Kuliah Doktoral di UK Lewat LPDP, Saddam Rassanjani Ajak Anak Muda Aceh Berani Bermimpi

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Minat terhadap beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2024, jumlah pendaftar mencapai 51.027 orang, terdiri dari 20.307 pendaftar pada seleksi tahap I dan 30.720 pendaftar pada seleksi tahap II.

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa program beasiswa LPDP semakin diminati dan dipercaya sebagai pintu masuk untuk meraih pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Namun, di tengah euforia peningkatan peminat beasiswa ini, kenyataannya masih banyak mahasiswa asal Aceh yang belum memanfaatkan peluang tersebut. Padahal, Aceh merupakan salah satu wilayah afirmasi dalam program LPDP yang mendapatkan perhatian khusus, baik dari sisi kuota maupun kebijakan seleksi. Sayangnya, hal ini belum direspons secara maksimal oleh para pemuda di Serambi Mekkah.

Meski demikian, harapan tetap hadir dari mereka yang telah berani melangkah dan membuktikan bahwa putra Aceh juga mampu bersaing di kancah global. Salah satunya adalah Saddam Rassanjani, putra Aceh yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di United Kingdom melalui beasiswa LPDP.

Dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Selasa (1/7/2025), Saddam berbagi kisah inspiratif yang diharapkan dapat memotivasi generasi muda Aceh untuk lebih percaya diri dalam mengejar mimpi, termasuk lewat jalur beasiswa prestisius seperti LPDP.

Bagi Saddam, pengalaman belajar di luar negeri menjadi ruang pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar akademik. Saddam mengaku banyak hal berharga yang ia petik selama menjalani kehidupan sebagai pelajar di luar negeri.

“Belajar di luar negeri membuka cakrawala baru yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dunia ini begitu luas, begitu beragam, dan penuh pelajaran berharga. Kita belajar tidak hanya dari buku dan ruang kuliah, tapi dari interaksi lintas budaya, dari sistem yang berbeda, dan dari tantangan hidup di negeri orang,” ungkapnya.

Menurut Saddam, tantangan yang dihadapi selama studi di luar negeri justru menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan dan membentuk cara pandang yang lebih matang terhadap kehidupan. Dalam konteks ini, ia menggunakan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai analogi mendalam tentang makna perubahan dan pertumbuhan diri.

“Semua itu membentuk cara pandang yang lebih matang dan reflektif. Kita perlu untuk lebih sering merenungkan hijrah Nabi sebagai analogi—bahwa kadang kita memang perlu berpindah dari zona nyaman, keluar dari tempat asal, demi menjemput ilmu dan peluang kebaikan yang lebih besar,” tuturnya.

Lebih dari sekadar perpindahan fisik, Saddam melihat perjalanan akademiknya sebagai bentuk komitmen terhadap perubahan diri. Baginya, hijrah adalah simbol pertumbuhan dan perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tapi sebuah komitmen untuk berubah dan tumbuh. Dan pengalaman itu, menurut saya, sangat penting bagi anak muda yang ingin menjadi agen perubahan,” kata dia.

Saat ditanya apa yang mendorong keberaniannya mendaftar LPDP hingga akhirnya bisa kuliah di Britania Raya, Saddam mengaku bahwa keputusannya itu tidak datang begitu saja. Ada peran besar dari lingkungan sekitarnya yang membentuk tekad dan memantapkannya untuk melangkah.

“Sebenarnya saya termotivasi oleh dua orang teman masa kecil saya. Saya terbawa arus semangat mereka yang berhasil mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri,” katanya.

Bagi Saddam, kehadiran dua sahabat yang lebih dulu sukses menjadi pemicu semangat dan keyakinan. Ia kemudian menganalogikannya dengan sebuah hadis yang menggambarkan pentingnya lingkungan yang baik.

“Ini seperti perumpamaan dalam hadis, berkawan dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut terkena harumnya. Saya belajar bahwa berada di lingkungan yang positif, penuh dorongan, dan visi ke depan bisa membentuk keberanian dalam diri,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa keberanian untuk mendaftar LPDP bukan semata-mata soal kemampuan akademik, tetapi tentang keteguhan niat dan kesiapan mental untuk berubah.

“Dan saya pikir, ini bukan semata-mata soal beasiswa, tapi soal mengasah tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik. Bahwasanya perubahan selain dimulai dari diri sendiri adakalanya datang dari lingkungan sekitar,” tambahnya menutup pernyataan.

Kisah Saddam Rassanjani menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi muda Aceh, khususnya dalam memanfaatkan program-program pendidikan seperti LPDP. Cerita Saddam menunjukkan bahwa dengan semangat, lingkungan yang mendukung, dan tekad yang kuat, peluang untuk maju selalu terbuka. (XRQ)

Reporter: Akil

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News