Anjungan Air Minum Wakaf di UIN Ar-Raniry Jadi Simbol Jejak Sejarah Persahabatan Aceh-Turki

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman, menegaskan bahwa pembangunan Anjungan Air Minum Sayyid Osman Hulusi Efendi Hazretleri di lingkungan kampus tidak hanya menghadirkan fasilitas publik bagi masyarakat, tetapi juga merepresentasikan hubungan sejarah yang telah lama terjalin antara Aceh dan Turki.

Menurutnya, keberadaan bangunan yang mengusung arsitektur khas Ottoman tersebut mencerminkan eratnya ikatan persaudaraan dan kolaborasi kemanusiaan antara kedua bangsa yang telah berlangsung selama berabad-abad.

“Bangunan berarsitektur Ottoman ini bukan sekadar infrastruktur penyedia air minum gratis, melainkan simbol persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan antara dua bangsa yang telah terhubung sejak berabad-abad lalu,” kata Mujiburrahman di Darussalam, Banda Aceh, Selasa (30/6/2026).

Pernyataan itu disampaikan saat peresmian anjungan air minum yang dibangun oleh Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi bersama Somuncu Baba Education, Culture and Social Aid Organization dengan dukungan Yayasan Tarara Global Humanity. Program penyediaan air minum tersebut merupakan salah satu bentuk sedekah yang memberikan manfaat luas sekaligus berkelanjutan bagi masyarakat.

Rektor menjelaskan bahwa fasilitas yang diresmikan di UIN Ar-Raniry tersebut memiliki arti penting karena menjadi proyek internasional pertama yang direalisasikan yayasan tersebut di luar wilayah Turki.

“Fasilitas air minum di kampus UIN Ar-Raniry ini juga merupakan proyek pertama berskala internasional yang dibangun di luar Turki,” katanya.

Air minum yang tersedia di anjungan tersebut telah melalui proses pengolahan menggunakan teknologi reverse osmosis (RO), sehingga aman dan dapat langsung dikonsumsi. Untuk memastikan ketersediaan pasokan air tetap terjaga, pihak kampus juga membangun sistem penampungan berkapasitas 10 meter kubik yang tersambung dengan jaringan PDAM.

Selain menghadirkan fasilitas fisik, proyek tersebut juga dirancang dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan agar manfaatnya dapat dinikmati dalam jangka panjang oleh sivitas akademika maupun masyarakat umum.

“Proyek ini tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh civitas akademika dan masyarakat,” ujarnya.

Mujiburrahman berharap hubungan kerja sama yang telah terbangun melalui proyek tersebut tidak berhenti pada penyediaan fasilitas air minum, tetapi dapat berkembang ke berbagai sektor lain, seperti pendidikan, penelitian, kebudayaan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Di sisi lain, anggota Dewan Pengawas Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi, Ali Gençal, mengatakan bahwa pembangunan anjungan air minum tersebut merupakan bagian dari tradisi pelayanan sosial yang diwariskan oleh Sayyid Osman Hulusi Efendi.

Ia menjelaskan bahwa penyediaan akses terhadap air bersih memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Hal itu, menurutnya, sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa sedekah terbaik adalah memberikan minum kepada sesama.

Ali juga menilai proyek tersebut menjadi bukti nyata terus terpeliharanya hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Turki, terutama dengan masyarakat Aceh yang sejak lama memiliki keterkaitan sejarah dengan negara tersebut.

Anjungan air minum itu dibangun dengan mengadopsi desain klasik air mancur Ottoman. Bangunan tersebut dilengkapi delapan keran, sistem pemurnian air berkapasitas 3.000 liter, serta prasasti yang ditulis dalam empat bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Turki, Inggris, dan Arab.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News