NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memfokuskan pembangunan sumur bor air bersih di berbagai wilayah Provinsi Aceh sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Program ini menyasar lokasi-lokasi yang menjadi pusat aktivitas warga, seperti tempat ibadah, fasilitas pendidikan, hunian sementara, pasar, kantor pemerintahan, serta fasilitas umum lainnya. Masjid, meunasah, pesantren, dan sekolah dipilih karena perannya yang vital dalam kehidupan sosial masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak semata soal infrastruktur fisik, melainkan juga menyangkut rasa aman dan kenyamanan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Masjid, sekolah, dan pesantren adalah ruang hidup masyarakat. Ketika air bersih tersedia, warga bisa kembali beribadah dengan tenang, anak-anak belajar dengan layak, dan risiko penyakit dapat dicegah,” ujar Menteri Dody dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/1/2026).
Sejak akhir Desember, kegiatan pengeboran air tanah telah berlangsung di sejumlah titik. Hingga kini, satu sumur bor telah berfungsi di Masjid Simpang Lhee dan dilengkapi dengan fasilitas pendukung.
Sebaran Lokasi Pengeboran
Di Kabupaten Aceh Tamiang, pengeboran telah dan sedang berlangsung di berbagai lokasi, antara lain Puskesmas Karang Baru, Puskesmas Tamiang Hulu, Puskesmas Sekerak, Puskesmas Bandar Pusaka, Puskesmas Kuala Simpang, Puskesmas Rantau, Puskesmas Bendahara, Polindes Manyak Payed, Pasar Manyak Payed, Masjid Babul Falah Karang Baru, Masjid Al Ikhlas Banda Mulia, Kantor Kecamatan Kuala Simpang, Hunian Sementara DPRK Aceh Tamiang, Pondok Pesantren Darul Muchlisin Karang Baru, TK Nurul Ikhlas Telaga Muku II Banda Mulia, serta Meunasah Meurandeh Manyak Payed.
Di Kabupaten Pidie Jaya, titik pengeboran mencakup Kompleks Dinas Perhubungan, Kompleks Perpustakaan dan Arsip, Meunasah Gampong Beurawang, Meunasah Balek, dan Meunasah Gampong Dayah Kruet.
Sementara di Kabupaten Bener Meriah, sumur bor dibangun di kawasan Hunian Sementara Blang Rakal dan Tunyang.
Spesifikasi dan Perencanaan
Kedalaman pengeboran bervariasi antara 60 hingga 82 meter, ditentukan berdasarkan hasil survei geolistrik guna memastikan kualitas serta keberlanjutan sumber air tanah. Seluruh lokasi dipilih agar dapat dimanfaatkan secara kolektif oleh masyarakat, terutama pada masa darurat dan pemulihan pascabencana.
Secara keseluruhan, Kementerian PU merencanakan pembangunan 47 titik sumur bor air baku di Kabupaten Aceh Tamiang yang tersebar di 12 kecamatan dan 30 lokasi, terdiri dari 14 sumur bor dangkal dan 33 sumur bor dalam.
Setiap titik dirancang sebagai cadangan air bersih jangka menengah. Program ini dilaksanakan secara terpadu oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU, serta dilengkapi dengan sarana pendukung seperti instalasi pengolahan air mobile, mobil tangki air, hidran umum, toilet darurat, dan toren air.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan layanan air minum di wilayah Aceh yang rawan bencana, sehingga kebutuhan air bersih tetap terjamin baik pada masa darurat maupun masa pemulihan.

