NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Upaya pengembangan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas di Aceh terus menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, pemerataan layanan pendidikan masih menghadapi berbagai kendala, khususnya di wilayah pedalaman dan kepulauan.
Kepala Sekolah SLB YBSM Banda Aceh, Asmahani, S.Pd, mengungkapkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas di kawasan perkotaan relatif lebih mudah mengakses layanan pendidikan. Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Disabilitas yang disiarkan RRI pada Minggu, 1 Februari 2026.
Sebaliknya, di daerah terpencil dan kepulauan, layanan pendidikan bagi anak disabilitas belum tersedia secara merata dan optimal. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan utama dalam pemenuhan hak belajar bagi kelompok disabilitas di Aceh.
Asmahani menjelaskan, pemerintah telah mendorong penerapan sekolah inklusi melalui regulasi penerimaan peserta didik penyandang disabilitas. Selain itu, setiap kabupaten dan kota di Aceh telah memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB), baik negeri maupun swasta, sebagai bentuk layanan pendidikan khusus.
Namun demikian, kesiapan sekolah tidak hanya bergantung pada aspek administrasi. Menurutnya, masih diperlukan peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan agar proses pembelajaran ramah disabilitas dapat berjalan secara efektif.
Selain keterbatasan sumber daya manusia, persoalan sarana dan prasarana juga menjadi hambatan. Aksesibilitas bangunan sekolah serta ketersediaan media pembelajaran khusus dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan peserta didik disabilitas di sejumlah sekolah inklusi.
Ia berharap, SLB dapat berperan sebagai pusat sumber (resource center) yang mendampingi sekolah inklusi di berbagai daerah. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan layanan pendidikan inklusif di seluruh wilayah Aceh.

