NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Deretan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya berdampak pada kerusakan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga memperparah kerentanan perempuan dan anak, khususnya mereka yang berada di lokasi pengungsian.
Direktur Flower Aceh, Riswati, menegaskan bahwa situasi darurat bencana kembali memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak, baik dari sisi keamanan fisik maupun keamanan digital.
“Kekerasan digital bergerak cepat, berdampak luas, dan sering tidak disadari sebagai pelanggaran hak. Di tengah kondisi darurat bencana, perempuan dan keluarga harus memiliki kewaspadaan serta kemampuan untuk melindungi diri,” ujar Riswati, Sabtu (6/12/2025).
Menurutnya, meningkatnya akses internet yang tidak diiringi pemahaman literasi digital telah memicu naiknya kasus kekerasan digital terhadap perempuan dan anak perempuan. Kondisi ini semakin rawan di lokasi bencana dan pengungsian, di mana ruang privat terbatas dan kontrol sosial melemah.
Riswati menjelaskan, bentuk kekerasan digital kini semakin beragam, mulai dari pelecehan daring, perundungan berbasis gender, hingga penyebaran konten pribadi tanpa persetujuan korban. Namun, banyak korban belum memahami langkah pencegahan maupun mekanisme pelaporan.
“Berbagai kasus yang dikonsultasikan kepada kami menunjukkan bahwa banyak korban belum memahami mekanisme pencegahan maupun pelaporan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak,” katanya.
Flower Aceh juga mencatat bahwa sejumlah daerah terdampak banjir masih berada dalam kondisi kritis. Air belum sepenuhnya surut, rumah dan lahan pertanian rusak parah, dokumen penting hilang terbawa arus, serta akses jalan rusak sehingga menghambat distribusi bantuan.
“Situasi di lapangan menunjukkan betapa rentannya perempuan dalam kondisi krisis, belum termasuk lansia dan penyandang disabilitas yang belum seluruhnya terdata,” ungkap Riswati.
Di pengungsian, kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan masih menjadi persoalan utama. Sementara itu, kebutuhan spesifik perempuan, khususnya terkait kesehatan reproduksi, belum sepenuhnya terpenuhi. Kelangkaan BBM juga memperburuk distribusi logistik.
Risiko kekerasan berbasis gender turut meningkat selama bencana. Flower Aceh menyoroti adanya laporan kasus pemerkosaan terhadap seorang perempuan yang berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang truk saat banjir melanda wilayahnya.
Selain itu, di Aceh Tamiang, seorang ibu yang baru melahirkan mengalami komplikasi kesehatan akibat sulitnya akses air bersih dan layanan medis. Seorang perempuan pekerja juga dilaporkan kehilangan seluruh tabungannya akibat melonjaknya biaya perjalanan, BBM, dan kebutuhan hidup selama masa krisis.
“Kelangkaan bahan makanan bahkan sempat memicu potensi hingga aksi penjarahan di beberapa titik banjir,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Flower Aceh menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama, bukan isu sekunder, dalam setiap upaya penanganan bencana.

