NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketidakpastian ekonomi global yang dibarengi tekanan perubahan iklim kian memperberat kondisi perekonomian di berbagai daerah, termasuk Aceh. Situasi ini semakin kompleks setelah bencana yang melanda pada akhir tahun 2025, yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah sektor mengalami kelumpuhan, pendapatan warga menurun, dan roda ekonomi di tingkat lokal berjalan terseok-seok. Dalam kondisi seperti ini, upaya pemulihan ekonomi dinilai mendesak agar masyarakat dapat segera bangkit dan kembali produktif.
Menanggapi hal tersebut, Nukilan.id mewawancarai Uqra Fhalin Fharabi, M.E, Pengamat Ekonomi Kerakyatan dari Aceh Strategy Advisory (ASA), pada Jumat (17/4/2025). Dalam pandangannya, terdapat sejumlah sektor strategis yang dapat menjadi tumpuan pemulihan ekonomi Aceh dalam jangka pendek hingga menengah.
Uqra menegaskan bahwa sektor pertama yang harus menjadi perhatian serius adalah pertanian dan pangan, mengingat perannya yang fundamental dalam menopang kehidupan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas daerah.
“Pertama, sektor pertanian dan pangan, terutama komoditas strategis seperti padi, hortikultura, dan perkebunan berbasis ekspor. Ini penting bukan hanya untuk ketahanan pangan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, penguatan sektor ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja serta meningkatkan daya beli masyarakat di pedesaan.
Selain itu, Uqra melihat potensi besar yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal, yakni sektor perikanan dan kelautan. Dengan garis pantai yang panjang serta kekayaan sumber daya laut, Aceh dinilai memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor ini.
“Kedua, sektor perikanan dan kelautan. Aceh memiliki garis pantai yang panjang dan sumber daya laut yang besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan penguatan hilirisasi dan akses pasar, sektor ini bisa menjadi sumber pertumbuhan baru,” ungkapnya.
Menurutnya, pengembangan sektor perikanan tidak cukup hanya pada aspek produksi, tetapi juga perlu didorong pada pengolahan hasil (hilirisasi) dan perluasan akses pasar agar memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat.
Tak kalah penting, sektor pariwisata juga dinilai memiliki prospek cerah, terutama yang berbasis pada kekayaan alam dan budaya lokal. Di tengah tren global yang semakin menekankan keberlanjutan, Aceh dinilai memiliki daya tarik tersendiri.
“Ketiga, sektor pariwisata berbasis alam dan budaya. Dalam konteks global yang semakin mengarah pada sustainable tourism, Aceh memiliki keunggulan komparatif. Tinggal bagaimana kita mengelola secara profesional dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Uqra menekankan bahwa kunci utama dari pengembangan sektor pariwisata terletak pada tata kelola yang profesional, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.
Dengan memaksimalkan ketiga sektor tersebut secara simultan dan terarah, ia optimistis Aceh dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi pascabencana, sekaligus membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh di masa depan. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


