Melihat Aceh dari Kacamata Seorang Komika Australia

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Sore itu, Minggu (17/5/2025), suasana di Museum Aceh terasa lebih tenang dari biasanya. Langit Banda Aceh yang teduh menaungi kompleks museum yang berdiri di jantung kota, sementara langkah-langkah pengunjung terdengar samar di antara bangunan bersejarah dan koleksi budaya yang tersimpan di dalamnya.

Belum memasuki musim liburan membuat museum tersebut tidak dipadati wisatawan. Namun, ketenangan itu justru menghadirkan suasana yang nyaman bagi para pengunjung untuk menikmati jejak sejarah dan kebudayaan Aceh. Beberapa wisatawan tampak berjalan santai menyusuri ruang pameran, sesekali berhenti memperhatikan artefak peninggalan masa lalu yang menjadi saksi perjalanan panjang Tanah Rencong.

Sejumlah wisatawan mancanegara tetap terlihat berkunjung. Ada yang datang bersama pemandu wisata, ada pula yang memilih menjelajah museum seorang diri, menikmati kisah-kisah sejarah yang tersimpan di setiap sudut bangunan. Ketenangan sore itu seolah memberi ruang bagi mereka untuk lebih dekat mengenal Aceh melalui warisan budaya yang dipamerkan.

Di tengah suasana yang tenang itu, seorang pria asing tampak berjalan perlahan dari satu etalase ke etalase lainnya. Sesekali ia berhenti, membaca keterangan koleksi dengan saksama, lalu mengamati benda-benda yang merekam perjalanan panjang Tanah Rencong.

Penulis kemudian menghampiri dan memperkenalkan diri. Pria bertubuh tinggi dengan rambut pirang, berkacamata, mengenakan kaus hitam dan topi itu menyambut sapaan tersebut dengan senyum ramah.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Thomas Begg, atau yang akrab disapa Tom, seorang komika asal Australia yang tengah menjalani perjalanan panjang menjelajahi Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Di tengah koleksi sejarah yang tersimpan di Ruang Pameran Tetap Museum Aceh, Tom dengan ramah meluangkan waktu untuk berbincang. Ia kemudian menceritakan alasan yang membawanya ke Aceh, sekaligus membagikan kesan-kesannya.

Bagi Tom, Aceh bukanlah tujuan wisata yang muncul begitu saja dalam rencana perjalanannya.

Ada alasan historis dan emosional yang membuatnya ingin datang.

“Saya ingin menjelajahi Sumatra, dan Aceh menjadi salah satu tempat yang ingin saya kunjungi dalam perjalanan dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Namun lebih dari itu, ada satu peristiwa yang sejak lama menempel dalam ingatannya: tsunami Samudra Hindia tahun 2004.

Ketika bencana itu terjadi, Tom masih remaja berusia 14 tahun di Australia. Ia masih mengingat bagaimana berita tentang tsunami mendominasi layar televisi sehari setelah Natal.

“Bagi saya, itu salah satu momen besar dalam sejarah dunia yang kita lihat saat kecil dan terus kita ingat sampai dewasa,” ujarnya.

Ingatan tentang tsunami itulah yang kemudian menumbuhkan rasa ingin tahu tentang Aceh.

Tak hanya itu. Saat pernah tinggal di Penang, Malaysia, ia juga menemukan bahwa Aceh memiliki jejak penting dalam sejarah kawasan tersebut. Dari sana, ketertarikannya terhadap Aceh semakin besar.

Maka Museum Aceh menjadi salah satu tujuan pertamanya ketika menginjakkan kaki di Banda Aceh.

“Museum selalu menjadi cara yang mudah untuk memahami sebuah budaya,” katanya.

Di dalam museum, Tom menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

Selama ini ia sudah mengetahui bahwa masyarakat Aceh memiliki identitas yang berbeda dibandingkan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya. Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa Aceh memiliki begitu banyak kelompok etnis dengan bahasa dan budaya yang beragam.

“Bagian tentang etnis adalah yang paling menarik bagi saya,” katanya.

Ia mengaku baru mengetahui bahwa Aceh terdiri dari berbagai etnis yang masing-masing memiliki bahasa dan tradisinya sendiri.

Pengetahuan baru itu bahkan membawanya pada pengalaman yang mengundang tawa.

Dengan antusias, ia bercerita bahwa pagi sebelumnya ia baru belajar mengucapkan salam dalam bahasa Aceh. Kalimat pertama yang berhasil ia hafal adalah “Selamat Buengoh”, yang berarti selamat pagi.

“Saya belajar mengatakan ‘Selamat Buengoh’,” ujarnya sambil tersenyum.

Berbekal kosakata baru tersebut, ia kemudian mencoba menyapa beberapa orang yang ditemuinya di Banda Aceh. Namun, respons yang diterimanya tidak selalu sesuai harapan. Alih-alih mendapat balasan yang sama, beberapa orang justru tampak kebingungan.

Belakangan, ia baru memahami penyebabnya. Banda Aceh merupakan daerah yang dihuni beragam kelompok etnis dan penutur bahasa daerah yang berbeda. Tidak semua warga menggunakan dialek atau bahasa Aceh yang sama dalam percakapan sehari-hari.

“Saya baru sadar bahwa yang saya ucapkan mungkin tidak dipahami oleh semua orang,” katanya sembari tertawa.

Pengalaman sederhana itu justru membuka matanya tentang kompleksitas identitas budaya Aceh.

Ia juga terpukau melihat pakaian adat yang berbeda-beda dari setiap kelompok etnis. Menurutnya, keberagaman itu menarik karena di saat yang sama seluruh kelompok tersebut tetap memiliki identitas bersama sebagai orang Aceh.

“Walaupun berbeda etnis, mereka tetap merasa sebagai orang Aceh. Itu menarik,” ujarnya.

Selain keberagaman etnis yang ia temui, Tom juga dibuat kagum oleh jejak sejarah Aceh yang menempatkan perempuan pada posisi penting dalam perjalanan peradaban daerah tersebut.

Selama mengunjungi Museum Aceh, ia menemukan berbagai fakta sejarah yang menunjukkan kuatnya peran perempuan, mulai dari para sultanah yang pernah memimpin Kesultanan Aceh hingga tokoh laksamana perempuan yang dikenal sebagai salah satu pemimpin armada laut perempuan pertama dalam sejarah dunia.

Menurut Tom, catatan sejarah tersebut menjadi sesuatu yang unik dan jarang ditemui di banyak tempat lain.

“Saya sangat terkesan. Banyak tokoh penting dalam sejarah Aceh adalah perempuan. Ada sultanah yang memimpin kerajaan, ada juga laksamana perempuan. Bahkan banyak pahlawan nasional dari Aceh yang merupakan perempuan. Saya pikir itu sangat menarik,” ujarnya.

Tom sedang membuat vlog
Tom merekam vlog di Museum Aceh sambil menelusuri jejak sejarah perempuan Aceh, termasuk para sultanah yang pernah memimpin Kesultanan Aceh. (Foto: Akil)

Bagi Tom, fakta tersebut menunjukkan bahwa perempuan di Aceh telah memainkan peran strategis dalam bidang pemerintahan, militer, dan perjuangan jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi pembahasan global seperti saat ini.

Keberadaan tokoh-tokoh perempuan itu, menurutnya, menjadi salah satu kekayaan sejarah yang membuat Aceh berbeda dan layak dipelajari lebih jauh oleh masyarakat dunia.

Bagi Tom, kunjungannya ke Aceh menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dari gambaran yang selama ini ia kenal dari buku, berita, maupun tayangan televisi.

Sebelum menginjakkan kaki di Tanah Rencong, pengetahuannya tentang Aceh masih terbatas pada beberapa hal yang kerap muncul dalam berbagai literatur: daerah yang pernah diterjang tsunami dahsyat, pintu masuk awal penyebaran Islam di Nusantara, wilayah yang dikenal religius, serta memiliki sejarah perjuangan politik yang panjang.

Namun, setelah melihat langsung kehidupan masyarakat Aceh, Tom menemukan sisi lain yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Sebagian gambaran yang ia ketahui memang terbukti. Jejak sejarah Islam masih terlihat kuat, begitu pula ingatan kolektif masyarakat terhadap tragedi tsunami 2004. Akan tetapi, ada pengalaman emosional yang menurutnya mustahil diperoleh hanya dari membaca atau menonton.

“Saya bisa merasakan kesedihan akibat tsunami ketika berada di sini,” ujar Tom dengan nada pelan.

Bencana yang selama ini hanya ia lihat melalui layar televisi kini terasa lebih nyata ketika ia berdiri di tanah yang pernah porak-poranda diterjang gelombang.

Ketika ditanya tentang kesannya terhadap Aceh, Tom sempat terdiam beberapa saat. Wisatawan mancanegara itu mengaku baru menghabiskan satu hingga dua hari di Tanah Rencong, sehingga merasa belum cukup lama untuk memahami daerah ini secara mendalam.

Meski demikian, pria tersebut berusaha merangkum kesan yang ia tangkap selama kunjungannya ke Aceh, termasuk dari berbagai koleksi sejarah yang dipamerkan di museum.

Awalnya, Tom mengaku kesulitan menemukan satu kata yang benar-benar tepat untuk menggambarkan Aceh. Namun, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah foto pahlawan perempuan Aceh yang terpajang di ruang pamer.

Sosok itu adalah Cut Nyak Dien.

Menurut Tom, sorot mata dan ekspresi wajah Cut Nyak Dien menyimpan karakter yang mencerminkan masyarakat Aceh.

“Ketegasan. Kekuatan,” ujarnya singkat.

Bagi Tom, Aceh merupakan daerah yang memiliki kepercayaan diri kuat terhadap identitas budayanya. Ia melihat masyarakat Aceh sebagai komunitas yang memahami akar sejarahnya, memegang teguh keyakinan yang dianut, serta tetap berdiri kokoh di tengah berbagai perubahan zaman.

Kesan itu, kata Tom, tidak hanya ia temukan melalui cerita sejarah yang dibacanya, tetapi juga tergambar dari sosok Cut Nyak Dien yang menjadi simbol perjuangan rakyat Aceh.

“Lihat saja wajah Cut Nyak Dien. Itulah kesan yang saya dapatkan tentang Aceh,” katanya.

Pernyataan singkat itu seolah merangkum bagaimana seorang pengunjung yang baru beberapa hari berada di Aceh mampu menangkap citra daerah ini: kuat, tegas, dan bangga terhadap jati dirinya.

Sore perlahan merambat menuju senja ketika percakapan itu berakhir. Tanpa terasa, langkah kami telah membawa keluar dari ruang pameran Museum Aceh. Penulis mengucapkan terima kasih atas kesediaannya berbagi cerita dan kesan selama berkunjung ke Aceh. Dengan ramah, Tom membalas ucapan tersebut sebelum kembali melanjutkan langkahnya menyusuri sudut-sudut museum yang belum sempat ia jelajahi.

Dan bagi seorang komika dari Australia yang baru menghabiskan dua hari di Tanah Rencong, Aceh mungkin belum sepenuhnya selesai dipahami. Tetapi dari balik koleksi museum, keberagaman etnis, kisah para perempuan tangguh, dan jejak tsunami yang tak pernah benar-benar hilang, ia menemukan satu kesan yang akan dibawanya pulang: sebuah negeri dengan kekuatan yang tegas, setegas tatapan Cut Nyak Dien yang menembus waktu. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News