NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak akhir November 2025 masih menyisakan dampak serius bagi ribuan warga, terutama kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Di tengah mulai berkurangnya relawan dari berbagai daerah, Flower Aceh bersama Lifeguards Aceh tetap konsisten menjalankan aksi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak, seperti Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie, dan Pidie Jaya.
Berbagai upaya dilakukan, mulai dari pengoperasian dapur umum, distribusi logistik, layanan pengaduan kekerasan berbasis gender, hingga penyaluran bantuan khusus bagi perempuan dan anak.
Khusus di Aceh Tamiang, relawan bekerja sama dengan Penabulu-Oxfam, WLHL, Lokadaya, serta sejumlah lembaga lainnya dalam menyalurkan bantuan berupa paket sembako, hygiene kit, shelter kit, kasur lipat, tikar, perlengkapan memasak, hingga tabung gas ke wilayah yang sulit dijangkau akibat kerusakan infrastruktur pascabanjir.
Aksi kemanusiaan ini bermula dari inisiatif mandiri para relawan. Sejak 28 November 2025, Flower Aceh dan Lifeguards Aceh telah mendirikan dapur umum di belakang Kantor DPRK Aceh Tamiang dengan menggunakan dana pribadi pengurus dan anggota.
Seiring waktu, bantuan mulai mengalir dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri seperti Aceh, Medan, Jakarta, Bekasi, hingga dari luar negeri. Donasi yang diberikan mencakup logistik, dana tunai, operasional dapur umum, hingga pakaian baru untuk para penyintas.
Dapur umum tersebut mampu memproduksi ratusan nasi bungkus setiap hari yang didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian, seperti Kota Lintang, Desa Kesehatan, Kampung Kota Kuala Simpang, hingga Babo. Selain makanan siap saji, relawan juga menyalurkan pakaian baru bagi korban terdampak.
Memasuki Februari 2026, distribusi bantuan diperluas dengan penyaluran sembako, shelter kit, dan hygiene kit. Proses pendataan dilakukan melalui metode rapid assessment dan rapid gender assessment untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Berdasarkan data lapangan, distribusi bantuan telah menjangkau ribuan kepala keluarga di berbagai lokasi, di antaranya Gampong Kota Kuala Simpang, Dusun Kenari, Gampong Tanah Terban, Gampong Babo, hingga kawasan Simpang Kiri.
Total sementara penerima manfaat dari rangkaian distribusi tersebut mencapai lebih dari 2.950 kepala keluarga.
Ketua Posko Relawan Flower Aceh dan Lifeguards Aceh di Aceh Tamiang, Agus Milanda, menyebutkan bahwa proses distribusi bantuan masih terus berlanjut, termasuk kegiatan monitoring yang dilakukan pada 15-17 Maret 2026 di Desa Bukit Tempurung.
“Kami tidak akan berhenti selama masih memiliki kekuatan dan sumber daya. Meskipun banjir mulai surut, pemulihan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak dari mereka yang kehilangan mata pencaharian dan belum bisa kembali ke rumah karena rusak berat,” ujar Agus Milanda saat ditemui di lokasi pengungsian Huntara Karang Baru, 17 Maret 2026.
Ia juga menyampaikan rencana lanjutan penyaluran bantuan pada pertengahan April 2026 sebanyak 2.557 paket sembako di tiga desa di Aceh Tamiang.
Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung aksi kemanusiaan ini, baik lembaga maupun donatur dari dalam dan luar negeri.
“Tanpa dukungan semua pihak, mustahil kami bisa bertahan selama ini. Ini adalah bukti bahwa solidaritas dan persaudaraan tidak mengenal batas wilayah,” ujarnya.
Flower Aceh merupakan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada pemberdayaan serta perlindungan perempuan, anak, dan kelompok rentan. Dalam setiap respon bencana, organisasi ini memastikan kebutuhan spesifik kelompok tersebut tetap terpenuhi, termasuk perlengkapan ibu hamil, kebutuhan bayi, serta pendampingan psikososial.
Sementara itu, Lifeguards Aceh dikenal sebagai lembaga yang bergerak di bidang penyelamatan dan penanganan bencana, mulai dari evakuasi korban hingga distribusi bantuan ke wilayah terpencil.
“Lifeguard Aceh memiliki pengalaman panjang dalam penanganan darurat, mulai dari evakuasi korban, pendirian dapur umum, hingga distribusi logistik ke daerah-daerah terpencil. Komitmen kami akan terus mendukung kerja-kerja kemanusiaan di lokasi bencana,” tegas Ketua Lifeguard, T. Ayatullah Bani Baeit.
Di tengah kondisi pascabencana yang masih sulit, kehadiran relawan menjadi harapan bagi para penyintas. Komitmen untuk terus membantu menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tetap hidup, bahkan ketika perhatian mulai berkurang.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.












