NUKILAN.ID | PERAK – Komunitas Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW) dari Aceh kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional dengan menjadi narasumber dalam ajang Food Forest Forum 2026 yang berlangsung di Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR), Kampar, Perak, Malaysia, pada 24–26 April 2026.
Forum ini mempertemukan praktisi, akademisi, dan pegiat lingkungan dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, Thailand, Singapura, Australia hingga Inggris. Dalam forum tersebut, IKHW mengangkat gagasan tentang pentingnya memandang hutan bukan sekadar sebagai sumber produksi, melainkan sebagai amanah lintas generasi yang harus dijaga.
Perwakilan IKHW, Abdul Qudus dan Dara Adilla, memaparkan materi bertajuk “Food Forest as Moral Landscape”. Dalam pemaparannya, mereka menekankan bahwa konsep food forest bukan hanya sistem pertanian, tetapi juga lanskap moral yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam, keberlanjutan, serta tanggung jawab spiritual.
Pendekatan ini menyoroti bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berakar dari cara pandang manusia terhadap alam.
IKHW tidak hanya membawa konsep, tetapi juga praktik nyata dari Aceh, khususnya pengembangan Hutan Wakaf di kawasan Jantho dan Seulimum, Aceh Besar. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan tersebut menunjukkan pemulihan ekologis yang signifikan, ditandai dengan meningkatnya tutupan hutan serta kembalinya sejumlah satwa liar ke habitatnya.
Model yang dikembangkan mengintegrasikan agroforestri dan food forest dalam satu sistem yang saling mendukung. Di kawasan Seulimum, IKHW menerapkan pola tumpangsari berbasis keberagaman spesies, dengan komoditas seperti alpukat, duku, dan kopi.
Dalam sistem ini, pohon tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari struktur ekologis yang menjaga keseimbangan lingkungan. Pendekatan berbasis keberagaman ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, serangan hama, serta fluktuasi ekonomi.
Dalam konteks hutan wakaf, pendekatan tersebut memiliki dimensi etis yang lebih luas. Lahan tidak ditempatkan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga. Setiap pohon yang ditanam menjadi bagian dari tanggung jawab ekologis sekaligus spiritual.
IKHW juga mendorong partisipasi publik melalui skema wakaf lahan, yang memungkinkan masyarakat terlibat langsung dalam upaya konservasi. Saat ini, IKHW tengah mengupayakan perluasan lahan wakaf hingga 50 hektare di kawasan Seulimum, Aceh Besar.
Forum ini diselenggarakan dengan dukungan berbagai lembaga, antara lain Urban Hijau, Project Mars, Sarawak CSO, UTAR Agricultural and Food Research Centre, serta The Habitat Foundation. Sejumlah organisasi turut berpartisipasi, termasuk Bank Islam Malaysia.
Kehadiran IKHW dalam forum ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis nilai yang sederhana, berakar pada tradisi, dan melibatkan masyarakat memiliki relevansi global di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Forum ini juga membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam pengembangan food forest sebagai solusi integratif bagi persoalan lingkungan dan ketahanan pangan.
Dari Aceh, IKHW membawa pesan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari konsep besar dan rumit. Upaya menjaga hutan sebagai amanah dan mewariskannya kepada generasi mendatang menjadi nilai yang kini mulai mendapat perhatian dunia.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



