Hutan Menyusut Setiap Tahun, Aceh Terancam Jadi Langganan Bencana

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Luas tutupan hutan di Provinsi Aceh terus menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun. Dampaknya semakin terasa, terutama setelah banjir bandang yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dari 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 16 daerah terdampak banjir, yakni Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.

Dalam periode 18 November 2025 pukul 07.00 WIB hingga 27 November 2025 pukul 16.00 WIB, bencana ini berdampak pada 33.817 kepala keluarga (119.988 jiwa) serta menyebabkan 6.998 KK (20.759 jiwa) mengungsi.

Peristiwa ini menjadi sinyal kuat adanya akumulasi kerusakan hutan dan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Catatan Yayasan HAkA yang dikutip Nukilan.id menunjukkan bahwa Aceh kehilangan tutupan hutan secara konsisten sejak 2015. Pada 2015 kehilangan mencapai 21.056 hektar, 2016 (21.060 hektar), 2017 (17.820 hektar), 2018 (15.071 hektar), 2019 (15.140 hektar), 2020 (14.756 hektar), 2021 (9.028 hektar), 2022 (9.383 hektar), 2023 (8.906 hektar), dan pada 2024 kembali meningkat menjadi 10.610 hektar.

Dari total kawasan hutan Aceh seluas 3,5 juta hektar yang ditetapkan Menteri Kehutanan, luas tutupan hutan yang tersisa hingga Desember 2024 hanya sekitar 2.936.525 hektar. Jika dibandingkan dengan 2023, kerusakan pada 2024 mengalami peningkatan sekitar 19 persen.

Kerusakan tersebut terjadi akibat perambahan, pembalakan liar, pertambangan, hingga konversi hutan menjadi kebun.

Lukmanul Hakim, Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan HAkA, menjelaskan bahwa pada 2023 Aceh kehilangan tutupan hutan sekitar 8.906 hektar.

“Namun pada 2024, tutupan yang hilang mencapai 10.610 hektar,” jelasnya, Selasa (25/2/2025).

Rinciannya, seluas 5.699 hektar berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan wilayah hutan hujan tersisa di Sumatera, sementara 4.911 hektar berada di luar KEL.

“Dari 3,5 juta hektar kawasan hutan di Aceh yang ditetapkan Menteri Kehutanan, luas tutupan hutan yang ada hingga Desember 2024 sekitar 2.936.525 hektar,” katanya.

Lukman menjelaskan bahwa penghitungan dilakukan menggunakan metode penginderaan jauh dengan interpretasi visual manual citra satelit Landsat 8, Sentinel 2, dan Planet Scope, dibantu data peringatan dini kehilangan pohon (Glad Alert) dari Global Forest Watch (GFW). Hasilnya diverifikasi menggunakan drone, citra resolusi tinggi Planet Scope, serta Google Earth.

Jika dilihat per kabupaten/kota, Aceh Selatan menjadi penyumbang kehilangan tutupan hutan terbesar selama tiga tahun terakhir. Pada 2024, Aceh Selatan kehilangan 1.357 hektar, disusul Aceh Timur (1.096 hektar) dan Kota Subulussalam (1.040 hektar).

Kerusakan juga terjadi di Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang pada 2024 mencapai 425 hektar, dengan total kehilangan tutupan hutan sepanjang 2020–2024 sebesar 2.181 hektar.
Sementara di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) wilayah Aceh, tutupan hutan yang hilang pada 2024 mencapai 100 hektar, meningkat 23,41 persen dibanding tahun sebelumnya.

Data Mongabay menunjukkan pola serupa. Pada 2022, daerah dengan kehilangan hutan terbesar adalah Aceh Selatan (1.883 hektar), Aceh Jaya (776 hektar), Aceh Timur (753 hektar), Aceh Utara (666 hektar), dan Aceh Barat (642 hektar).

Pada 2023, lima besar kembali didominasi Aceh Selatan (1.854 hektar), Kota Subulussalam (911 hektar), Aceh Utara (866 hektar), Aceh Timur (611 hektar), dan Aceh Barat (557 hektar).

Hutan yang seharusnya menjadi benteng alami Aceh justru terus menyusut, sementara dampaknya kini dirasakan langsung masyarakat dalam bentuk banjir, longsor, dan krisis lingkungan lainnya.

Founder Hutan Hujan Aceh, Kiki Suryanti, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Sabtu (20/12/2025), menegaskan bahwa pertumbuhan hutan bukan proses singkat.

“Untuk tumbuh pohon yang besar itu bukan waktu yang singkat. Bahkan bertahun-tahun, puluhan tahun. Bisa jadi ketika kita sudah mati, barulah pohon itu benar-benar besar,” ujar Kiki, dikutip Nukilan, Selasa (6/1/2025).

Ia menambahkan bahwa jika pohon bisa tumbuh besar dalam satu hari, penebangan tidak akan menjadi persoalan serius. Namun kenyataannya, proses dari bibit hingga menjadi pohon dewasa membutuhkan waktu sangat panjang, sementara penebangan berlangsung cepat dan masif.

Kiki juga mempertanyakan lemahnya pengawasan, terutama di kawasan yang seharusnya dilindungi.

“Menebang ratusan bahkan ribuan pohon itu bukan hal kecil dan tidak mungkin tidak terlihat. Ini menjadi PR besar, mengapa semua itu bisa terjadi,” sebutnya.

Menurut Kiki, penebangan hutan berdampak langsung terhadap percepatan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana. Ia berharap pemerintah memperkuat pengawasan, penegakan hukum, serta perlindungan hutan secara nyata agar Aceh tidak terus menjadi korban krisis lingkungan yang berulang dan semakin parah.

Read more

Local News