Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Perkebunan Sawit Aceh Tamiang, Diduga Keracunan

Share

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di areal perkebunan sawit PT Mestika Prima Lestari Indah (MPLI), Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Satwa liar berjenis kelamin jantan itu diduga mati akibat keracunan.

Gajah tersebut pertama kali dilaporkan mati oleh seorang karyawan PT MPLI pada Ahad, 9 Agustus 2026, sekitar tengah hari. Tim gabungan yang terdiri atas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Polres Aceh Tamiang, Polsek Tamiang Hulu, PT MPLI, dan Forum Konservasi Leuser (FKL) kemudian mendatangi lokasi pada malam hari untuk melakukan identifikasi awal dan mengamankan area.

Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan hasil identifikasi awal menunjukkan gajah dalam kondisi tanpa luka pada tubuh. Kedua gading satwa tersebut juga masih utuh.

“Penanganan bangkai gajah telah selesai dilakukan hari ini (10/8) oleh tim medis, yaitu bedah bangkai (nekropsi) guna memastikan penyebab kematiannya, olah TKP, dan proses penguburan” terang Ujang Wisnu.

Berdasarkan pemeriksaan awal, gajah diperkirakan telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan. Tim medis menduga kematian satwa tersebut berkaitan dengan keracunan. Untuk memastikan penyebabnya, tim melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas tidak menemukan benda atau alat yang mencurigakan di sekitar lokasi. Setelah proses nekropsi dan pemeriksaan TKP selesai, bangkai gajah dikuburkan di lokasi penemuan, yakni di areal perkebunan PT MPLI.

Anggota Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Edy, mengatakan kawasan perkebunan PT MPLI merupakan salah satu koridor pergerakan gajah. Berdasarkan laporan masyarakat, sekitar enam hingga tujuh individu gajah diketahui melintas di kawasan tersebut.

Menurut Edy, kematian gajah akibat keracunan sebelumnya belum pernah terjadi di kawasan itu. Ia juga mengatakan tidak ditemukan tanda-tanda perburuan terhadap satwa tersebut.

“Jadi karena proses kematiannya sudah tiga hari sebelum ditemukan, maka perlu diteliti organnya. Pastinya tidak ada tanda luka karena infeksi secara fisik,” ucapnya.

Kondisi kedua gading yang masih utuh juga menjadi salah satu indikasi bahwa kematian gajah tersebut tidak berkaitan dengan perburuan untuk mengambil gading. Penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap organ dalam satwa.

Nekropsi dilakukan untuk mengetahui zat yang masuk ke dalam sistem pencernaan gajah. Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap apakah satwa itu benar-benar mati akibat racun.

Kasus ini menjadi perhatian karena lokasi penemuan berada di kawasan yang diketahui sebagai koridor gajah sumatera. Keberadaan beberapa individu gajah yang masih melintas di kawasan tersebut membuat penyebab kematian satwa perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mencegah kejadian serupa.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img

Read more

Local News