Mengenang dr. Zaini Abdullah: Dari Medan Perjuangan Menuju Jalan Damai Aceh

Share

NUKILAN.ID | OPINI – Menulis catatan sejarah Aceh modern tanpa menyebut nama dr. H. Zaini Abdullah adalah sebuah kekeliruan besar. Sosok yang akrab disapa Abu Doto ini bukan sekadar mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017.

Lebih dari itu, beliau adalah jembatan hidup yang menghubungkan era pergolakan bersenjata, diplomasi pengasingan di Swedia, hingga fajar perdamaian yang kini dinikmati oleh seluruh rakyat Serambi Mekkah.

Lahir di Pidie pada tahun 1940, Zaini Abdullah sejatinya memulai karier yang mapan sebagai seorang dokter spesialis. Namun, panggilan ideologis membuatnya memilih jalan sunyi yang terjal: bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976 dan mendampingi sang deklarator, Hasan di Tiro.

Pilihan hidup ini membawanya ke pengasingan panjang di Swedia selama puluhan tahun, memimpin diplomasi luar negeri, sekaligus tetap menjalankan profesinya sebagai dokter.

Namun, jasa terbesar Abu Doto bagi Indonesia dan Aceh justru terletak pada keberaniannya untuk mengubur mimpi masa lalu demi masa depan yang lebih baik.
Ketika pintu rekonsiliasi terbuka pasca-tsunami 2004, Zaini Abdullah menjadi salah satu pilar utama di balik meja perundingan yang melahirkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Mengubah haluan dari konfrontasi bersenjata menjadi kesepakatan politik di bawah panji NKRI membutuhkan kebesaran hati yang luar biasa. Kutipan puitis beliau yang terkenal, “Damai telah kita sepakati, mimpi memerdekakan Aceh sudah kami lupakan. Senjata GAM sudah kita potong bersama-sama,” menjadi bukti otentik betapa komitmennya terhadap perdamaian tidak perlu diragukan lagi.

Saat terpilih menjadi Gubernur Aceh pada Pilkada 2012 bersama Muzakir Manaf, Abu Doto dihadapkan pada realitas baru: merawat damai lewat pembangunan ekonomi dan sosial.

Transisi dari seorang tokoh pergerakan di pengasingan menjadi seorang birokrat tulen tentu bukan hal mudah, dan masa pemerintahannya tidak luput dari dinamika politik serta kritik. Namun, jika kita melihat secara objektif, masa kepemimpinannya menorehkan beberapa legasi fundamental yang dampaknya dirasakan hingga hari ini:

Penguatan Syariat Islam dan Sinergi Ulama-Umara: Di bawah kepemimpinannya, hubungan antara pemerintah (umara) dan ulama karismatik Aceh terjalin sangat erat. Beliau sangat mendengarkan masukan para ulama dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan keberlangsungan pendidikan di dayah/pesantren tradisional.

Transformasi Bank Aceh Menjadi Syariah: Salah satu kebijakan paling berani dan monumental pada masanya adalah mengonversi Bank Aceh (bank konvensional milik daerah) menjadi Bank Aceh Syariah secara penuh. Ini menjadi preseden nasional bagi konversi bank daerah lainnya di Indonesia.

Modernisasi Landmark Aceh dan Pembangunan Infrastruktur Publik: Renovasi besar-besaran Masjid Raya Baiturrahman dengan pemasangan payung-payung elektrik raksasa layaknya Masjid Nabawi di Madinah dilakukan pada era beliau.

Proyek ini menegaskan identitas spiritual sekaligus estetika kota Banda Aceh. Selain itu, pembangunan jembatan Lham Nyong dan Krung Cut menjadi dua jalur, jembatan baru Lam Rheung, serta pelebaran jalan KKA – Gunung Salak juga merupakan warisan besar beliau.

Konsistensi Mengawal UUPA: Beliau dikenal vokal dan gigih menagih janji pemerintah pusat terkait realisasi seluruh regulasi turunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) agar hak-hak kekhususan Aceh dapat berjalan maksimal.

Dengan segala jasa beliau, Zaini Abdullah dapat kita sandangkan sebagai potret seorang mentor bangsa. Beliau telah menuntaskan tugas sejarahnya dengan baik: membawa pasukannya turun dari gunung, meletakkan senjata, menandatangani perdamaian, dan memimpin transisi demokrasi secara konstitusional.

Jasa terbesar dr. Zaini Abdullah bukan sekadar fasilitas fisik yang ia bangun selama menjabat sebagai gubernur, melainkan warisan kedamaian, stabilitas politik, dan rasa bangga sebagai orang Aceh yang bermartabat di dalam bingkai NKRI.

Beliau adalah pengingat bagi generasi muda Aceh hari ini, bahwa ongkos konflik itu sangat mahal, dan merawat perdamaian adalah tugas suci yang harus diteruskan bersama.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Penulis: T. Auliya Rahman (Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, Mahasiswa Program Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

spot_img

Read more

Local News