NUKILAN.ID | SIGLI – Para petani jernang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, kini menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga komoditas tersebut dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini memicu keresahan dan membuat banyak petani kehilangan semangat untuk melanjutkan budi daya tanaman yang sebelumnya menjadi andalan ekonomi mereka.
Biji jernang, yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetika, hingga pewarna alami, kini mengalami penurunan harga yang signifikan. Rendahnya daya tawar pasar dinilai tidak lagi berpihak kepada petani, sehingga sebagian besar dari mereka memilih menghentikan budidaya.
Mengutip Media Indonesia, harga jernang kering saat ini hanya berkisar Rp30.000 per kilogram. Angka tersebut merosot tajam dibandingkan dua tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp100.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
“Sejak tahun 2025 harganya terjun bebas. Sebelumnya masih lumayan,” ujar seorang petani, Muhammad Khaifal Al-Khudri, Minggu (12/4/2026).
Khaifal menjelaskan, biaya produksi dan tingkat kesulitan dalam membudidayakan jernang tidak lagi sebanding dengan harga jual saat ini. Tanaman jernang dikenal sulit dirawat karena sifatnya yang menjalar dan memiliki duri tajam, sehingga berisiko melukai petani saat proses perawatan maupun panen.
Pada masa kejayaannya sekitar tahun 2017 hingga 2018, harga jernang bahkan sempat menyentuh Rp350.000 per kilogram. Namun, tren penurunan terus terjadi hingga mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir di kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
Akibat kondisi tersebut, banyak petani di wilayah dataran tinggi Tangse mulai mengalihfungsikan lahan mereka. Tanaman jernang ditebang dan diganti dengan komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti kopi, kakao, dan tanaman palawija.
“Harga di bawah Rp100.000 saja sudah tidak sesuai dengan biaya produksi, apalagi Rp30.000. Itu sebabnya banyak petani membuang jernang dan beralih ke tanaman lain seperti kopi, kakao, dan berbagai tanaman palawija,” tambah Khaifal.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi sektor perkebunan di Aceh. Tanpa adanya intervensi pasar atau langkah stabilisasi harga dari pihak terkait, komoditas jernang yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Tangse berpotensi ditinggalkan sepenuhnya oleh petani lokal.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



