NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Harapan baru bagi sektor minyak dan gas (migas) di Aceh kembali mengemuka seiring rencana pengembangan proyek Floating Production Storage and Offloading (FPSO) South Andaman. Proyek yang diperkirakan bernilai investasi triliunan rupiah tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat Aceh.
FPSO South Andaman nantinya akan menjadi pusat pengolahan gas alam di perairan Selat Malaka, yang berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya. Proyek strategis nasional ini juga diproyeksikan beroperasi selama lebih dari dua dekade, sehingga membutuhkan rantai pasok yang besar dan berkelanjutan.
Dosen Teknik Kebumian Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Teuku Andika Rama Putra, menilai masyarakat Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proyek migas berskala besar tersebut. Menurutnya, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Aceh harus diberi ruang untuk terlibat dalam berbagai kebutuhan operasional proyek.
Berdasarkan praktik operasi FPSO di berbagai negara, kebutuhan yang muncul mencakup berbagai sektor, mulai dari jasa katering, transportasi laut, fabrikasi dan pengelasan, penyediaan alat keselamatan kerja, hingga pengelolaan limbah industri.
Andika, yang merupakan lulusan University of Colorado, Amerika Serikat, menyebut peluang tersebut berpotensi menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Aceh. Selain itu, keterlibatan UMKM lokal diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanah Rencong.
” Pemerintah melalui SKK Migas dan KKKS Mubadala perlu membuka peta kebutuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk FPSO South Andaman secara transparan.
Jika UMKM Aceh mengetahui kebutuhan tersebut sejak dini, kami bisa mempersiapkan diri, mengikuti sertifikasi, dan naik kelas menjadi pemasok resmi. Gasnya untuk energi nasional, tetapi dampak ekonominya harus dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh,” ujar dosen senior USK tersebut.




