NUKILAN.ID | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi sebesar 0,60 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Aceh mencapai 5,12 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, SST, MSi, mengatakan kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di Aceh selama Mei 2026.
“Pada Mei 2026 terjadi inflasi bulanan sebesar 0,60 persen dan inflasi tahunan sebesar 5,12 persen di Provinsi Aceh. Penyumbang utama inflasi baik secara bulanan maupun tahunan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Agus Andria dalam siaran langsung berita resmi statistik BPS Aceh, dikutip Nukilan, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,96 persen dengan andil 0,37 persen terhadap inflasi bulanan Aceh. Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga memberikan andil cukup besar sebesar 0,14 persen.
Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Tomat memberikan andil terbesar sebesar 0,30 persen, diikuti cabai merah 0,19 persen, bahan bakar rumah tangga 0,12 persen, minyak goreng 0,04 persen, serta nasi dengan lauk sebesar 0,03 persen.
Sementara itu, beberapa komoditas menahan laju inflasi dengan mencatatkan deflasi, antara lain daging ayam ras yang menyumbang deflasi 0,10 persen, ikan tongkol 0,08 persen, ikan dencis 0,05 persen, emas perhiasan 0,04 persen, dan telur ayam ras 0,04 persen.
Agus menjelaskan, secara tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 2,59 persen. Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi tahunan antara lain beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), tomat, minyak goreng, Sigaret Kretek Tangan (SKT), daging ayam ras, ikan tongkol, dan ikan bandeng.
“Penyumbang utama inflasi tahunan masih berasal dari komoditas pangan dan tembakau, terutama beras, SKM, tomat, serta minyak goreng,” ujarnya.
Dari sisi wilayah, inflasi tahunan tertinggi pada Mei 2026 terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 6,09 persen, disusul Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 5,69 persen. Sementara inflasi terendah tercatat di Meulaboh sebesar 3,99 persen. Kota Banda Aceh mengalami inflasi tahunan 4,77 persen dan Kota Lhokseumawe sebesar 4,62 persen.
Untuk inflasi bulanan, Kota Banda Aceh menjadi daerah dengan kenaikan harga tertinggi sebesar 0,93 persen, sedangkan Kota Lhokseumawe mencatat inflasi terendah sebesar 0,03 persen.
BPS Aceh menilai perkembangan harga komoditas pangan strategis masih menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika inflasi di daerah. Oleh karena itu, stabilisasi pasokan dan kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok dinilai penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada bulan-bulan berikutnya. []
Reporter: Sammy



