NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatra — Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — pada puncaknya 26 November 2025, semakin memperkuat dugaan bahwa kerusakan lingkungan di kawasan hulu dan hutan Aceh telah memasuki fase mengkhawatirkan.
Hujan ekstrem disertai angin kencang telah melanda Aceh Timur sejak Kamis, 20 November 2025, sepekan sebelum puncak banjir terjadi. Luapan lumpur disertai longsor melibas pemukiman warga tanpa ampun, meninggalkan kerusakan luas dan korban terdampak di berbagai daerah.
Penelusuran digital Nukilan.id menemukan bahwa kondisi hutan Aceh memang mengalami degradasi serius. Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) yang secara konsisten memantau kondisi hutan sejak 2015 mencatat kehilangan tutupan hutan yang terus meningkat.
Pemantauan dilakukan menggunakan metode penginderaan jauh melalui interpretasi visual manual citra satelit Landsat 8, Sentinel-2, dan PlanetScope, serta data peringatan dini kehilangan pohon GLAD Alert dari Global Forest Watch (GFW). Verifikasi lapangan dilakukan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan bantuan drone, citra resolusi tinggi PlanetScope, dan Google Earth.
Hasilnya, sepanjang 2024 Aceh kehilangan 10.610 hektare tutupan hutan, meningkat 19 persen atau 1.705 hektare dibandingkan tahun 2023. Kini, total tutupan hutan Aceh tersisa 2.936.525 hektare.
Manager GIS Yayasan HAkA, Lukmanul Hakim, menyebutkan Aceh Selatan masih menjadi daerah penyumbang kehilangan hutan terbesar selama tiga tahun terakhir.
“Kami memperkirakan Aceh Selatan telah kehilangan tutupan hutan seluas 1.357 Ha sepanjang 2024,” ujarnya dalam acara launching buku dan talkshow “Dua Dekade Deforestasi Aceh: dari Hilangnya Hutan hingga Menurunnya Kesejahteraan” di Aula BPS Provinsi Aceh, pada Selasa (25/2/2025) lalu.
Setelah Aceh Selatan, daerah dengan kehilangan tutupan hutan terbesar adalah Aceh Timur seluas 1.096 hektare, dan Kota Subulussalam sebesar 1.040 hektare.
Tekanan terhadap kawasan konservasi juga semakin nyata. Pada 2024, kehilangan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) meningkat 17,41 persen atau 845 hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, secara akumulatif sejak 2020 hingga 2024, hutan yang hilang telah mencapai 2.181 hektare.
Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan, mengingat KEL merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana Orangutan Sumatra, Badak Sumatra, Gajah Sumatra, dan Harimau Sumatra masih hidup berdampingan di alam liar.
Meningkatnya deforestasi tersebut memperkuat urgensi langkah mitigasi dan penegakan hukum yang lebih tegas, terutama untuk melindungi kawasan vital seperti TNGL dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, yang memiliki fungsi ekologis penting bagi keberlanjutan kehidupan di Aceh dan Sumatra. (XRQ)
Reporter: AKIL










