NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Sebanyak 28 murid baru SD Negeri 11 Langkahan, Desa Paya Tukai, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan kondisi yang berbeda dari biasanya. Mereka mengikuti kegiatan di tenda darurat karena ruang kelas sekolah masih dalam tahap rehabilitasi akibat kerusakan yang ditimbulkan banjir.
Mengutip Kompas.com, selama lima hari pelaksanaan MPLS, para murid tetap mengikuti berbagai kegiatan pengenalan sekolah meski fasilitas belajar masih terbatas. Tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah menjadi ruang belajar sementara sambil menunggu proses perbaikan gedung selesai.
Kepala SD Negeri 11 Langkahan, Nazariah Ahmad, mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sembilan bulan setelah banjir melanda, seluruh ruang kelas sekolah masih menjalani proses rehabilitasi.
“Sekarang ruang kelas sedang direhab akibat kerusakan ditimbulkan banjir beberapa waktu lalu. Jadi, kami memaksimalkan tenda darurat dulu,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Karena seluruh ruang kelas belum dapat digunakan, sekolah menerapkan sistem belajar bergantian bagi siswa kelas dua hingga enam. Siswa kelas satu, dua, dan tiga mengikuti pembelajaran pada pagi hari, sedangkan kelas empat, lima, dan enam belajar pada sore hari.
“Tujuh ruang kelas kami seluruhnya rusak. Karena itu, kami terpaksa gunakan sistem bergantian penggunaan tenda,” katanya.
Saat ini SD Negeri 11 Langkahan memiliki 147 murid yang dibimbing oleh sembilan guru. Meski harus belajar di tenda darurat, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, termasuk pelaksanaan MPLS yang diisi dengan pengenalan guru, lingkungan sekolah, serta pembinaan karakter seperti budaya salam dan kedisiplinan.
Nazariah berharap pemerintah dapat mempercepat pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan agar aktivitas belajar mengajar kembali berlangsung normal.
“Kami berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal seperti sebelum banjir,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan rehabilitasi sekolah-sekolah yang terdampak banjir sedang dilakukan secara bertahap. Menurutnya, proses pembelajaran tetap berjalan meski di tengah berbagai keterbatasan.
“Semua sekolah yang rusak sudah kami laporkan ke kementerian. Direhab secara bertahap dalam program revitalisasi sekolah khusus banjir,” tuturnya.
Ia menambahkan pemerintah daerah terus mengupayakan perhatian dari pemerintah pusat untuk percepatan pemulihan fasilitas pendidikan di wilayah terdampak.
“Kami terus mendorong agar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan perhatian khusus untuk Aceh Utara sebagai daerah terparah rusak karena banjir tahun lalu,” ucapnya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News









