Khanduri Asyura Dinilai Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata Budaya Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tradisi Khanduri Asyura dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Aceh. Namun, pengembangannya harus tetap menjaga nilai-nilai adat dan ajaran Islam yang selama ini menjadi ruh dari tradisi tersebut.

Pandangan itu disampaikan Wakil Ketua DPW NasDem Aceh, Fevi Desy Noliza. Menurutnya, di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan sosial, keberadaan tradisi lokal memiliki peran penting dalam mempertahankan identitas masyarakat Aceh.

Ia mengatakan, Khanduri Asyura merupakan salah satu warisan budaya yang masih terus dilaksanakan masyarakat setiap memasuki bulan Muharram. Tradisi tersebut bukan hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Khanduri Asyura bukan sekadar tradisi makan bersama. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kepedulian sosial, silaturahmi, dan semangat kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun,” kata Fevi dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, tradisi ini menunjukkan harmonisasi antara adat Aceh dan ajaran Islam. Nilai berbagi rezeki, mempererat ukhuwah, hingga memperkuat solidaritas sosial menjadi bagian yang melekat dalam pelaksanaan Khanduri Asyura.

Fevi menilai, kekayaan budaya seperti Khanduri Asyura merupakan aset penting yang dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya di Aceh. Selama ini daerah tersebut dikenal memiliki potensi wisata alam, sejarah, dan religi. Di sisi lain, tradisi masyarakat yang masih lestari juga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya yang autentik.

Ia menjelaskan bahwa tren wisata budaya terus berkembang karena memberikan pengalaman yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain. Dalam konteks itu, Khanduri Asyura dapat menjadi media untuk memperkenalkan bagaimana masyarakat Aceh memadukan nilai agama, adat istiadat, serta kehidupan sosial dalam sebuah tradisi yang tetap bertahan hingga kini.

Meski demikian, Fevi mengingatkan agar upaya menjadikan Khanduri Asyura sebagai bagian dari destinasi wisata dilakukan secara bijaksana. Menurutnya, aspek ekonomi tidak boleh menggeser makna utama dari tradisi tersebut.

“Pariwisata budaya harus menjadi instrumen pelestarian, bukan mengubah substansi tradisi demi kepentingan komersial. Yang perlu diperkenalkan kepada publik adalah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga semakin dipahami dan dihargai,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah, lembaga adat, kalangan akademisi, pelaku industri pariwisata, serta masyarakat untuk bersama-sama menyusun langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut. Upaya seperti dokumentasi, penelitian, promosi, hingga penyusunan kalender budaya dinilai dapat memperkuat eksistensi Khanduri Asyura sekaligus meningkatkan kunjungan wisata ke Aceh.

Apabila dikelola dengan baik, lanjutnya, tradisi ini bukan hanya akan memperkuat identitas budaya Aceh, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.

Selain itu, Fevi menekankan pentingnya memperkenalkan Khanduri Asyura kepada generasi muda agar mereka memahami akar budaya yang diwariskan para leluhur. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Bagi Aceh, melestarikan Khanduri Asyura berarti menjaga warisan leluhur. Sementara mengembangkan potensinya sebagai wisata budaya merupakan langkah membuka peluang ekonomi di masa depan. Keduanya harus berjalan seiring agar Aceh tetap berbudaya, berdaya saing, dan berakar kuat pada nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu,” kata Fevi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News