NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Lumpur yang menimbun puluhan ribu hektare lahan persawahan akibat banjir dan longsor di Aceh kini tengah dikaji sebagai bahan baku pembuatan bata ringan. Penelitian tersebut diharapkan tidak hanya membantu mempercepat pemulihan lahan pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat terdampak bencana.
Riset ini merupakan kolaborasi antara Forum Zakat Research Hub, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Syiah Kuala (USK), dan Nurul Hayat.
Perkembangan penelitian tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan antara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, M.P., IPU, ASEAN Eng., dengan Project Coordinator Program Lumpur Jadi Bata, Humairoh Anahdi, di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Pertemuan itu difokuskan pada evaluasi kemajuan riset sekaligus membahas langkah-langkah yang diperlukan agar hasil penelitian dapat segera diterapkan di lapangan.
Program ini berangkat dari besarnya dampak banjir dan longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025. Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, bencana tersebut mengakibatkan sekitar 57.364 hektare areal persawahan terdampak. Dari jumlah itu, 27.437 hektare mengalami kerusakan ringan, 13.651 hektare rusak sedang, sedangkan 16.276 hektare lainnya masuk kategori rusak berat.
Penanganan terhadap lahan dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang telah dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota. Namun, sawah yang mengalami kerusakan berat masih membutuhkan pendekatan yang lebih efektif agar kembali produktif.
Humairoh Anahdi menjelaskan, tim peneliti saat ini masih menyempurnakan hasil kajian sebelum memasuki tahap implementasi.
Dalam waktu dekat, kata dia, tim akan menggelar rapat internal yang kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Forum tersebut akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang sebagai daerah tempat pengambilan sampel tanah.
Menurut Humairoh, FGD bertujuan memaparkan hasil penelitian sekaligus menghimpun berbagai masukan terkait rencana pelaksanaan program. Pembahasan juga akan mencakup penentuan lokasi proyek percontohan, penempatan mesin produksi bata ringan, hingga model pengelolaan usaha dan strategi pemasarannya.
Ia mengatakan, penelitian tahap awal difokuskan pada pengembangan bata ringan berbahan dasar lumpur sawah. Ke depan, teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan untuk menghasilkan bata bakar.
Selain memberikan solusi terhadap endapan lumpur di lahan pertanian, program ini diharapkan mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Humairoh juga berharap hasil produksi bata ringan nantinya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun berbagai pihak sebagai material pembangunan rumah, fasilitas umum, maupun infrastruktur lainnya sehingga tercipta pasar yang berkelanjutan.
Sementara itu, Azanuddin Kurnia menyampaikan dukungannya terhadap percepatan implementasi hasil penelitian tersebut. Menurutnya, pemanfaatan lumpur sebagai bahan bangunan telah lama menjadi gagasan yang ingin diwujudkan, namun pelaksanaannya membutuhkan sinergi banyak pihak.
Ia menilai kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, organisasi sosial, dan pemerintah menjadi kunci agar inovasi tersebut benar-benar dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Azanuddin juga mendorong keterlibatan lebih banyak instansi dalam FGD mendatang. Dengan demikian, setiap tahapan pelaksanaan program dapat dipahami bersama sehingga proses implementasi berjalan lebih efektif.
Menurutnya, tantangan berikutnya bukan hanya pada aspek teknologi, tetapi juga membangun penerimaan masyarakat terhadap penggunaan bata ringan yang hingga kini belum menjadi material bangunan yang umum digunakan di Aceh.
Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi bagian penting agar inovasi tersebut dapat diterima sekaligus memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Ia berharap lumpur yang selama ini menjadi kendala bagi petani dapat diubah menjadi sumber nilai tambah, sehingga lahan pertanian dapat dipulihkan dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk kembali membangun mata pencaharian mereka.
Selain berkoordinasi dengan Forum Zakat Research Hub, Azanuddin mengungkapkan pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan Prof. Abdullah dari Universitas Syiah Kuala yang tergabung dalam tim peneliti. Pemerintah Aceh berharap seluruh tahapan riset dapat segera diselesaikan sehingga teknologi pemanfaatan lumpur menjadi bata ringan dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi petani di daerah terdampak bencana.






