berpihak kepada pekerja.

ABA juga menyoroti pentingnya implementasi Qanun Ketenagakerjaan Aceh, termasuk tunjangan meugang bagi pekerja, penetapan upah sektoral kelistrikan, serta pelaksanaan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) sebagai hak dasar masyarakat.

Dalam sambutan pembuka, panitia menyampaikan bahwa May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum perjuangan buruh untuk memperoleh hak yang layak.

Koordinator lapangan aksi, Syukurullah, menegaskan bahwa peringatan May Day merupakan hari perjuangan. Ia juga mengingatkan peserta untuk tetap tertib selama konvoi dan mematuhi aturan lalu lintas.

Usai pembukaan, massa melakukan konvoi dari kawasan Masjid Raya menuju Simpang Lima, depan Gedung DPRA, Jambo Tape, Simpang Surabaya, kawasan Peniti, Simpang Kodim, Pendopo Gubernur Aceh, dan berakhir di Taman Sari.

Di lokasi akhir, orasi kembali digelar. Ketua ABA Saiful Mar menilai pemerintah perlu lebih serius menekan angka pengangguran dan kemiskinan melalui kebijakan nyata. Sementara Sekretaris ABA, Habibi Inseun, menekankan pentingnya prinsip tiga layak bagi pekerja, yakni pekerjaan layak, upah layak, dan kehidupan layak.

Dari pihak pemerintah, Kadisnakermobduk Aceh Akmil Husen menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh terus mendorong hubungan industrial yang harmonis. Ia juga mengajak pekerja untuk aktif melaporkan pelanggaran norma ketenagakerjaan serta menyinggung kehadiran Qanun Ketenagakerjaan Nomor 1 Tahun 2024 sebagai payung hukum perlindungan buruh.

Ketua Komisi V DPRA Rijaluddin mengakui bahwa sektor ketenagakerjaan masih menghadapi berbagai tantangan. Ia menilai dukungan buruh penting agar isu tenaga kerja mendapat perhatian lebih dalam kebijakan dan penganggaran daerah.

Menjelang siang, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial berupa santunan kematian kepada ahli waris, pembagian bantuan pangan, serta donor darah. Sebanyak 2.500 kilogram beras atau 500 sak disalurkan kepada buruh sebagai bantuan.

Aksi May Day di Banda Aceh berlangsung aman dan tertib hingga memasuki waktu istirahat Jumat. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlanjut kembali pada pukul 14.00 WIB.

Peringatan May Day 2026 ini tidak hanya menjadi ajang penyampaian aspirasi, tetapi juga menunjukkan upaya buruh Aceh dalam menyuarakan tuntutan secara damai, terorganisir, dan penuh harapan akan perubahan kondisi ketenagakerjaan yang lebih baik di Tanah Rencong. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News