NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Yayasan Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia bekerja sama dengan donatur luar negeri, Karisma Humanitarian Outreach Mission (KHOM) Malaysia, menyalurkan bantuan seragam sekolah lengkap kepada pelajar terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.
Ketua BFLF Michael Octaviano mengatakan bantuan tersebut diberikan kepada 130 siswa SD Negeri Gelung, Kecamatan Seruway, serta 24 siswa SD Tanah Merah Aceh Tamiang. Bantuan berupa pakaian sekolah, topi, peci, hijab, hingga sepatu, disalurkan langsung agar anak-anak dapat kembali bersekolah dengan perlengkapan yang layak.
“Kami ingin anak-anak tetap punya semangat dan harapan. Pendidikan tidak boleh berhenti meski dalam kondisi sulit,” kata Michael Octaviano.
Menurutnya, pemulihan sektor pendidikan menjadi hal krusial pascabencana agar anak-anak tidak kehilangan masa depan. Kehadiran relawan secara langsung di lapangan juga menjadi wujud komitmen BFLF dalam menjaga semangat belajar generasi muda Aceh.
“Kehadiran langsung relawan di lapangan, merupakan bentuk komitmen BFLF untuk menjaga harapan dan semangat belajar generasi muda Aceh,” ujarnya.
Selain pendidikan, BFLF bersama KHOM juga menyalurkan 100 paket Ramadhan ke tiga desa terdampak, yakni Desa Alur Nunang, Desa Alur Jambu, dan Desa Pengidam. Paket tersebut berisi Al Quran, mukena, sarung, sajadah, beras, minyak goreng, serta roti kering untuk mendukung kebutuhan spiritual dan dasar warga menjelang bulan suci.
Relawan BFLF bersama masyarakat setempat turut menggelar kegiatan masak bersama bubur pedas, kuliner khas Ramadhan, di Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, salah satu wilayah terdampak banjir paling parah.
“Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian terhadap warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka,” katanya.
Michael menambahkan, hingga dua bulan pascabencana, kondisi Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, BFLF masih terus menyalurkan bantuan dan mengajak berbagai pihak untuk terlibat membantu masyarakat.
“Sudah dua bulan kami masih aktif menyalurkan bantuan. Aceh belum sepenuhnya pulih, masih banyak desa terdampak yang membutuhkan uluran tangan, terlebih menjelang Ramadhan,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi dengan donatur luar negeri dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk membantu pemulihan pendidikan dan kehidupan sosial ekonomi warga Aceh Tamiang.
“Masih banyak sekolah dan desa dengan kondisi serupa. Kami mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan membantu Aceh bangkit kembali, relawan terus bergerak jangan pamit dulu,” demikian Michael Octaviano.

