Tuesday, April 23, 2024

Apa Gunanya Berfoto dengan Pose Pura-pura Baca Buku?

*Oleh: Bisma Yadhi Putra, esais

Ketimbang tempat sepi, saya lebih suka menulis di warung kopi yang ramai dan di tepi jalan. Saya tidak suka kehengingan karena suasana begitu cuma bikin cepat bosan dan mengantuk.

Setiap kali sebelum menulis, saya akan membaca buku sekitar 10 hingga 15 menit. Dan selalu senang serta bersemangat melihat ada orang lain yang juga sedang membaca di tempat sama. Namun, pernah suatu malam dua perasaan itu berubah jadi “kekhawatiran”.

Waktu itu saya duduk di sebuah warung kopi di Banda Aceh yang jarang saya datangi. Sekitar sepuluh meter di depan, duduk seorang perempuan berpakaian serba merah, membaca buku yang kovernya juga merah. Cuma kami berdua yang membaca buku di situ.

Gerak-geriknya kemudian terpantau aneh. Kira-kira setiap satu menit sekali, perempuan itu berpindah meja. Dia pindah ke meja dekat saya, menatap buku sebentar, lalu bergerak ke meja lain, begitu seterusnya. Dia juga sering terkekeh padahal yang dibaca adalah buku pendidikan Pancasila untuk anak sekolah. Di sampulnya terpampang simbol Burung Garuda. Setiap pelayan warung kopi yang melintas di dekatnya juga dia goda.

Setelah menangkap tanda-tanda bahwa perempuan itu adalah “orang tidak pas”, saya cepat-cepat melempar buku ke dalam tas. Waktu itu benak saya sudah penuh dengan rasa cemas; jangan-jangan, sejak tadi semua orang di warung kopi sudah terlanjur percaya bahwa mereka sedang menatap dua penderita gangguan jiwa yang melakukan aktivitas sama: baca buku. Demi memperlihatkan bahwa saya bukan teman perempuan itu, dan tidak seperti dia, cepat-cepat saya membuka laptop dan mulai mengetik. Sampai sekarang saya tak pernah ke warung kopi itu lagi, tetapi masih membaca buku di tempat lain.

Setelah dipikir-pikir, kelakuan perempuan penderita gangguan jiwa itu jauh berguna untuk mengampanyekan budaya membaca di ruang publik. Orang mungkin akan berkata, “Baca buku di tempat ramai seperti orang gila”. Ocehan itu seharusnya dibalik: “Orang gila saja baca buku, kenapa yang mengaku waras malah tidak bersikap seperti orang waras?”

Membaca adalah menyerap pengetahuan. Kalau menyerap pengetahuan dipandang aneh atau abnormal, yang mentalnya bermasalah sebetulnya siapa?

Berhari-hari kemudian baru saya baru sadar bahwa perempuan dengan buku Pancasila itu telah memberikan teladan nyata di tempat terbuka mengenai “melek literasi”. Biarpun tidak betul-betul membaca, bagaimana ia tampil memegang buku di ruang publik lebih bermakna ketimbang orang-orang yang di media sosialnya gemar memamerkan foto sedang pura-pura baca buku. Lengkap dengan caption “mari budayakan membaca”, “membaca mencerahkan peradaban”, “ayo tingkatkan kemampuan berliterasi”, dan lain-lain yang semacamnya.

Menumbuhkan minat atau budaya membaca adalah dengan menampakkan contoh atau teladan di depan banyak orang. Salah satu teladan yang bisa ditunjukkan adalah membaca buku setiap kali duduk di warung kopi.

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Must Read

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img