NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan permohonan maaf terkait polemik video ucapan menyambut Bulan Maria 2026 yang menampilkan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenakan busana adat Aceh.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa pihaknya menghargai berbagai kritik yang muncul dari masyarakat dan menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk ke depan. Ia juga memastikan tidak ada niat sedikit pun dari Kemenag untuk merendahkan nilai kesakralan pakaian adat Aceh.
“Kami menghormati respons sebagian masyarakat Aceh terkait baju yang dikenakan Menag dalam rekaman video greetings Bulan Maria. Saran yang disampaikan menjadi masukan perbaikan di masa mendatang,” ujar Thobib.
Thobib menjelaskan, proses pengambilan video itu dilakukan bersamaan dengan agenda peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026. Menurutnya, sebelum upacara berlangsung terdapat dua agenda perekaman, yakni ucapan Hardiknas 2026 dan tayangan menyambut Bulan Maria.
Ia mengatakan, Menteri Agama memang secara khusus mengenakan pakaian adat Aceh untuk momentum peringatan Hardiknas tersebut.
“Perlu kami sampaikan bahwa rekaman tersebut dilakukan bersamaan dengan persiapan upacara Hari Pendidikan Nasional. Saat itu, Menag didapuk menjadi Inspektur Upacara dan sesuai tema nasional, beliau mengenakan busana adat Nusantara, dalam hal ini baju adat Aceh,” jelas Thobib.
“Keputusan mengenakan baju Aceh dalam upacara Hardiknas adalah bentuk penghormatan Menag terhadap identitas budaya Serambi Mekkah pada momen nasional tersebut,” sambungnya.
Untuk meredam polemik yang berkembang di tengah masyarakat, Kemenag memastikan telah mengambil langkah cepat dengan melakukan perbaikan terhadap tayangan tersebut.
“Kami juga mohon maaf atas hal ini. Menag juga sudah melakukan rekaman ulang greetings Bulan Maria dengan tidak mengenakan baju adat daerah,” ujarnya.
Polemik ini bermula ketika Menag Nasaruddin Umar tampil mengenakan pakaian adat Aceh dalam video ucapan menyambut Bulan Maria yang ditujukan bagi umat Katolik. Dalam tradisi Gereja Katolik, Bulan Maria diperingati setiap Mei sebagai momen khusus untuk menghormati Bunda Maria melalui berbagai devosi, doa rosario, dan ziarah.
Sebelumnya, LSM Gadjah Puteh mengecam penggunaan pakaian adat Aceh beserta atributnya dalam konteks tersebut karena dinilai tidak menghormati nilai-nilai syariat Islam dan marwah masyarakat Aceh. Mereka menilai pakaian adat Aceh bukan sekadar busana budaya, melainkan simbol kehormatan, identitas, serta nilai religius masyarakat Aceh sebagai daerah bersyariat Islam dengan mayoritas penduduk muslim.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

