Saturday, January 28, 2023

Kisah Tobatnya Pemburu Ratusan Harimau Sumatra

Nukilan.id – Dari sekian banyak spesies satwa endemik yang berstatus langka, ada satu jenis yang paling tak luput dari perhatian, yakni Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Bukan tanpa alasan, ancaman kepunahan yang didasari banyaknya penemuan individu harimau Sumatra yang mati akibat ulah pemburu masih sering dijumpai hingga saat ini.

Bukan sekali dua kali, laporan mengenai berakhir tragisnya sejumlah individu harimau Sumatra akibat jerat pemburu liar sudah banyak terjadi. Beberapa memang berhasil ditemukan dan ditindak dengan layak, namun entah berapa banyak juga yang tak terekspos dan berakhir untuk diperdagangkan dalam senyap.

Bicara soal pemburu, belakangan ada satu sosok yang mencuri perhatian lantaran keputusan besar yang diambil dalam hidupnya terkait kelangsungan satwa harimau, yakni Mawi. Ia adalah salah satu sosok pemburu harimau Sumatra, setidaknya sampai ia bertobat dan beberapa waktu lalu bersumpah tidak akan melakukan kegiatan keji itu lagi.

Apa yang membuat Mawi memutuskan untuk berhenti melakukan kegiatan kejamnya?

Perburuan 45 tahun yang diakhiri dengan bertobat

Kegiatan memburu harimau yang dilakukan Mawi sudah berlangsung sejak tahun 1971. Menukil keterangan dalam publikasi BBC Indonesia, Mawi ternyata bukanlah satu-satunya orang yang selama ini melancarkan aksi pemburuan.

Disebutkan jika ada sekitar lebih dari 10 pemburu di kawasan hutan rimba Sumatra yang melakukan hal sama. Pada bulan Juli lalu, mereka semua melakukan ikrar tobat untuk menghentikan perbuatan tersebut.

Diketahui jika Mawi bersama puluhan orang lainnya, merupakan pihak yang bertanggung jawab dari tewasnya sekitar 200 ekor harimau Sumatra dalam beberapa tahun terakhir. Mawi sendiri, tragisnya dengan kaki tangannya sendiri menjadi satu-satunya pemburu yang telah membunuh harimau paling banyak, mencapai 150 ekor.

“Saya telah membunuh harimau kurang lebih 150 ekor. Boleh dibilang terbanyak di sini,” ujarnya, mengutip sumber yang sama.

Cukup miris, karena jumlah tersebut lebih besar dari jumlah harimau Sumatra yang tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sekarang.

Bagaimana cara Mawi dan pemburu lainnya mengeksekusi harimau? Jawabannya adalah persis seperti banyaknya laporan mengenai harimau yang ditemukan sekarat atau bahkan mati akibat terjebak jerat kaki.

Mawi dan kelompoknya, biasa memasang jebakan jerat kaki yang terbuat dari kawat baja. Ketika terperangkap, mereka kemudian mengakhiri nyawa setiap harimau dengan ditembak atau dipukul dengan kayu.

Jika ada harimau yang berhasil lepas atau selamat, hewan malang tersebut akan berakhir cacat dan hidup di taman safari atau kebun binatang.

Kembali ke harimau yang terperangkap, setelah mati hewan tersebut akan dikuliti oleh para pemburu untuk dipisahkan setiap bagian tubuhnya, mulai dari kulit, tulang, dan daging. Setiap bagian dari harimau tersebut dijual di pasar gelap.

Ada yang berakhir untuk diolah menjadi obat tradisional dan ada yang menjadi koleksi pribadi para pembeli. Ekstremnya, saat dikuliti tak sedikit juga pemburu yang ikut memakan daging hewan buas tersebut.

Tujuan melindungi, ketagihan, pertobatan, dan karma

Mawi pertama kali memburu lebih dari 45 tahun silam lantaran diminta tolong oleh warga yang resah atas serangan harimau. Mawi mengenang, jika kala itu dalam satu tahun ada lima orang warga yang tewas dimangsa harimau.

Sesalnya, niat awal yang bertujuan melindungi warga justru berbalik menjadi candu. Hal tersebut lantaran Mawi mulai tergiur dengan pundi-pundi rupiah yang besar dari hasil memburu dan menjual berbagai bagian tubuh harimau di pasar gelap.

“Seperti (melihat) tumpukan uang yang bergerak,” ujar pria berusia 65 tahun tersebut.

Beberapa bagian tubuh dari satu ekor harimau, menurutnya bisa dijual hingga kisaran Rp30 juta. Saking tak kenal rasa takut, Mawi juga menjelaskan jika ia tidak pernah diserang ketika berhadapan dengan harimau.

Mengungkap soal awal mula keputusan mengakhiri kegiatan kejianya, Mawi menjelaskan jika semua bermula saat ia bertemu dengan seorang pria bernama Iswadi.

Iswadi yang berasal dari Yayasan Lingkar Inisiatif, membujuk dan menawarkan Mawi melakukan kegiatan alternatif. Tak serta merta langsung setuju, butuh waktu dua tahun bagi Mawi untuk benar-benar menanggalkan peralatan berburunya.

Sementara itu kembali ke persoalan jerat kaki yang biasa digunakan untuk menjebak harimau, ada satu kondisi yang oleh Mawi sendiri kini menurutnya ia alami sebagai karma. Seperti halnya kaki para harimau yang berakhir terpotong atau busuk, bagian kaki Mawi kini juga mengalami kondisi yang membuatnya tak nyaman.

Kedua kakinya diakui begitu gatal dan nampak ruam merah hingga kehitaman.

“Sudah segala obat dipakai, namun tidak sembuh. Mungkin ini karma akibat pasang jerat harimau yang melukai kaki” ujar Mawi.

Saat ini, Mawi hanya berharap jika dirinya dapat perhatian dari pemerintah mengenai jaminan pekerjaan yang layak. Karena jika tidak, bukan lagi perkara dirinya tapi juga 20 orang lain yang ikut berhenti berburu karena menghormati Mawi, bisa saja kembali berburu.

“Kami minta tolong diperhatikan. Saya takut pemburu lain yang telah bertobat akan kembali lagi berburu. Percuma saya bertobat kalau yang lain kembali berburu. Harimau akan punah,” ucapnya. [GNFI]

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img