Mahasiswa Aceh di Yogyakarta Siap Kawal Isu Beutong Ateuh ke Tingkat Nasional

Share

NUKILAN.ID | YOGYAKARTA – Puluhan mahasiswa Aceh bersama masyarakat umum yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan ruang hidup masyarakat di Aceh menghadiri diskusi umum bertajuk “Surah: Beutong Ateuh” yang digelar Gerakan Surah Buku (GSB) di Balee Gadeng, Yogyakarta, Senin (16/6/2026) malam.

Diskusi yang mengangkat tema “Dari Konflik ke Konflik” tersebut menghadirkan tiga tokoh yang berasal langsung dari Beutong Ateuh Banggala, yakni Saudah atau Mak Wod selaku Inisiator Perempuan Beutong Bersatu, Tgk. Malikul Mahdi yang merupakan Tokoh Pemuda Beutong Ateuh sekaligus putra almarhum Tgk. Bantaqiah, serta Tgk. Diwa Laksana yang dikenal sebagai Tokoh Adat dan Pawang Hutan Beutong Ateuh.

Kegiatan ini juga turut dihadiri wartawan senior dan sutradara dokumenter Indonesia, Dandhy Laksono, yang selama ini dikenal aktif mengangkat isu-isu kerusakan lingkungan dan perjuangan masyarakat adat melalui karya-karyanya.

Dalam forum tersebut, para narasumber memaparkan berbagai persoalan yang saat ini dihadapi masyarakat Beutong Ateuh. Mulai dari meningkatnya eskalasi konflik, dugaan intimidasi struktural, hingga ancaman kerusakan ekologis dan situs-situs bersejarah akibat ekspansi industri pertambangan di kawasan tersebut.

Situasi tersebut mendapat perhatian serius dari mahasiswa Aceh yang berada di Yogyakarta. Dalam forum itu, mereka menyatakan kesiapan untuk mengonsolidasikan gerakan dan mengawal isu Beutong Ateuh agar mendapat perhatian lebih luas di tingkat nasional.

Tgk. Malikul Mahdi mengingatkan bahwa Beutong Ateuh memiliki posisi penting, baik secara geografis, historis maupun ekologis. Menurutnya, wilayah tersebut merupakan titik sentral di Aceh, memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan karena kawasan hutannya berbatasan langsung dengan Kawasan Ekosistem Leuser.

Ia juga menegaskan bahwa Beutong Ateuh merupakan wilayah pertahanan terakhir Cut Nyak Dhien yang seharusnya dihormati dan dijaga keberadaannya. Karena itu, menurutnya, eksploitasi sumber daya yang dipaksakan di wilayah tersebut bukan hanya persoalan agraria semata, melainkan ancaman terhadap sejarah, memori kolektif masyarakat, ekologi, serta sumber-sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan warga.

Sementara itu, Mak Wod menyoroti dinamika yang terjadi di lapangan. Ia menjelaskan bahwa aksi penolakan warga terhadap aktivitas pertambangan pada 12 Mei lalu direspons dengan aksi tandingan yang melibatkan geuchik dan camat pada keesokan harinya.

Menurutnya, sempat terjadi pemblokiran jalan yang bertujuan menghambat kedatangan Bupati Nagan Raya ke lokasi. Namun yang hadir justru aparat keamanan, bukan kepala daerah. Mak Wod juga menyayangkan sikap Bupati Nagan Raya yang merupakan putra asli Beutong, tetapi dinilai terus menggulirkan narasi yang tidak berpihak pada upaya pelestarian lingkungan dengan menyatakan bahwa aktivitas industri tersebut tidak menimbulkan kerusakan alam.

Di sisi lain, Tgk. Diwa Laksana menyampaikan bahwa masyarakat saat ini telah siap mempertahankan wilayah mereka dengan segala kemampuan yang dimiliki. Ia bahkan menyebut bahwa rezim yang berkuasa saat ini bertindak lebih keras dibandingkan penjajah masa lalu.

“penjajah sekarang lebih Belanda dari Belanda”

Selain itu, ia juga mengkritik berbagai janji pemerintah yang dinilai tidak pernah terealisasi.

“Cet Langet”

Menurut Tgk. Diwa, masyarakat kini tengah berupaya memperjuangkan pengakuan wilayah otoritas adat, perlindungan kawasan ekologis, serta mendesak agar Beutong Ateuh dikeluarkan secara permanen dari zona pertambangan.

Dukungan terhadap perjuangan masyarakat Beutong Ateuh juga datang dari Dandhy Laksono. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan kesediaannya untuk turut membantu menyuarakan persoalan yang dihadapi masyarakat setempat.

Dandhy mengatakan dirinya siap menjalin koneksi dan menghubungkan aspirasi masyarakat Beutong Ateuh dengan berbagai jaringan lembaga swadaya masyarakat serta kalangan pemerhati lingkungan yang selama ini bekerja dalam isu-isu perlindungan alam dan hak-hak masyarakat adat.

Pada sesi penutupan, seluruh narasumber secara khusus meminta mahasiswa Aceh yang berada di luar daerah, terutama di Yogyakarta, agar mengambil peran lebih aktif dalam menyuarakan kondisi Beutong Ateuh. Mereka berharap mahasiswa dapat menjadi penyambung lidah masyarakat sekaligus mengamplifikasi berbagai persoalan yang tengah dihadapi kawasan tersebut.

Sebagai bentuk komitmen bersama, seluruh peserta yang hadir menutup diskusi dengan pernyataan dukungan untuk terus mengawal dan memperjuangkan keberlangsungan ruang hidup masyarakat Beutong Ateuh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img

Read more

Local News